Sumedang Jadi Titik Awal Milangkala Tatar Sunda, Berbasis Fakta Sejarah Kuat

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menetapkan Sumedang sebagai titik awal pelaksanaan Milangkala Tatar Sunda, didasarkan pada jejak sejarah fisik Mahkota Binokasih yang kuat dan otentik.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Sumedang Jadi Titik Awal Milangkala Tatar Sunda, Berbasis Fakta Sejarah Kuat
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menetapkan Sumedang sebagai titik awal pelaksanaan Milangkala Tatar Sunda, didasarkan pada jejak sejarah fisik Mahkota Binokasih yang kuat dan otentik. (AntaraNews)

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM, telah resmi menetapkan Sumedang sebagai titik awal pelaksanaan Milangkala Tatar Sunda. Keputusan ini diambil bukan semata-mata karena alasan administratif, melainkan didasarkan pada jejak sejarah fisik yang masih dapat ditelusuri secara nyata di wilayah tersebut. Penetapan ini bertujuan untuk menguatkan kembali identitas budaya dan sejarah masyarakat Sunda.

KDM menjelaskan bahwa landasan utama penetapan ini adalah keberadaan Mahkota Binokasih yang tersimpan di Sumedang. Artefak bersejarah ini menjadi bukti konkret perjalanan peradaban Sunda, berbeda dengan narasi sejarah lain yang lebih banyak berupa cerita atau mitologi belaka. Inisiatif ini menandai komitmen untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur budaya Sunda.

Milangkala Tatar Sunda diharapkan menjadi agenda rutin yang tidak hanya merayakan warisan budaya, tetapi juga menghubungkan kembali masyarakat dengan akar sejarahnya. Acara ini akan menjadi ruang pelestarian budaya Sunda secara lebih luas, mencakup berbagai aspek mulai dari musik, busana, hingga nilai-nilai tradisi yang masih lestari. Ini merupakan upaya strategis untuk memperkuat identitas budaya di tengah modernisasi.

Jejak Sejarah Mahkota Binokasih di Sumedang

Penetapan Sumedang sebagai titik awal Milangkala Tatar Sunda memiliki dasar yang kuat, yakni keberadaan Mahkota Binokasih. Gubernur Dedi Mulyadi menegaskan bahwa Mahkota Binokasih bukan sekadar simbol, melainkan fakta sejarah yang dapat disentuh dan dilihat. "Penetapan berlandaskan karena Mahkota Binokasih itu di Sumedang. Jadi jejak sejarah yang ada dalam wujud itu di Sumedang. Kalau yang lain kan kebanyakan narasi, cerita. Saya ingin berangkat dari fakta, bukan mitologi,” ujarnya.

Mahkota ini menjadi penanda penting dalam menelusuri kembali perjalanan Kerajaan Sunda, yang rangkaian sejarahnya meliputi Galuh, Pajajaran, hingga Sumedang Larang. Menurut KDM, Sumedang Larang memiliki peran krusial dalam kesinambungan peradaban di Tatar Sunda. Hal ini diperkuat dengan peristiwa penyerangan dan pembakaran Kerajaan Pakuan Pajajaran, yang kemudian menyebabkan pusaka-pusaka kerajaan dititipkan ke Sumedang Larang.

Posisi Sumedang Larang dalam lintasan sejarah tersebut menjadikannya memiliki keterkaitan erat dengan jejak Kerajaan Sunda yang masih dapat ditelusuri hingga kini. Mahkota Binokasih, sebagai artefak budaya, merepresentasikan perjalanan sejarah ini dan menjadi simbol utama Milangkala Tatar Sunda. Kajian akademis dari perguruan tinggi juga turut memperkuat nilai sejarah dan otentisitas Mahkota Binokasih sebagai bagian tak terpisahkan dari peradaban Sunda.

Penguatan Identitas dan Pelestarian Budaya Sunda

Milangkala Tatar Sunda tidak hanya berfokus pada aspek sejarah, tetapi juga dirancang sebagai platform untuk pelestarian budaya Sunda yang lebih komprehensif. Acara ini akan mencakup berbagai elemen budaya seperti musik, busana, dan nilai-nilai tradisi yang masih hidup di masyarakat. KDM menyoroti bagaimana setiap aspek budaya Sunda memiliki makna mendalam.

Sebagai contoh, KDM menjelaskan bahwa tata nilai musik Sunda melambangkan kelembutan. Sementara itu, busana bernuansa kerajaan Sunda telah lama memiliki nilai estetika dan "fashionable" yang tinggi. Ini menunjukkan bahwa budaya Sunda kaya akan ekspresi artistik dan filosofis yang relevan hingga saat ini.

Penetapan Milangkala Tatar Sunda sebagai agenda rutin diharapkan dapat menjadi jembatan untuk menghubungkan kembali mata rantai sejarah yang terputus. Lebih dari itu, kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat identitas budaya masyarakat Sunda secara keseluruhan. Dengan memahami dan merayakan warisan leluhur, generasi muda dapat lebih menghargai dan melestarikan kekayaan budayanya.

Kebanggaan Lokal dan Kompas Masa Depan

Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menyambut baik penetapan daerahnya sebagai titik awal Milangkala Tatar Sunda. Ia menyatakan bahwa hal ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi seluruh masyarakat Sumedang. “Ini sebuah perhelatan yang luar biasa, sarat akan makna bagaimana sebuah Milangkala menjadi cerita sejarah dan kompas bagi masa depan Jawa Barat, dan Sumedang di dalamnya,” ujarnya.

Menurut Bupati Dony, kegiatan ini bukan sekadar agenda budaya biasa, tetapi juga merupakan ruang penting untuk menguatkan kembali identitas sejarah masyarakat Sunda di Sumedang. Dengan melibatkan masyarakat secara aktif, Milangkala Tatar Sunda diharapkan dapat menumbuhkan rasa memiliki dan kebanggaan terhadap warisan budaya lokal.

Perhelatan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk menggali dan melestarikan kekayaan sejarah serta budaya masing-masing. Melalui Milangkala Tatar Sunda, Sumedang tidak hanya merayakan masa lalu, tetapi juga membangun fondasi yang kokoh untuk masa depan budaya Jawa Barat yang lebih berkarakter dan berdaya saing.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi