Tim Advokasi Untuk Demokrasi (TAUD) mengklaim menemukan dugaan keterlibatan 16 orang dalam kasus penyiraman air keras terhadap Aktivis KontraS, Andrie Yunus. Temuan itu dibawa perwakilan tim investigasi TAUD, Ravio Patra saat menghadiri pemeriksaan di Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Selasa (19/5).
Ravio mengatakan, temuan disusun dari rekaman CCTV dan pemetaan kronologi pergerakan Andrie Yunus sejak sore hari sebelum kejadian hingga penyiraman.
"Dari data temuan tim investigasi TAUD jelas dapat terlihat secara kasat mata berdasarkan CCTV, hanya butuh dicari dan ditelusuri bahwa ada setidaknya 16 orang pelaku di lapangan yang bekerja sama dan berkomplot," kata Ravio kepada wartawan, Selasa (19/5).
Menurut dia, tim investigasi menelusuri pergerakan 16 orang tersebut sejak berada di kawasan Jalan Diponegoro, sekitar kantor YLBHI, sampai terjadi dugaan penyerangan tersebut. Para penyerang itu memiliki peran berbeda, mulai dari pemantau, eksekutor, hingga pemberi dukungan operasional.
Ravio menyebut sejauh ini tim investigasi TAUD telah memverifikasi sedikitnya tiga orang aparat militer. Namun, Ravio menilai dugaan keterlibatan sipil belum bisa dikesampingkan karena identitas seluruh terduga pelaku belum terungkap.
Sementara itu, Kuasa hukum Andrie Yunus, Gema Gita Persada mengatakan, pemeriksaan kali ini menjadi ketiga dalam laporan polisi model B yang diajukan pihak kuasa hukum. Gema mendesak kepolisian lebih aktif menindaklanjuti temuan sudah disampaikan tim investigasi.
“Harapannya semua langkah yang kami lakukan dalam pelaporan ini tidak hanya diterima secara pasif oleh pihak kepolisian tapi pihak kepolisian dapat proaktif,” ujar Gema.
Kuasa hukum Andrie Yunus lainnya, Airlangga Julio menyebut laporan model B ke Polda Metro Jaya merupakan kritik terhadap proses peradilan militer. Menurut dia, dakwaan oditur militer tidak lengkap dan berbeda dengan kronologi serta bukti dikumpulkan tim investigasi.