Yenny Wahid: Chaos dan Marah-Marah Bukan Kultur NU

Yenny menanggapi dinamika Muktamar ke-35 NU, termasuk demonstrasi dan ketegangan setelah muncul keputusan dalam forum muktamar.

Raynaldo Ghiffari Lubabah
Yenny Wahid: Chaos dan Marah-Marah Bukan Kultur NU
Ketua FPTI Yenny Wahid (Liputan6.com/Thomas)

Yenny Wahid menilai aksi demonstrasi yang berujung kericuhan dan perusakan fasilitas tidak mencerminkan tradisi Nahdlatul Ulama (NU). Menurutnya, perbedaan pendapat di lingkungan NU semestinya diselesaikan melalui musyawarah.

“Sebetulnya demonstrasi, lalu kemudian chaos, marah-marah itu bukan kulturnya NU. Kultur NU itu musyawarah. Semua hal, semua perbedaan seyogianya dimusyawarahkan,” kata Yenny di Jombang, Jawa Timur, Sabtu (29/8/2026).

Yenny menanggapi dinamika Muktamar ke-35 NU, termasuk demonstrasi dan ketegangan setelah muncul keputusan dalam forum muktamar.

Menurut putri Presiden ke-4 RI K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tersebut, pihak yang tidak puas terhadap hasil muktamar seharusnya menerima keputusan yang telah disepakati para muktamirin. Kekecewaan, kata dia, tidak semestinya dilampiaskan dengan tindakan anarkis.

“Kalau ada yang kecewa dengan hasil keputusan bukan kemudian dengan cara ngamuk-ngamuk, merusak fasilitas, merusak AC dan lain sebagainya. Itu bukan caranya NU,” ujarnya.

Yenny juga menyinggung keputusan mengenai masa idah politik yang telah disepakati dalam muktamar. Menurutnya, kebijakan tersebut diperlukan untuk menjaga jarak NU dengan partai politik.

Ia menilai jarak tersebut penting agar NU tidak mudah dimasuki kepentingan politik praktis dan tetap bersikap netral terhadap seluruh partai politik.

“NU tetap netral, NU berada di atas semua partai politik, NU itu politiknya kebangsaan,” kata Yenny.

Menurut Yenny, politik kebangsaan NU seharusnya berfokus pada kepentingan rakyat dan bangsa, termasuk menjaga persatuan serta mendorong kesejahteraan masyarakat.

Terkait terbentuknya Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA), Yenny berharap para kiai yang terpilih dapat mengambil keputusan terbaik dalam menentukan Rais Aam dan kandidat Ketua Umum PBNU periode mendatang.

“Semua alim, semuanya fakih. Kita tentu menaruh harapan besar bahwa beliau-beliau itu kemudian bisa mengambil keputusan yang paling pas dalam memilih Rais Aam maupun memilih kandidat ketua umum ke depannya nanti,” katanya.

Yenny berharap seluruh muktamirin dan pihak yang terlibat dapat menerima serta menghormati keputusan yang dihasilkan para ulama demi keberlangsungan NU dalam menghadapi berbagai tantangan pada abad kedua organisasi tersebut.

Rekomendasi