Panitia Muktamar NU Buka Suara Terkait Insiden Pemukulan

Peserta Muktamar diduga terlibat dalam Insiden pemukulan.

Erwin yohanes
Oleh Erwin yohanes - Reporter
Panitia Muktamar NU Buka Suara Terkait Insiden Pemukulan
Ketua panitia lokal Muktamar ke-35 NU, KH Abdurrozaq Sholeh atau Gus Rozaq. (Merdeka.com/Erwin Yohanes)

Panitia lokal Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) mengakui adanya insiden kekerasan yang melibatkan salah seorang pengurus NU. Namun, panitia lokal menegaskan kejadian tersebut tidak berlangsung di arena Muktamar yang berlokasi di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Ketua panitia lokal Muktamar ke-35 NU, KH Abdurrozaq Sholeh atau Gus Rozaq mengatakan insiden pemukulan terjadi di sebuah hotel di kawasan Jalan Kepatihan, Jombang. Lokasi tersebut berada di luar wilayah pengamanan Panlok.

“Menindaklanjuti konferensi pers dari salah satu calon ketua umum PBNU terkait narasi adanya kekerasan terkait dengan Muktamar, saya tegaskan tidak benar. Itu terjadi di luar arena Muktamar,” ujar Gus Rozaq dalam konferensi pers, Minggu (30/8) dini hari.

Gus Rozaq mengatakan informasi mengenai lokasi kejadian telah dikonfirmasi pihak panitia, termasuk kepada kepolisian. Berdasarkan informasi yang diterima, insiden tersebut terjadi di salah satu hotel yang berada di kawasan Kepatihan.

“Pemukulan terjadi di salah satu hotel di Jalan Kepatihan, bukan wilayah yang berada dalam jangkauan Panlok,” bebernya.

Dia menjelaskan, pihak-pihak yang terlibat dalam insiden tersebut diketahui berasal dari Kalimantan. Korban disebut merupakan salah seorang pengurus NU dan diduga juga berstatus sebagai delegasi Muktamar ke-35 NU.

Meski korban maupun pihak yang terlibat memiliki keterkaitan dengan peserta Muktamar, Gus Rozaq menegaskan hal itu tidak serta-merta membuat insiden tersebut dapat dikategorikan sebagai kekerasan yang terjadi di arena Muktamar.

“Yang jelas, saya pastikan tidak terjadi di wilayah Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang,” tegasnya.

Mengenai motif pemukulan, panitia lokal belum dapat memastikan penyebabnya. Gus Rozaq mengatakan dugaan motif pribadi ataupun persoalan yang berkaitan dengan dinamika Muktamar masih harus dibuktikan berdasarkan proses penyelidikan aparat penegak hukum.

Panitia lokal juga mengaku tidak mengetahui secara langsung insiden tersebut lantaran lokasi kejadian berada di luar tempat penginapan resmi yang disediakan untuk peserta Muktamar.

Menurut Gus Rozaq, panitia lokal memiliki tanggung jawab pengamanan selama 24 jam di lokasi-lokasi penginapan peserta yang memang disiapkan panitia di kawasan Tambakberas.

“Panitia tidak mengetahui sama sekali karena terjadinya bukan di tower atau penginapan yang disiapkan panitia,” ujarnya.

Gus Rozaq menambahkan, sekitar 97,5 persen peserta yang telah melakukan registrasi ditempatkan di Tower 1 hingga Tower 9 yang disiapkan panitia lokal di kawasan Tambakberas.

Karena itu, ia meminta insiden tersebut tidak dikaitkan secara langsung dengan pelaksanaan Muktamar ke-35 NU di kompleks Pesantren Tambakberas.

Panitia lokal, kata dia, hanya ingin meluruskan informasi agar kejadian di luar arena tidak berkembang menjadi stigma terhadap penyelenggaraan Muktamar.

 

“Kami hanya meluruskan narasi yang tidak benar terkait kejadian atau apa pun yang bisa berpotensi menjadi stigma negatif terhadap pelaksanaan Muktamar di Tambakberas ini,” katanya.

Terkait penanganan perkara, panitia lokal menyerahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum. Jika insiden tersebut telah dilaporkan kepada kepolisian, Gus Rozaq meminta seluruh pihak menghormati dan mengikuti proses hukum yang berjalan.

“Kalau memang sudah diranai ke polisi, ya ikuti proses yang berjalan,” ujarnya.

Panitia lokal juga belum mengambil langkah internal terhadap korban maupun pihak yang dilaporkan. Alasannya, insiden pemukulan tersebut terjadi di luar wilayah pengamanan dan tanggung jawab panitia lokal.

Sebelumnya, Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar, KH Abdussalam Sohib atau Gus Salam, mengungkap adanya dugaan pemukulan terhadap salah seorang pengurus cabang NU di tengah berlangsungnya rangkaian Muktamar.

Gus Salam mengatakan, dugaan kekerasan tersebut telah dilaporkan kepada Polres Jombang. Ia meminta kasus tersebut ditangani melalui jalur hukum agar tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar di internal organisasi.

Menurut Gus Salam, korban merupakan salah seorang pengurus cabang NU. Ia mengaku menerima cerita langsung dari korban terkait dugaan kekerasan itu pada Jumat (28/8) malam.

Ia menyebut, insiden tersebut diduga berkaitan dengan sikap korban yang tidak mengikuti arahan dari pengurus wilayah.

"Ada salah satu teman kami dari daerah yang mengalami kekerasan oleh PW (pengurus wilayah) nya. Daerah mana dan namanya dirahasiakan. Sudah dilaporkan kepada Polres Jombang," ujar Gus Salam, Sabtu (29/8/2026).

Rekomendasi