Probolinggo, Jawa Timur – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Probolinggo aktif terlibat dalam upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Gunung Bromo. Kebakaran ini terjadi di wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), khususnya di area Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Tim gabungan berjibaku memadamkan kobaran api di tengah kondisi medan pegunungan yang sangat menantang.
Kepala Bidang Organisasi, Komunikasi, dan Informasi PMI Kabupaten Probolinggo, Soedjono, menyatakan bahwa operasi pemadaman menghadapi berbagai keterbatasan alat. Meskipun demikian, tim gabungan tetap berupaya maksimal untuk mengendalikan api yang terus meluas. Upaya ini merupakan bagian dari respons cepat terhadap bencana alam yang mengancam kelestarian lingkungan dan ekosistem Bromo.
Operasi pemadaman Karhutla Gunung Bromo melibatkan berbagai instansi dan elemen masyarakat. Tim gabungan terdiri dari personel PMI Provinsi Jawa Timur, PMI Kabupaten Probolinggo, BPBD Provinsi Jawa Timur, BPBD Kabupaten Probolinggo, BPBD Kabupaten Malang, TNI, Polri, serta masyarakat setempat. Kolaborasi ini menunjukkan keseriusan dalam penanganan bencana yang membutuhkan sinergi banyak pihak.
Advertisement
Advertisement
Tantangan Berat Pemadaman Api di Medan Terjal Bromo
Proses pemadaman Karhutla Gunung Bromo menghadapi sejumlah kendala signifikan yang memperlambat upaya penanganan. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan kapasitas drone water bombing yang dikerahkan. Drone tersebut hanya mampu membawa sekitar 100 liter air dalam sekali penerbangan, jumlah yang dinilai kurang efektif untuk memadamkan titik api yang tersebar luas.
Kondisi geografis kawasan Bromo juga menjadi tantangan besar bagi tim pemadam. Medan berupa perbukitan dan tebing dengan kemiringan mencapai sekitar 70 derajat menyulitkan akses. Selain itu, sumber air yang berada cukup jauh dari lokasi kebakaran menambah kompleksitas operasi. Tim harus bekerja keras untuk membawa peralatan dan air ke titik-titik api yang sulit dijangkau.
Faktor cuaca turut memperparah situasi pemadaman Karhutla Gunung Bromo. Cuaca kering yang disertai hembusan angin kencang mempercepat penyebaran api ke area lain. Kabut tebal yang sesekali menyelimuti kawasan pegunungan juga membatasi jarak pandang, menghambat efektivitas operasi pemadaman, terutama melalui jalur udara.
Advertisement
Advertisement
Pengerahan Helikopter Water Bombing dan Komitmen PMI
Melihat tantangan yang ada, upaya pemadaman masih banyak dilakukan secara manual oleh tim gabungan dengan peralatan sederhana. Meskipun drone water bombing telah digunakan, kemampuannya dinilai belum memadai untuk titik api dengan kobaran besar karena kapasitas angkut air yang terbatas. Situasi ini menuntut penanganan yang lebih masif dan efektif.
Sebagai langkah lanjutan untuk mempercepat proses pemadaman dan mencegah meluasnya kebakaran, dua helikopter water bombing dikerahkan. Pengerahan helikopter ini diharapkan mampu menjangkau titik-titik api di kawasan pegunungan yang sulit diakses dan membawa volume air yang lebih besar. Ini menjadi strategi kunci dalam upaya mengendalikan Karhutla Gunung Bromo.
PMI menegaskan komitmennya untuk memberikan dukungan penuh dalam operasi penanggulangan Karhutla Gunung Bromo. Dukungan ini mencakup pengerahan personel, relawan, serta logistik yang dimiliki PMI. Meskipun menghadapi medan yang berat dan berbagai keterbatasan, PMI tetap berupaya memberikan dukungan terbaik demi mempercepat penanganan kebakaran serta meminimalkan dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat.
Advertisement
Soedjono berharap penanganan kebakaran dapat segera membuahkan hasil dengan dukungan seluruh pihak, termasuk pengerahan helikopter water bombing yang dinilai lebih efektif. Kolaborasi seluruh unsur menjadi kunci dalam menghadapi bencana ini. Diharapkan api segera dapat dipadamkan sehingga kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru tetap terjaga kelestariannya dan aktivitas masyarakat maupun sektor pariwisata dapat kembali berjalan normal.
Sumber: AntaraNews