Kebakaran TPA Putri Cempo Belum Padam, Solo Diselimuti Asap Bikin Sesak Napas

Keluhan tersebut terutama dirasakan lansia, balita, dan warga yang memiliki penyakit bawaan.

Arief Pramono
Oleh Arief Pramono - Reporter
Kebakaran TPA Putri Cempo Belum Padam, Solo Diselimuti Asap Bikin Sesak Napas
Update Kebakaran TPA Putri Cempo di Solo Tak Kunjung Padam, Helikopter Polri 56 Kali Lakukan Water Bombing

Asap pekat dari kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo, Kota Surakarta, Jawa Tengah, mulai mengganggu kesehatan warga di sekitarnya. Sejumlah masyarakat mengeluhkan batuk, pilek, radang tenggorokan, hingga sesak napas.

Keluhan tersebut terutama dirasakan lansia, balita, dan warga yang memiliki penyakit bawaan. Di tengah asap yang masih menyelimuti kawasan permukiman, ratusan warga Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, mendatangi posko kesehatan untuk memeriksakan kondisi mereka.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengerahkan tim Dokter Spesialis Keliling (Speling) untuk memberikan pemeriksaan dan pengobatan kepada masyarakat terdampak.

Posko kesehatan yang berada di Kelurahan Mojosongo itu melayani berbagai keluhan yang berpotensi muncul akibat paparan asap kebakaran, mulai dari gangguan saluran pernapasan, iritasi mata, hingga masalah telinga, hidung, dan tenggorokan (THT).

Tim dokter yang diterjunkan berasal dari RSUD dr Moewardi Surakarta dan RSJD Arief Zainuddin Surakarta. Petugas kesehatan juga disiagakan di sekitar kawasan TPA Putri Cempo selama 24 jam untuk mengantisipasi warga yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Selain layanan medis, warga terdampak menerima bantuan logistik berupa makanan dan masker. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko kesehatan selama asap kebakaran masih berpotensi mencapai permukiman.

Berdasarkan pantauan Liputan6.com di Kelurahan Mojosongo pada Minggu (6/9/2026), ratusan warga memanfaatkan layanan posko untuk memeriksakan kondisi kesehatan mereka.

Dokter Spesialis Paru RSUD dr Moewardi Surakarta, Hartanto, mengatakan sejumlah warga datang dengan keluhan yang berkaitan dengan gangguan saluran pernapasan.

"Tadi ada beberapa yang konsultasi, mulai radang tenggorokan, batuk, dan sesak napas," ujar Hartanto di lokasi.

Menurut Hartanto, warga yang mengalami gejala respiratorik, termasuk infeksi saluran pernapasan, akan mendapatkan penanganan awal dan pengobatan di posko. Pasien dengan kondisi yang semakin berat akan dirujuk ke rumah sakit.

"Apabila gejala semakin memberat, maka langsung dirujuk ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut," katanya.

Selain memberikan pengobatan, tim kesehatan mengedukasi warga mengenai cara mengurangi paparan asap selama kebakaran TPA Putri Cempo belum sepenuhnya padam.

Masyarakat diminta memperhatikan sirkulasi udara di dalam rumah. Penggunaan air purifier dapat membantu menyaring udara. Jika tidak tersedia, warga disarankan menutup pintu dan jendela agar asap serta debu dari luar tidak mudah masuk.

"Solusi kedua ketika keluar rumah maupun di dalam rumah juga memakai masker medis," terangnya.

 

Warga Keluhkan Sesak Napas

Dampak asap kebakaran TPA Putri Cempo mulai dirasakan warga sejak hari kedua hingga hari kelima kebakaran. Fitri, salah seorang warga Kelurahan Mojosongo, mengatakan keluhan batuk, pilek, hingga sesak napas mulai muncul di lingkungan tempat tinggalnya.

Menurut Fitri, sesak napas paling banyak dirasakan lansia dan warga yang memiliki penyakit bawaan. Kondisi tersebut membuat masyarakat semakin khawatir karena kebakaran belum benar-benar padam.

"Sesak napas banyak dialami oleh lansia atau warga yang memiliki penyakit bawaan. Saya sudah mengalami gejala batuk-pilek termasuk anak saya yang masih balita," tuturnya.

Fitri menilai keberadaan posko kesehatan dengan dukungan dokter spesialis keliling sangat membantu warga. Masyarakat tidak perlu pergi jauh untuk mendapatkan layanan medis di tengah kondisi lingkungan yang masih terdampak asap.

Keluhan serupa disampaikan Sunarni. Ia mengatakan sesak napas mulai dirasakan sejumlah warga, terutama mereka yang memiliki riwayat penyakit pernapasan dan kelompok lanjut usia.

Sunarni berharap kebakaran TPA Putri Cempo menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki sistem pengelolaan sampah di Kota Surakarta. Ia tidak ingin kejadian serupa kembali mengganggu kehidupan warga sekitar.

"Harapannya mudah-mudahan tahun depan tidak begini lagi, pengelolaan sampah juga lebih baik," pinta perempuan warga Kelurahan Mojosongo tersebut.

 

Kualitas Udara Dipantau

Selain menyiagakan layanan kesehatan, pemerintah melakukan pemantauan kualitas udara di sekitar TPA Putri Cempo. Kementerian Lingkungan Hidup telah menurunkan mobil pemantau kualitas udara untuk mengetahui kondisi lingkungan serta mengantisipasi dampak kebakaran terhadap masyarakat.

Kebakaran TPA Putri Cempo terjadi pada Rabu (2/9/2026). Api membakar timbulan sampah di kawasan tersebut.

Proses pemadaman melibatkan dinas pemadam kebakaran dari sejumlah kabupaten dan kota di wilayah Soloraya, Kota Semarang, serta unsur TNI dan Polri.

Besarnya timbulan sampah menjadi salah satu persoalan dalam pengelolaan TPA Putri Cempo. Berdasarkan data Pemerintah Kota Surakarta, timbulan sampah di Kota Solo mencapai 421,48 ton per hari.

Dari jumlah tersebut, sampah yang terkelola tercatat sebanyak 49,73 ton per hari atau sekitar 11,80 persen. Sementara itu, sampah yang belum terkelola mencapai 371,75 ton per hari atau 88,20 persen.

Pemerintah juga mengelola sampah melalui operasional Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), yakni dengan mengolah sampah menjadi energi listrik.

Namun, kebakaran TPA Putri Cempo kembali menunjukkan besarnya tantangan pengelolaan sampah di Kota Surakarta. Bagi warga Mojosongo, persoalan tersebut kini bukan hanya tumpukan sampah, melainkan asap yang masuk ke lingkungan tempat tinggal dan mengganggu kesehatan keluarga.

Selama api dan asap belum sepenuhnya hilang, warga masih harus meningkatkan kewaspadaan. Masker menjadi pelindung sehari-hari, sedangkan posko kesehatan menjadi tempat masyarakat mencari penanganan ketika batuk, sesak napas, atau keluhan lain mulai muncul.

Rekomendasi