Pemerintah Kabupaten Bangka Barat secara aktif memfasilitasi upaya masyarakat dalam melestarikan Pesta Adat Belar, sebuah tradisi warisan leluhur yang kaya akan nilai budaya. Kegiatan ini menjadi bentuk perlindungan terhadap adat istiadat yang telah turun-temurun di wilayah tersebut. Pesta adat ini rutin dilaksanakan setiap tahun oleh warga Desa Simpangibul, Kecamatan Simpangteritip, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Pesta Adat Belar, atau yang juga dikenal sebagai Sedekah Kapong Belar, merupakan wujud rasa syukur mendalam dari masyarakat kepada Sang Pencipta. Selain itu, tradisi ini juga menjadi sarana memohon perlindungan serta kelancaran untuk segala aktivitas yang akan datang. Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka Barat, Muhammad Ferhad Irvan, menegaskan pentingnya acara ini.
Rangkaian acara Pesta Adat Belar berlangsung selama tiga hari penuh, menampilkan berbagai kegiatan keagamaan dan budaya yang sarat makna. Dari khataman Al-Quran hingga khitanan massal, setiap elemen acara dirancang untuk memperkuat nilai-nilai spiritual dan sosial di tengah masyarakat. Dukungan penuh dari Pemkab Bangka Barat memastikan kelangsungan tradisi ini sebagai bagian integral dari identitas lokal.
Advertisement
Advertisement
Pembukaan Pesta Adat Belar dengan Nuansa Religi
Rangkaian Pesta Adat Belar dimulai dengan khidmat, diawali dengan acara Khataman Al Quran bersama pada hari pertama. Kegiatan ini menjadi fondasi spiritual yang mengawali seluruh rangkaian perayaan, menegaskan nilai-nilai keagamaan yang kuat dalam tradisi masyarakat. Suasana sakral terasa kental saat warga berkumpul untuk melantunkan ayat-ayat suci.
Setelah prosesi keagamaan, kemeriahan Pesta Adat Belar berlanjut dengan pawai yang meriah. Pawai ini bukan sekadar arak-arakan, melainkan bagian integral dari ritual keagamaan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Partisipasi aktif warga menunjukkan antusiasme tinggi dalam menjaga dan merayakan warisan budaya mereka.
Pawai tersebut menjadi simbol kebersamaan dan kegembiraan, menandai dimulainya perayaan yang akan berlangsung selama beberapa hari. Setiap detail dalam pawai dirancang untuk memancarkan semangat kebersamaan dan penghormatan terhadap tradisi. Ini adalah momen penting bagi warga untuk bersatu dalam merayakan identitas budaya mereka.
Advertisement
Advertisement
Khitanan Massal dan Pawai Budaya yang Unik
Hari kedua Pesta Adat Belar diisi dengan kegiatan khitanan massal yang telah menjadi tradisi penting. Prosesi ini dimulai sejak pagi hari, saat matahari terbit, dengan ritual mandi berendam di sungai. Mandi berendam ini memiliki makna pembersihan diri sebelum menjalani prosesi sunat tradisional.
Setelah ritual mandi, anak-anak yang akan dikhitan menjalani sunat tradisional yang dilakukan oleh ahli. Kemudian, mereka menjadi pusat perhatian dalam pawai budaya yang spektakuler. Para peserta khitanan massal diarak keliling kampung menggunakan tandu berhias indah, menciptakan pemandangan yang meriah.
Pawai ini tidak hanya melibatkan peserta khitanan, tetapi juga pemimpin daerah dan tamu kehormatan yang turut diarak. Mereka dibawa keliling kampung menuju pusat acara sebagai bentuk penghormatan tertinggi dari warga. Muhammad Ferhad Irvan menjelaskan bahwa pawai tandu hias ini juga menjadi ajang silaturahmi antara warga desa dengan pejabat pemerintah serta tamu dari luar desa.
Advertisement
Advertisement
Puncak Perayaan dengan Hiburan Rakyat
Setelah serangkaian acara keagamaan dan budaya, Pesta Adat Belar mencapai puncaknya dengan pesta hiburan rakyat. Acara ini disiapkan oleh panitia pada hari terakhir, memberikan kesempatan bagi seluruh warga untuk bersuka cita dan menikmati kebersamaan. Berbagai pertunjukan seni disajikan untuk memeriahkan suasana.
Pertunjukan seni yang ditampilkan sangat beragam, mencakup pencak silat yang menunjukkan kekayaan seni bela diri tradisional. Selain itu, ada juga penampilan musik dambus, alat musik khas daerah yang memancarkan melodi unik. Hiburan musik lainnya turut memeriahkan acara, memastikan semua hadirin terhibur.
Pesta hiburan rakyat ini menjadi penutup yang sempurna untuk seluruh rangkaian Pesta Adat Belar. Momen ini memperkuat ikatan sosial antarwarga dan memberikan kenangan indah bagi semua yang hadir. Keberagaman pertunjukan seni juga menjadi bukti kekayaan budaya Bangka Barat yang patut dilestarikan.
Advertisement
Advertisement
Komitmen Pemkab Bangka Barat dalam Pelestarian Budaya
Muhammad Ferhad Irvan menyoroti bahwa inti dari Pesta Adat Belar terletak pada tradisi khitanan dan khatam Al Quran. Kedua tradisi ini merupakan upaya warga untuk menjaga dan menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada generasi muda. Hal ini sejalan dengan tujuan kegiatan untuk menjalankan perintah agama dan RasulNya.
Tujuan utama Pesta Adat Belar adalah menanamkan kepada generasi muda untuk membaca dan mengkhatamkan Al Quran, serta mengkhitankan anak-anak yang sudah akil baligh. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk mengeratkan tali silaturahmi antarwarga.
Pemerintah Kabupaten Bangka Barat memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan pesta adat ini sebagai upaya nyata melestarikan nilai-nilai tradisi luhur. Bahkan, kegiatan kebudayaan ini telah masuk dalam agenda tahunan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bangka Barat. Komitmen ini menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam menjaga warisan budaya lokal.
Advertisement
Sumber: AntaraNews