Sebanyak 85 kepala keluarga (KK) yang tercatat sebagai korban terdampak pasca kebakaran lahan dan bedeng di Jalan Nakula, Gang Jatayu, Kecamatan Denpasar Barat, Kota Denpasar.
Para korban kebakaran atau warga yang terdampak mengungsi di posko pengungsian Musala Al-Ikhlas tak jauh dari lokasi kebakaran.
Kabid Perlindungan dan Jaminan Sosial (Linjamsos) Dinsos Kota Denpasar, I Gusti Ketut Sudiatmika mengatakan, awalnya korban yang terdata ada 23 KK. Namun, jumlah tersebut bertambah dalam pendataan Selasa (1/9) malam karena pasca kejadian banyak korban yang mengungsi mandiri ke rumah keluarga terdekatnya.
"Kami sedang mengassessment, jumlah KK sekarang adalah 85 KK. Kita catat terus dan itu kan mungkin terus berkembang. Karena saat kejadian mereka terpencar entah ke mana gitu, kami mencoba mencari. Tapi awalnya itu 23 KK," kata Sudiatmika ditemui di lokasi, Rabu (2/9).
Ia menerangkan, tentu kebutuhan yang paling mendasar dibutuhkan para korban adalah bahan sembako dan pakaian. Tetapi, dengan keperdulian masyarakat dan relawan banyak membantu para korban.
"Kebetulan banyak sekali (bantuan) dari masyarakat seperti teman-teman lihat sudah berdatangan. Di samping itu pendataan assessment untuk bantuan itu benar-benar tepat kepada siapa di sini. Biar tidak nanti kalau yang tidak terdampak malah ikut dapat. Makanya kami assessment, kita data alamat dengan (bertanya) pada tokoh-tokoh di sini," imbuhnya.
Ia menyebutkan, untuk pengungsian di fokuskan di Musala Al-Ikhlas karena ada beberapa korban pengungsian mereka pergi mengungsi ke keluarga.
"Saat ini difokuskan di sini saja, di sekitar musala sini saja. Karena saya tanya beberapa katanya ada kerabatnya didekat-dekat sini, ada keluarga. Artinya mereka ikut ke keluarganya," sebutnya.
Kemudian, untuk keamanan balita sudah langsung diatasi oleh tim medis kesehatan yang datang ke lokasi sejak Selasa (1/9) kemarin.
" Kalau untuk balitanya, kemarin kebetulan kita udah langsung kasih bantuan kayak family kids kita utamakan balita. Sudah dari kesehatan (melakukan pemeriksaan) langsung melakukan pengecekan. Dari kemarin setelah kejadian itu langsung pengecekan di dalam, artinya yang kena asap atau dampak asap itu udah dilakukan pengecekan langsung," jelasnya.
Ia menyatakan, dari 85 KK yang terdampak itu dikumpulkan dari KTP-nya dan dari 85 orang berapa banyak warga yang terdampak pihaknya belum bisa memastikan.
"Nanti kami panggil satu-satu berapa sih dalam satu KK-nya. Karena kami tidak tahu (ada berapa orng) dalam satu KK, itu ada yang lima, ada empat, ada dua. Kami belum belum tahu pastinya berapa jiwanya. Yang jelas 85 KK sampai saat ini, kemungkinan berkembang itu ada," ujarnya.
Kemudian, untuk dari Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar, pihaknya mengaku masih berkoordinasi kepada masyarakat untuk penyediaan posko lainnya bagi para korban dan selain itu kebanyakan KK yang dikumpulkan dari luar masyarakat Bali atau pendatang.
"Kami tetap akan berkoordinasi dengan pihak masyarakat di sini. Ke depannya bagaimana, kami akan koordinasi dengan provinsi juga, karena KK-nya sebagian besar itu dari luar Bali," katanya.
Kemudian, terkait korban atau warga yang KK-nya di luar Bali, apakah kedepannya akan dipulangkan ke kampung halamannya, pihaknya masih akan melakukan koordinasi.
"Itu rencananya (mau dipulangkan) makanya kita koordinasi ke provinsi dulu, terkait itu kita perlu komunikasikan. Kita perlu komunikasikan artinya untuk pemulangan juga karena artinya harus benar-benar masyarakat yang dipulangkan pun merasa nyaman," ujarnya.
Kemudian, terkait lahan yang di tempati dari informasi yang didapatkannya adalah lahan yang dikontrakan oleh para warga atau korban. Dan pemilik lahan bukan satu orang saja.
"Saya tadi sempat tanya kepada para korban, ada perorangan karena terbagi-bagi itu. Dia ngontrak perorangannya gitu. Katanya ada (ngontrak) yang punya berapa are. Kami juga berusaha menghubungi (pemilik lahan)," ujarnya.
"Kami berusaha melalui bapak kadus (kepala dusun) kemarin, berusaha menghubungi siapa sih yang punya lahannya, sampai saat ini belum (dapat informasi. Karena saya kira satu orang yang punya tidak, rupanya banyak," ujarnya.
