Indonesia secara aktif membidik perluasan akses pasar industri di seluruh kawasan Eurasia. Upaya ini dilakukan melalui intensifikasi kerja sama bilateral dengan Tajikistan.
Kemitraan strategis ini bertujuan memanfaatkan Tajikistan sebagai pintu masuk bagi produk manufaktur Indonesia ke negara-negara Persemakmuran Negara-negara Merdeka (CIS). Hal ini disampaikan oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita.
Kolaborasi industri antarnegara perlu terus diperkuat untuk memacu inovasi. Selain itu, kerja sama ini juga untuk memperluas akses pasar dan menciptakan peluang investasi yang memberikan nilai tambah bagi kedua belah pihak.
Advertisement
Advertisement
Dasar untuk peningkatan hubungan ini diletakkan dalam pertemuan bilateral antara Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin Tri Supondy dengan Wakil Menteri Industri dan Teknologi Baru Tajikistan Aziz Nazar. Pertemuan tersebut berlangsung pada 28 Mei 2026.
Pertemuan penting ini terjadi selama BRICS Forum on Partnership on the New Industrial Revolution (PartNIR) di Xiamen, Tiongkok. Kemenperin menekankan pentingnya kolaborasi untuk mencapai tujuan ekonomi yang lebih besar.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa penguatan kerja sama industri adalah kunci. Ini akan mendorong inovasi dan membuka pasar baru bagi produk-produk Indonesia di kawasan Eurasia.
Advertisement
Melalui kerja sama ini, Indonesia berharap dapat menempatkan produk-produk unggulannya. Khususnya, memasuki pasar CIS yang memiliki potensi besar.
Advertisement
Menurut Kemenperin, hubungan perdagangan antara kedua negara sangat komplementer. Indonesia memiliki kemampuan manufaktur yang kuat di sektor otomotif, elektronik, tekstil, dan pengolahan sumber daya alam.
Sebaliknya, Tajikistan memiliki spesialisasi dalam pengembangan mineral, aluminium, dan teknologi baru. Kombinasi ini menciptakan sinergi yang menguntungkan bagi kedua belah pihak.
Indikator ekonomi menunjukkan lintasan positif dalam hubungan dagang. Volume perdagangan tumbuh dari US$1,7 juta pada tahun 2021 menjadi US$1,9 juta pada tahun 2025.
Advertisement
Perdagangan ini didominasi terutama oleh sektor non-minyak dan gas. Hal ini menunjukkan potensi besar untuk pertumbuhan lebih lanjut di masa depan.
Advertisement
Tri Supondy mencatat bahwa penguatan aliansi dengan negara-negara mitra adalah bagian dari strategi inti Indonesia. Strategi ini bertujuan mengintegrasikan bisnis nasional ke dalam rantai pasok global yang lebih luas.
"Kami terus meningkatkan peluang kemitraan yang saling menguntungkan," kata Supondy. Ini dilakukan dengan memperluas jaringan industri, meningkatkan investasi, dan mengembangkan kerja sama yang dapat memberikan nilai tambah bagi kedua negara.
Selama konvensi di Xiamen, kedua delegasi juga meninjau usulan Nota Kesepahaman (MoU). MoU ini akan fokus pada tiga sektor prospektif.
Advertisement
Sektor-sektor tersebut meliputi pengembangan rantai pasok mineral kritis, industri farmasi dan alat kesehatan, serta ekosistem industri halal. Fokus ini menunjukkan komitmen untuk diversifikasi ekonomi.
Advertisement
Delegasi Indonesia juga memanfaatkan platform BRICS Forum untuk menyoroti peran mendatangnya. Indonesia akan menjadi Negara Mitra resmi pada Pameran Industri Internasional INNOPROM.
Pameran ini dijadwalkan berlangsung pada 6–9 Juli 2026 di Yekaterinburg, Rusia. Ini merupakan kesempatan emas untuk promosi.
Kemenperin berharap pameran industri besar Eurasia ini dapat secara signifikan meningkatkan eksposur global. Terutama, untuk barang-barang industri Indonesia dan menarik investor internasional.
Advertisement
Partisipasi ini merupakan bagian dari upaya Indonesia untuk memperkuat posisi di pasar global. Ini juga menunjukkan komitmen Indonesia terhadap Ekspansi Pasar Eurasia Indonesia.
Sumber: AntaraNews