Program Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih menjadi perbincangan di media sosial. Muncul unggahan yang memperlihatkan sejumlah titik lokasi koperasi di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, berada di atas laut pada fitur pemetaan aplikasi Simkopdes.
Temuan tersebut memunculkan pertanyaan publik terkait akurasi data lokasi yang ditampilkan sistem.
Menanggapi hal itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas menilai narasi yang menyebut Kopdes Merah Putih dibangun di tengah laut tidak masuk akal.
"Ya, bagaimana mau bangun di tengah laut? Bagaimana mengecor semennya?" ujar Zulhas saat membuka Seminar Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Makassar, Selasa (4/8/2026).
Tak hanya soal lokasi di laut, Zulhas juga menanggapi beredarnya konten yang menyebut pembangunan Kopdes berada di lokasi tidak lazim, seperti area pemakaman. Menurutnya, unggahan tersebut memicu spekulasi di masyarakat dan tidak menggambarkan kondisi yang sebenarnya.
Ia menjelaskan masih ada sejumlah desa yang belum membangun koperasi karena terkendala penyediaan lahan. Kondisi itu, kata Zulhas, kemudian dimanfaatkan untuk membuat narasi seolah-olah Kopdes didirikan di lokasi yang tidak masuk akal.
"Banyak desa memang masih belum terbangun karena kendala lahan. Akhirnya muncul konten-konten seolah-olah bangunannya ada di tengah kuburan, di tengah sawah, di tengah laut, dan macam-macam lagi," katanya.
Ketua Umum PAN itu menduga munculnya berbagai narasi tersebut berkaitan dengan pihak-pihak yang merasa terganggu dengan pelaksanaan program Kopdes Merah Putih.
"Ini saya kira memang mungkin ada yang terganggu sehingga menyerang seperti itu. Kita enggak tahu. Tetapi kita ingin terus saja berbuat baik agar bisa menghentaskan kemiskinan, ekonomi desa bisa tumbuh, orang bisa bekerja," ujarnya.
Advertisement
Bantah Warung Kelontong Akan Ditutup
Zulhas juga membantah isu yang menyebut keberadaan Kopdes Merah Putih akan mematikan usaha warung kelontong.
Menurut dia, koperasi desa bukanlah supermarket yang bersaing dengan pedagang kecil. Sebaliknya, warung kelontong justru dapat memanfaatkan koperasi sebagai saluran distribusi maupun promosi produk.
"Jadi bukan supermarket. Apalagi katanya nanti Zulhas nutup warung kelontong, enggak ada urusannya. Malah warung kelontong bisa nitip barang. Kalau mau promosi ke seluruh Indonesia boleh dilakukan, karena ini bukan warung, bukan supermarket," tegasnya.
Zulhas menyebut informasi mengenai penutupan warung kelontong merupakan hoaks yang sengaja disebarkan untuk memicu keresahan masyarakat.
"Jadi tidak ada hoaks itu ya, yang warung-warung ditutup. Itu jahat sekali. Pengen suruh orang ribut saja itu," ucapnya.Lebih lanjut, ia menjelaskan Kopdes Merah Putih dirancang sebagai infrastruktur ekonomi desa yang mengintegrasikan berbagai program pemerintah.
Melalui koperasi, masyarakat nantinya dapat mengakses beragam layanan, mulai dari penyaluran bantuan, layanan keuangan, hingga pemasaran hasil produksi.
"Ini bentuknya sebagai infrastruktur. Ada bantuan benih, ada bantuan bunga subsidi, ada PKH dari Mensos, ada alsintan, macam-macam itu nanti semuanya melalui Koperasi Desa dan Koperasi Kelurahan Merah Putih," jelas Zulhas.
Ia menambahkan, keberadaan koperasi juga diharapkan memperkuat posisi petani dan nelayan. Salah satunya melalui pembelian gabah sesuai harga yang ditetapkan pemerintah serta penyediaan fasilitas penyimpanan hasil tangkapan ikan agar tidak bergantung pada tengkulak.
"Kalau petani harga gabahnya cuma Rp 5.000, kita tentukan Rp 6.500, koperasi beli. Masa enggak ada manfaatnya begitu? Itu kan menolong petani," kata Zulhas.
"Kalau nelayan, ikan dibeli murah oleh tengkulak. Nanti kalau sudah ada koperasi, disediakan cold storage dan pabrik es sehingga bisa disimpan dulu. Kalau belum laku, koperasi yang beli ikannya," pungkasnya.