Pihaknya juga sudah menyiapkan untuk sanitasi bagi para warga yang terdampak, dan posko pengungsian akan terus dibuka sampai selesai penanganan atau tertangani.
"Artinya masyarakat itu sudah benar-benar tertangani, sudah selesai," ujarnya.
Sementara, Asmuni salah satu warga yang terdampak kebakaran mengatakan, bahwa perkiraan lebih 100 orang warga yang terdampak kebakaran di lahan tersebut. Dan dalam satu KK kemungkinan ada 2 sampai 4 orang.
"Mungkin yang terdampak lebih 100 orang. Cuma beritanya saat ini yang baru (terdata) 85 KK, mungkin bertambah lagi," ujarnya.
Ia menyampaikan, saat kejadian yang membuat kobaran api membesar karena angin saat itu cukup kencang,"Yang paling parah dari angin besar, dipadamkan, sudah berhenti apinya, angin besar timbul lagi," ujarnya.
Selain itu, warga yang terdampak saat kejadian membuat tenda dari terpal untuk beristirahat dan ada yang tidur di trotoar hingga di jalan-jalan dan ada juga tidak di kendaraan pikap.
"Kemarin ada tidur yang di tutupan trotoar sana, di jalan-jalan. Tidurnya ada yang di pikap," ungkapnya.
Ia menerangkan, untuk bantuan sejak kemarin telah datang baik dari pemerintah maupun relawan maupun masyarakat. Menurutnya, meski ada sejumlah warga yang mengungsi ke rumah kerabat dan pulang kampung ada juga warga terdampak tetap bertahan di lokasi.
"Ada yang (mengungsi) ke rumah saudaranya. Ada yang pulang kampung mendadak itu. Tapi yang bertahan masih banyak, mungkin lebih dari 60-an orang atau lebih soalnya menyebar," ujarnya.
Sebelumnya, peristiwa kebakaran terjadi di bangunan bedeng sekaligus gudang rongsokan di Jalan Nakula, Gang Jatayu, Banjar Mergaya, Desa Pemecutan Klod, Kecamatan Denpasar Barat, Kota Denpasar, Bali.
Kasi Humas Polresta Denpasar Iptu I Gede Adi Saputra Jaya mengatakan, kebakaran pada Senin (31/8) sekitar pukul 22.30 WITA. Hingga kini, polisi masih menyelidiki penyebab kebakaran tersebut.
"Untuk penyebab kebakaran masih dalam proses penyelidikan Polsek Denpasar Barat dan Polresta Denpasar," kata Iptu Adi Saputra, Selasa (1/9) siang.
Penyebab kebakaran itu, diduga kuat dipicu oleh kebocoran gas dari salah satu tabung gas di bedeng warga sebelum akhirnya merembet ke bedeng lainnya.
"Muncul api dari salah satu bedeng. Di mana itu diperkirakan dari gas sehingga merembet ke bedeng-bedeng yang lain," kata Kapolresta Denpasar Kombes Pol Leonardo David Simatupang.
Ia menyebutkan, di kawasan tersebut banyak tumpukan-tumpukan barang rongsokan muda terbakar dan merambat ke seluruh barang-barang bekas yang ada.
"Untuk sementara kita lakukan penyelidikan. Dan informasi sementara tidak ditemukan ada korban jiwa," imbuhnya.
Ia menyebutkan, untuk kesulitan memadamkan api saat kebakaran karena adanya tumpukan barang-barang rongsokan, sehingga yang terbakar di atas dan dibawanya masih ada barang.
"Kami akan datangkan alat berat dan bekerjasama dengan PU Kota Denpasar dan Pemda Kabupaten Badung. Sehingga alat berat nanti untuk bisa menggeser barang-barang itu dan bawahnya bisa dipadamkan oleh petugas pemadam kebakaran," ujarnya.
Sementara, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Denpasar, I Made Tirana, menyebut proses pemadaman api yang membakar bedeng hingga gudang barang rongsok bisa memakan waktu hingga dua sampai tiga hari ke depan.
"Kami masih menunggu alat berat, mudah-mudahan kalau alat beratnya cepat datang, kami bisa cepat tangani. Kurang lebih dua sampai tiga hari," ujar Tirana.
Kemudian, sejak Senin (31/9) malam, Dinas Damkar Kota Denpasar dan Kabupaten Badung sudah mengerahkan 12 unit mobil pemadam kebakaran serta dua unit mobil rescue. Api sempat padam pada dini hari, tapi kembali berkobar pada pagi harinya.
Selain kendala utama petugas di lapangan adalah masih banyaknya titik api yang tertimbun seng di bawah tumpukan rongsokan. Oleh karena itu, pengerahan alat berat berupa ekskavator sangat dibutuhkan untuk membongkar material tersebut.
"Sekarang kami menunggu alat berat ekskavator untuk menggaruk biar bisa (barang) yang di bawah itu naik dan kita semprot lagi," tandasnya.
Advertisement