Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai membantah laporan yang menyebut Jawa Barat masuk dalam lima besar provinsi dengan angka kekerasan berbasis agama tertinggi di Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan Pigai saat menghadiri kelas Jurnalis HAM di Badung, Rabu (20/5/2026).
"Saya menolak Jawa Barat dianggap sebagai provinsi intoleran," kata Pigai seperti dikutip Kamis (21/5/2026).
Pigai beralasan, sebagai warga Jawa Barat, khususnya Depok selama 25 tahun, dirinya tidak pernah sama sekali mendapat gangguan.
"Saya menolak Depok dituduh sebagai kota intoleran. Saya 25 tahun tinggal di Depok, tidak pernah satu gereja pun diganggu," ungkap dia.
Advertisement
Depok Miliki Gereja Paroki Sampai Lima
Dia mengatakan, Depok memiliki gereja paroki sampai lima. Hal itu berbanding ter saya Katolik, paroki lima. Dia membandingkan, di NTT satu kabupaten saja belum tentu ada paroki lima.
"Di Depok lima, kok bisa disebut intoleran? Kan itu tidak fair," jelas Pigai.
Advertisement
Setara Institute
Sebagai informasi, hal disinggung Pigai adalah data dari Setara Institute yang disampaikan pada Maret 2026. Menurut Setara Institute, Jawa Barat masuk ke dalam 5 provinsi dengan angka kekerasan berbasis agama tertinggi degan 56 tindak kekerasan.
Berikutnyaa, Aceh ada di posisi ke-2 dengan 23 tindakan. Jawa Timur ke-3 dengan 18 tindakan, ke-4 Jawa Tengah 13 tindakan, dan ke-5 Jakarta 12 tindakan.