Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengungkap hubungan dekatnya dengan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S. Deyang. Ia mengaku keduanya memiliki ikatan yang sangat erat, bahkan sudah seperti kakak dan adik dalam kehidupan pribadi.
Pernyataan itu disampaikan Sudaryono setelah Nanik memberi isyarat bahwa sosok yang akan menggantikannya sebagai Kepala BGN merupakan "adik" yang selama ini dekat dengannya.
"Beliau adalah budenya anak-anak saya, beliau adalah kakak saya. Kita bukan lagi hubungan karena kepartaian atau hubungan karena Pak Prabowo," kata Sudaryono di Kantor Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan, Rabu (22/7).
Advertisement
Sudah Saling Kenal Jauh Sebelum Masuk Pemerintahan
Sudaryono menuturkan kedekatannya dengan Nanik telah terjalin sejak lama, jauh sebelum keduanya bergabung dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Ia bahkan mengklaim menjadi orang di lingkaran Presiden Prabowo yang paling awal mengenal Nanik. Hubungan tersebut tidak hanya sebatas urusan pekerjaan, tetapi juga telah terjalin akrab hingga ke lingkungan keluarga.
"Itu orang, saya kenal lama ya. Saya kira orang Presiden Prabowo yang kenal beliau paling duluan adalah saya. Jadi saya sama beliau sangat dekat sekali, sangat dekat," ujarnya.
Advertisement
Nanik Isyaratkan Penggantinya adalah 'Adik'
Sebelumnya, Nanik S. Deyang mengungkapkan telah mengajukan pengunduran diri sebagai Kepala Badan Gizi Nasional karena harus menjalani pengobatan penyakit jantung di luar negeri.
Sebelum berangkat, Nanik sempat mengunggah pesan di media sosial yang mengisyaratkan sosok penggantinya merupakan orang dekat yang disebutnya sebagai "adik". Meski tidak menyebut nama, pernyataan itu memicu spekulasi bahwa Sudaryono akan mengisi posisi tersebut.
"Insyallah pengganti saya adalah 'adik saya' di mana saya bisa menjewer kalau misalnya terjadi hal-hal yang menyimpang," tulis Nanik.
Advertisement
Mundur karena Alasan Kesehatan
Nanik mengaku telah berpamitan kepada Presiden Prabowo Subianto sekaligus menyampaikan pengunduran dirinya agar dapat fokus menjalani pengobatan.
Menurutnya, Presiden menerima keputusan tersebut, namun tetap memintanya ikut mengawal Badan Gizi Nasional melalui posisi Ketua Dewan Pengawas yang rencananya akan dibentuk.
"Kemungkinan presiden akan membentuk dewan pengawas di mana saya disuruh menjadi ketua dewan pengawasnya. Kalau mencereweti kayaknya masih bisa, yang penting tidak berhubungan dengan pegang uang, sumpah trauma akut," tulis Nanik.
Advertisement
Tetap Kawal Program Makan Bergizi Gratis
Meski tak lagi menjabat sebagai Kepala BGN, Nanik menegaskan tetap akan mendukung pemerintahan Presiden Prabowo, khususnya dalam menyukseskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ia menepis anggapan bahwa program tersebut memiliki kepentingan politik. Menurutnya, sasaran utama MBG adalah anak-anak usia balita hingga sekolah dasar yang belum memiliki hak pilih pada Pemilu 2029.
"Kalau untuk tujuan politis, yang sekarang mayoritas penerima manfaat kan anak-anak balita sampai SD. Tiga tahun lagi tahun 2029 mereka belum nyoblos," ujarnya.
Sebelum mengundurkan diri, Nanik mengaku telah melakukan sejumlah pembenahan di tubuh Badan Gizi Nasional. Di antaranya merombak lima pejabat eselon I dari berbagai kementerian dan lembaga, serta membentuk 11 tim reformasi untuk mengevaluasi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.
Evaluasi tersebut mencakup penentuan penerima manfaat, operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), hingga pelaksanaan program di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).