Pagi itu, warna merah dan putih seperti mengambil alih wajah Jagoi Babang. Ribuan bendera berkibar dan membentang di sepanjang jalan yang mengarah ke Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.
Di kawasan yang berbatasan langsung dengan Malaysia itu, sedikitnya 3.000 Bendera Merah Putih dipasang dari Simpang Empat Sungai Take hingga kawasan Titik Nol Perbatasan Indonesia-Malaysia.
Bukan sekadar hiasan menjelang peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Di beranda terdepan negeri itu, Merah Putih menjadi simbol yang membawa pesan tentang kedaulatan, persatuan, dan rasa memiliki terhadap Indonesia.
Kirab Merah Putih digelar Selasa (11/8) dan melibatkan berbagai elemen masyarakat. Para peserta berjalan kaki membawa sebuah Bendera Merah Putih raksasa berukuran 8 x 17 meter dari halaman Kantor Desa Jagoi menuju helipad di kawasan PLBN Jagoi Babang. Jarak sekitar empat kilometer ditempuh bersama-sama.
Langkah demi langkah, bendera itu bergerak menuju perbatasan. Di tempat seperti Jagoi Babang, perayaan kemerdekaan seolah memiliki makna yang berbeda. Sebab, di balik aktivitas sehari-hari masyarakat, terbentang garis yang memisahkan dua negara.
Advertisement
Bukan Sekadar Kecamatan
Camat Jagoi Babang Saidin mengatakan masyarakat di kawasan perbatasan memiliki kesadaran kuat mengenai posisi wilayah mereka sebagai bagian terdepan Indonesia.
"Jagoi Babang bukan sekadar kecamatan. Kita semua yang berdiri di sini berada di beranda terdepan NKRI dan berbatasan langsung dengan negara tetangga," kata Saidin, demikian dikutip dari Antara.
Karena itu, ribuan bendera yang menghiasi jalur menuju perbatasan tidak dimaknai sekadar sebagai ornamen perayaan kemerdekaan.
Bagi masyarakat setempat, Merah Putih adalah simbol kedaulatan sekaligus harga diri bangsa. Ia juga menjadi pengikat di tengah masyarakat yang hidup dalam keberagaman suku, agama, dan latar belakang.
"Melalui Kirab Merah Putih ini, kita ingin mengirimkan pesan kuat bahwa nasionalisme warga Kecamatan Jagoi Babang tidak pernah luntur. Jiwa patriotisme tetap menyala untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia," ujar Saidin.
Advertisement
Merawat Indonesia dari Beranda Terdepan
Semangat menjaga Indonesia, menurut Saidin, tidak cukup hanya ditunjukkan dengan mengibarkan bendera.
Kemerdekaan harus diisi melalui pembangunan, prestasi, dan kehidupan masyarakat yang rukun. Terlebih di kawasan perbatasan yang memiliki posisi strategis sekaligus menjadi wajah Indonesia bagi negara tetangga.
Pesan itu terutama diarahkan kepada generasi muda. Keberagaman yang ada di Jagoi Babang diharapkan tidak menjadi sumber perpecahan, melainkan kekuatan untuk membangun daerah.
"Jangan biarkan perbedaan memecah belah kita, tetapi jadikan perbedaan itu sebagai kekuatan untuk memajukan Kecamatan Jagoi Babang," kata Saidin.
Pesan tersebut menemukan ruangnya dalam kirab. Pelajar berjalan bersama masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, pemuda, serta unsur TNI dan Polri. Mereka membawa satu simbol yang sama: Merah Putih.
Advertisement
Ketika Merah Putih Menjadi Pesan
Kirab tersebut difasilitasi BAIS TNI dan melibatkan berbagai unsur masyarakat serta pemerintah setempat.
Kehadiran mereka menunjukkan bahwa menjaga semangat kebangsaan bukan hanya tugas satu kelompok. Di wilayah perbatasan, rasa memiliki terhadap Indonesia tumbuh dari keterlibatan bersama.
Ribuan bendera yang membentang dari Sungai Take hingga Titik Nol akhirnya menjadi lebih dari sekadar pemandangan merah putih di jalanan Jagoi Babang.
Dia menjadi pesan yang disampaikan dari ujung negeri: bahwa di tempat Indonesia bersisian langsung dengan negara lain, semangat kebangsaan tetap hidup. Dan di sana, di beranda terdepan NKRI, Merah Putih bukan hanya berkibar.
Dia menjadi pengingat bahwa kemerdekaan harus terus dirawat—dengan persatuan, kerukunan, pembangunan, dan keberanian untuk menjaga Indonesia tetap utuh.