Dari Kampus UGM ke Kandang Modern, Kisah Mila Arlinda Kembangkan Kerabat Ternak Tuban

Di balik suasana peternakan yang tertata rapi dan modern, Mila Arlinda hadir membuktikan bahwa usaha peternakan tak lagi identik dengan pekerjaan laki-laki.

Purnomo Edi
Oleh Purnomo Edi - Reporter
Dari Kampus UGM ke Kandang Modern, Kisah Mila Arlinda Kembangkan Kerabat Ternak Tuban
Dari Kampus UGM ke Kandang Modern, Kisah Mila Arlinda Kembangkan Kerabat Ternak Tuban (Merdeka.com)

Di tengah hamparan peternakan di Desa Kebonagung, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, seorang perempuan muda tampak sibuk menyusuri deretan kandang sambil memastikan kondisi domba-dombanya tetap prima.

Di balik suasana peternakan yang tertata rapi dan modern, Mila Arlinda hadir membuktikan bahwa usaha peternakan tak lagi identik dengan pekerjaan laki-laki, melainkan juga menjadi ruang lahirnya generasi muda yang memilih mengembangkan usaha dari desa.

Di usianya yang belum genap 28 tahun, alumnus Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) tahun 2021 ini sukses mendobrak stigma. Ia membuktikan bahwa dunia peternakan bukan hanya milik kaum adam, dan jauh dari kesan kotor atau tidak menjanjikan.

Melalui bendera Kerabat Ternak 1-3, Mila berhasil menyulap lima ekor domba masa SMA menjadi bisnis beromzet ratusan juta rupiah.

Perjalanan Mila tidak instan. Ketertarikannya pada dunia ruminansia sudah tumbuh sejak remaja. Saat masih duduk di bangku kelas 2 SMA pada tahun 2014, ia nekat memelihara lima ekor domba di halaman rumahnya.

Langkah Mila semakin mantap ketika ia memilih kuliah di Jurusan Peternakan. Pilihan yang sempat mengundang damba tanya dan keraguan dari keluarganya sendiri.

“Dulu keluarga sempat ragu ketika saya memilih kuliah peternakan,” kenang perempuan kelahiran 1 Januari 1999 ini.

​Namun, keraguan itu justru menjadi bahan bakar bagi Mila. Alih-alih mundur, ia menyerap semua ilmu di bangku kuliah dan memadukannya dengan realitas lapangan. Baginya, teori tanpa praktik adalah kesia-siaan. Selama kuliah, ia aktif berguru pada dosen, praktisi, hingga peternak senior.

Usai menggondol gelar sarjana pada 2021, Mila bersama sang suami, Sahroni, langsung tancap gas membesarkan Kerabat Ternak. Jalan yang mereka tempuh tak selalu mulus. Kematian ternak akibat pneumonia dan infeksi sempat menjadi pukulan telak.

Namun, mental petarung Mila berbicara. Setiap ada ternak yang mati, ia melakukan observasi mendalam, mencari tahu penyebabnya agar tidak terulang. Dari sanalah ia belajar pentingnya manajemen kesehatan dan kenyamanan hewan (animal welfare).

Kini, strategi Mila bergeser. Ia tidak lagi sekadar mengejar kuantitas, melainkan kualitas dan genetika unggul. Kerabat Ternak mengelola lahan hijauan seluas 1,5 hektare dipadukan dengan nutrisi tambahan dari ampas tahu dan kangkung kering.

Hasilnya? Luar biasa. Kambing kualitas unggul dari kandangnya mampu menembus harga Rp16 juta hingga Rp23 juta per ekor, jauh melampaui kambing lokal yang berkisar di angka Rp3 juta.

Kehebatan bisnis Mila salah satunya adalah diversifikasi yang matang. Kerabat Ternak tidak hanya panen saat musim Iduladha—yang omzetnya bisa menembus Rp500 juta hingga Rp700 juta dalam dua bulan—tetapi juga mengalirkan rupiah di hari biasa.

Melalui bisnis aqiqah, penjualan bibit, susu kambing, hingga sarana produksi peternakan (sapronak), perputaran uangnya mencapai ratusan juta rupiah per bulan. Pasarnya kini mencakup Lamongan, Bojonegoro, hingga wilayah Jawa Timur lainnya.

Tak pelit ilmu, sejak tahun 2023 Mila menjelma menjadi edupreneur lewat platform TikTok. Ia mengedukasi generasi muda tentang wajah baru peternakan modern yang berbasis sains. Lebih dari sekadar angka di rekening, Mila kini menjadi lentera bagi desanya.

Kandangnya menjadi ruang belajar bagi siswa PKL seperti Agung Setiawan dari SMKN 4 Bojonegoro, sekaligus menjadi penyelamat bagi peternak lokal.

​“Saya jadi tidak bingung soal penjualan susu. Selain itu juga bisa belajar banyak di kelompok ternak binaan Mbak Mila,” ungkap Erma, salah satu peternak binaan Kerabat Ternak.

​Dari sudut kecil di Tuban, Mila Arlinda telah menuliskan babak baru: bahwa di tangan generasi muda yang tekun dan berilmu, bau kandang pun bisa berubah menjadi aroma kesuksesan yang memberdayakan sesama.

Rekomendasi