AI makin Canggih, tapi Tidak Bisa Gantikan Hal Ini

Meski AI dapat membantu pekerjaan manusia, namun tidak semua dapat digantikan.

Yacob Billiocta
Oleh Yacob Billiocta - Reporter
AI makin Canggih, tapi Tidak Bisa Gantikan Hal Ini
<p>Ilustrasi AI. Credit: sdecoret/depositphotos.com</p>

Perkembangan AI alias kecerdasan buatan saat ini semakin canggih. Namun tidak semua hal dapat dilakukan AI. Senior Advisor Yayasan Pendidikan Pelita Harapan (YPPH) Niel Nielson menekankan kepada para mahasiswa bahwa AI tidak bisa menggantikan sisi humanis maupun moral manusia.

“AI dapat menghitung, memprediksi, dan memproses data dengan sangat cepat. Namun, AI tidak dapat mengasihi, tidak dapat membedakan kebaikan dan kejahatan secara moral, serta tidak dapat berkorban bagi orang lain," kata Niel Nielson dalam kegiatan Founder's 5K Run sebagai rangkaian Universitas Pelita Harapan (UPH) Festival 2026, Minggu (30/8/2026).

Dia juga mengajak mahasiswa memahami teknologi AI sebagai alat yang akan mengubah berbagai profesi, mulai dari medis, hukum, teknik hingga bisnis. Namun penggunaan AI tetap harus disertai daya kritis, bijaksana, bertanggung jawab dan kemampuan menjaga relasi antarmanusia.

"AI adalah pelayan yang sangat baik, tetapi jangan pernah menjadikannya sebagai tuan atas hidup Anda," tuturnya.

Founder’s 5K Run merupakan tradisi UPH yang mempertemukan mahasiswa baru, dosen, staf dan pimpinan universitas dalam pengalaman bersama. Ribuan peserta berlari sejauh lima kilometer dengan membawa pesan finish what you start. Pesan ini mengajak mahasiswa baru untuk berkomitmen agar menyelesaikan apa yang telah dimulai dan menjalani setiap proses dengan tekun.

Sementara itu Andry M. Panjaitan selaku Associate Vice President Student Development, Alumni, and Corporate Relations UPH mengajak mahasiswa mengenali dan mengembangkan talenta serta panggilan Tuhan melalui proses belajar, tantangan, komunitas, dan berbagai kesempatan untuk memimpin.

Andry juga menekankan lima prinsip yang dapat menjadi panduan mahasiswa selama menjalani perjalanan di UPH, di antaranya memahami bahwa panggilan hidup lebih besar dari sekadar karier, melihat tantangan sebagai bagian dari proses bertumbuh, memimpin dengan melayani, menggunakan talenta untuk membawa dampak bagi sesama, serta memanfaatkan ilmu dan pengaruh secara bertanggung jawab untuk berkontribusi bagi Indonesia dan memuliakan Tuhan.

“Jangan pernah takut bermimpi besar di kampus ini. Bergabunglah dalam organisasi, tekuni riset, ciptakan karya seni dan teknologi, ikut kompetisi, dan bangun persahabatan sejati. Jadilah Shalom Community. Namun, di atas segalanya, ingatlah bahwa kalian berharga bukan karena apa yang kalian capai, melainkan karena siapa yang menciptakan dan menebus kalian,” katanya dalam sesi called & life that matters.

Rekomendasi