Pola Silvofishery Tingkatkan Minat Petambak dalam Rehabilitasi Mangrove di Kukar

Pola silvofishery berhasil meningkatkan minat petambak di Kutai Kartanegara untuk ikut rehabilitasi mangrove, mengatasi kekhawatiran budidaya terganggu dan klaim lahan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Pola Silvofishery Tingkatkan Minat Petambak dalam Rehabilitasi Mangrove di Kukar
Pola silvofishery berhasil meningkatkan minat petambak di Kutai Kartanegara untuk ikut rehabilitasi mangrove, mengatasi kekhawatiran budidaya terganggu dan klaim lahan. (AntaraNews)

Penerapan pola tambak ramah lingkungan, yang dikenal sebagai silvofishery, telah berhasil meningkatkan minat petambak di Desa Sepatin, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, dalam upaya rehabilitasi ekosistem mangrove. Program ini menawarkan solusi inovatif yang memadukan budidaya perikanan dengan pelestarian lingkungan pesisir.

Sebelumnya, banyak petambak enggan berpartisipasi dalam program rehabilitasi mangrove karena kekhawatiran bahwa penanaman akan mengganggu aktivitas budidaya mereka. Namun, pendekatan baru melalui program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) telah mengubah persepsi tersebut.

Melalui konsep silvofishery, yang memadukan tambak dengan vegetasi mangrove, masyarakat kini melihat bahwa fungsi budidaya dan pelestarian lingkungan dapat berjalan selaras. Hal ini mendorong peningkatan partisipasi petambak dalam memulihkan kawasan mangrove di wilayah pesisir.

Mengatasi Keraguan Petambak dengan Konsep Silvofishery

Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Peduli Hutan Mangrove, Suwardi, menjelaskan bahwa keraguan petambak sebelumnya berasal dari pengalaman program rehabilitasi yang menanam mangrove hampir di seluruh area tambak. Kondisi ini dikhawatirkan akan mengotori tambak dan mengganggu produksi hasil budidaya mereka.

Namun, program M4CR memperkenalkan pola tanam yang berbeda, yaitu silvofishery, yang secara khusus dirancang untuk mengintegrasikan tambak dengan keberadaan mangrove. Pendekatan ini memastikan bahwa penanaman mangrove tidak dilakukan di seluruh area tambak, sehingga aktivitas budidaya tetap dapat berjalan optimal.

Suwardi mengungkapkan adanya peningkatan minat masyarakat untuk merehabilitasi mangrove sejak program M4CR diterapkan, khususnya pada tahun 2025 hingga 2026. Masyarakat menjadi lebih terbuka setelah melihat langsung bahwa pola tanam ini tidak mengganggu lahan tambak mereka.

Jaminan Pemerintah dan Partisipasi Masyarakat

Selain tantangan teknis terkait pola tanam, kelompok masyarakat juga sering menghadapi kekhawatiran petambak mengenai potensi pengambilan lahan oleh pemerintah. Banyak petambak ragu untuk ikut serta dalam program rehabilitasi karena takut kehilangan hak atas lahan tambak mereka.

Menanggapi kekhawatiran ini, Kementerian Kehutanan telah memberikan jaminan langsung kepada masyarakat. Suwardi menyatakan bahwa Kementerian Kehutanan menegaskan tidak ada tambak yang akan direbut paksa oleh pemerintah jika mengikuti program rehabilitasi mangrove.

Kepastian dari Kementerian Kehutanan ini berperan penting dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk berpartisipasi dalam upaya pelestarian mangrove di wilayah pesisir. Program M4CR sendiri melibatkan kelompok masyarakat melalui pendekatan partisipatif, memastikan bahwa rehabilitasi dilakukan bersama dengan dukungan penuh dari komunitas lokal.

Realisasi dan Keberhasilan Program M4CR

Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) di Kalimantan Timur secara aktif melibatkan kelompok masyarakat dalam rehabilitasi mangrove. Pendekatan partisipatif ini termasuk penerapan model silvofishery di kawasan tambak pesisir.

Berdasarkan dokumen pelaksanaan M4CR, KTH Peduli Hutan Mangrove telah menerapkan pola tanam silvofishery di area tambak. Luas penanaman yang dilakukan mencapai 31 hektare pada tahun 2025 dan 29 hektare pada tahun 2026, yang saat ini masih berlangsung.

Kelompok tersebut juga mencatat tingkat keberhasilan tumbuh tanaman mangrove yang signifikan. Pada penanaman tahun 2025, tingkat keberhasilan tumbuh tanaman mangrove mencapai 61 persen, menunjukkan efektivitas pola silvofishery dalam mendukung pertumbuhan ekosistem.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi