Doa Nabi Yunus AS, 'Laa ilaaha illaa anta subhaanaka inni kuntu minazh-zhaalimiin' mengalun dalam Doa dan Dzikir Bersama para Jurnalis di Alun-alun Kota Malang, pada Jumat (11/9) malam.
Doa digelar sebagai bentuk solidaritas sekaligus ikhtiar untuk 5 Jurnalis dan 3 kru yang hilang kontak saat liputan Anak Krakatau.
Puluhan Jurnalis duduk melingkar membaca rangkaian doa dan dzikir, dengan penuh harapan keselamatan bagi 8 orang yang hilang di Selat Sunda tersebut.
Doa berlangsung penuh khidmat dan haru. Jurnalis yang hadir menundukkan kepala dan beberapa tidak mampu menahan air mata saat nama korban hilang disebut satu per satu dalam doa.
Wartawan senior, Yatimul Ainun didaulat memimpin doa. Dalam pengantarnya, Ia mengajak para jurnalis mengingat kisah Nabi Yunus AS yang berada dalam perut ikan paus dengan kondisi yang penuh keterbatasan. Nabi Yunus AS tidak putus asa dan tetap berharap datangnya pertolongan Allah SWT.
Ainun mengajak, lewat doa untuk memohon pertolongan Allah agar memberikan keselamatan, petunjuk, serta segera ditemukan.
"Semoga mereka dapat segera kembali kepada keluarga, kepada rekan-rekan seprofesi, dan kembali menjalankan tugas jurnalistik," ucapnya.
Doa bersama untuk 5 Jurnalis Hilang Kontak Liputan Anak Krakatau diinisiasi oleh Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Malang, Pewarta Foto Indonesia (PFI) Malang, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Malang, dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Malang.
Hila Daningntyas, koordinator aksi mengatakan, doa yang dipanjatkan sebagai bentuk dukungan serta harapan atas keselamatan mereka.
"Sampai hari ini, belum ada kabar keberadaan teman-teman jurnalis. Saya bisa merasakan betapa sedihnya keluarga karena saya juga punya anak dan suami," katanya.
Hilda dan para jurnalis yang hadir berharap segera ada kabar baik. Ada keluarga yang was-was menunggu kedatangan para jurnalis dan kru di rumah.
"Ketika yang lain menghindari bencana, jurnalis justru mendatangi. Bukan karena kami tidak takut, tapi karena kami ingin mengabarkan informasi terbaru untuk masyarakat. Tujuan kita memang membuat berita yang bagus, tapi tujuan paling utama lagi adalah pulang ke rumah dan berkumpul dengan selamat. Kita tidak tahu, tapi semoga doa dari Malang ini terkabul," seru Hilda.
Advertisement
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat juga turut hadir dalam doa bersama. Wahyu turut bergabung duduk bersama jurnalis dan berharap keselamatan bagi para jurnalis dan kru.
"Kami ikut mendoakan, semoga segera ditemukan dalam kondisi yang baik," kata Wahyu.
Lima jurnalis hilang masing-masing adalah Muhammad Bagus Khoirunnas – Pewarta foto Kantor Berita ANTARA (Biro Banten), Arie Basuki – Pewarta foto senior Merdeka.com, Yudistiro Pranoto – Jurnalis iNews, Firdaus Wajidi – Jurnalis visual Anadolu Agency, dan Donal Husni – Jurnalis lepas (freelance).
Sedangkan tiga kru yang hilang adalah Warta – Kapten/Nakhoda kapal, Surakman – Anak Buah Kapal (ABK), dan Heriyanto – Pemandu (guide). Mereka berdelapan berangkat menggunakan speedboat. Sekadar informasi, para jurnalis dan kru berangkat pada Senin pukul 7:00, pukul 14:00 WIB. Rombongan bertolak menggunakan sebuah speedboat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten. Tujuan mereka adalah mendekati kawasan perairan Gunung Anak Krakatau untuk memantau dan meliput langsung aktivitas erupsi gunung tersebut.
Pukul 14.42 WIB, Salah satu jurnalis sempat membagikan informasi lokasi terakhirnya kepada rekan sesama jurnalis di Lampung.
Pukul 15.04 WIB, Komunikasi terakhir tercatat ketika salah satu rekan di darat kehilangan kontak dengan M. Bagus Khoirunnas (jurnalis ANTARA).
Pukul 16.00 WIB, Heriyanto, pemandu wisata di kapal tersebut, sempat mengirimkan foto kepada istrinya yang mengabarkan bahwa posisi mereka sedang berada di sekitar Gunung Anak Krakatau dalam kondisi aman.
Setelah itu, tidak ada lagi kabar atau tanda-tanda dari rombongan. Karena rombongan tidak kunjung kembali ke daratan hingga malam hari dan gagal dihubungi, pihak keluarga serta perwakilan media resmi melaporkan kejadian hilang kontak ini ke Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Banten pada siang hari pukul 13.55 WIB. Hingga Minggu (113/9), masih belum ada kabar keberadaan mereka.