Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan komitmen kuat untuk menjadikan kebudayaan Betawi sebagai bagian integral dan utama dalam pembangunan Jakarta. Pernyataan ini disampaikan dalam rangka mewujudkan Jakarta sebagai kota global yang tetap berakar pada identitas lokalnya.
Komitmen tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari kebijakan pemerintah daerah hingga penguatan ruang ekspresi budaya dan penataan kelembagaan adat masyarakat Betawi. Hal ini disampaikan Pramono Anung saat menghadiri Milad ke-25 Forum Betawi Rempug (FBR) di Jakarta pada Sabtu (01/8).
Menurut Gubernur Pramono, pengarusutamaan budaya Betawi tidak hanya berfokus pada pelestarian simbol-simbol semata. Namun, juga diarahkan pada penguatan peran aktif masyarakat serta pewarisan nilai-nilai luhur kepada generasi muda.
Advertisement
Advertisement
Penguatan Identitas Budaya Betawi dalam Pembangunan Jakarta
Pramono Anung menegaskan bahwa Jakarta harus mampu tumbuh menjadi kota modern tanpa kehilangan karakter dan identitas yang telah membentuknya. Kemajuan kota, menurutnya, harus berjalan seiring dengan perlindungan identitas, sejarah, dan nilai-nilai masyarakat Betawi.
Masyarakat Betawi memegang peran yang sangat penting dalam sejarah dan perjalanan panjang Jakarta melalui nilai-nilai gotong royong, keterbukaan, toleransi, serta semangat kebangsaan. Nilai-nilai luhur inilah yang telah membentuk Jakarta sebagai kota yang majemuk.
“Nilai-nilai luhur inilah yang membentuk Jakarta sebagai kota yang majemuk,” kata Pramono. Komitmen ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Provinsi Daerah Khusus Jakarta, yang menegaskan fungsi dan peran strategis Jakarta sebagai pusat perekonomian nasional dan kota global.
Advertisement
Advertisement
Kebijakan Pemprov DKI untuk Budaya Betawi
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengimplementasikan sejumlah kebijakan konkret untuk memperkuat kehadiran Budaya Betawi dalam kehidupan kota. Langkah-langkah ini bertujuan untuk memastikan identitas Betawi tetap lestari dan relevan di tengah modernisasi.
Di antara kebijakan yang telah dijalankan adalah penggunaan busana adat Betawi dalam berbagai kegiatan resmi pemerintahan. Selain itu, Pemprov juga menggalakkan penguatan ornamen dan nuansa Betawi di ruang-ruang publik.
Penyusunan kelembagaan adat masyarakat Betawi juga menjadi fokus penting dalam upaya pelestarian. Kebijakan ini diharapkan dapat memberikan wadah yang kuat bagi masyarakat Betawi untuk terus berkontribusi dan melestarikan budayanya.
Advertisement
Advertisement
FBR: Mitra Strategis dan Penjaga Toleransi
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Pramono berharap Forum Betawi Rempug (FBR) dapat terus menjadi mitra strategis pemerintah. FBR diharapkan berperan aktif dalam menjaga persatuan, melestarikan Budaya Betawi, serta menumbuhkan rasa cinta generasi muda terhadap identitas budayanya.
“Jakarta harus terus bergerak maju menuju kota global tanpa pernah kehilangan akar yang menjadi kekuatannya,” ujar Pramono. Ia juga mengucapkan selamat atas Milad ke-25 FBR, yang dianggap sebagai momentum penting untuk memperkuat kebersamaan, merawat budaya Betawi, dan meneguhkan persatuan dalam membangun Jakarta.
Milad FBR yang mengusung tema "Merawat Akar, Merajut Masa Depan" dinilai sejalan dengan arah transformasi Jakarta. Kegiatan doa lintas iman yang melibatkan perwakilan enam agama dalam Milad tersebut mencerminkan kuatnya toleransi dan semangat hidup bersama di Jakarta.
Advertisement
Imam Besar FBR, Lutfi Hakim, menyampaikan bahwa Milad ke-25 ini menjadi momentum untuk meneguhkan kembali tanggung jawab organisasi. Tanggung jawab tersebut adalah menjaga martabat masyarakat Betawi dan masa depan Jakarta.
“Kami tidak akan pernah berhenti mencintai Jakarta dan tidak pernah berhenti mencintai Betawi,” tegas Lutfi Hakim, menggambarkan komitmen FBR meskipun telah melewati berbagai dinamika selama seperempat abad.
Sumber: AntaraNews
Advertisement