Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Hidayat Arsani, memaknai Tradisi Cheng Beng atau sembahyang kubur sebagai simbol penghormatan dan persaudaraan. Tradisi ini ditujukan kepada leluhur, orang tua, serta sanak saudara yang telah mendahului. Beliau menekankan bahwa Cheng Beng memiliki nilai lebih dari sekadar ritual keagamaan dan budaya.
Hidayat Arsani menyatakan bahwa tradisi ini mengandung makna untuk menjaga nilai-nilai kehormatan, kebersamaan, dan kepedulian sosial. Nilai-nilai tersebut merupakan warisan berharga yang ditinggalkan oleh para leluhur. Pernyataan ini disampaikan dalam keterangan yang diterima di Pangkalpinang pada Minggu, setelah menghadiri puncak Tradisi Cheng Beng.
Puncak perayaan Tradisi Cheng Beng dihadiri oleh Gubernur Hidayat Arsani di Kawasan Kampung Bintang, Pangkalpinang, pada Sabtu (4/4) malam. Tradisi sembahyang kubur ini masih terus dilestarikan oleh sebagian masyarakat Tionghoa di Indonesia setiap tahunnya. Kegiatan membersihkan makam leluhur biasanya sudah dilaksanakan dua pekan sebelum puncak Cheng Beng yang jatuh pada tanggal 4 atau 5 April.
Advertisement
Advertisement
Gubernur Hidayat Arsani menegaskan bahwa Tradisi Cheng Beng bukan hanya sekadar tradisi keagamaan dan budaya semata. Momen ini merupakan cara untuk mengenang jasa, doa, dan kasih sayang yang telah diberikan oleh para leluhur. Nilai-nilai ini menjadi fondasi penting dalam kehidupan bermasyarakat dan keluarga.
Tradisi ini mengajarkan tentang pentingnya menghargai sejarah dan menjaga silsilah keluarga secara turun-temurun. Rasa bakti dan kehormatan terhadap para pendahulu menjadi inti dari perayaan tahunan ini. Hal ini memperkuat ikatan antar generasi dan melestarikan warisan budaya yang kaya.
Momen Cheng Beng juga berfungsi sebagai perekat persaudaraan di antara sanak saudara. Banyak anggota keluarga yang telah tinggal jauh, baik di luar kota maupun di luar negeri, kembali pulang untuk berkumpul. Mereka bersama-sama menghormati dan mendoakan para leluhur, orang tua, serta saudara-saudara yang telah berpulang.
Advertisement
Gubernur berharap nilai-nilai yang terkandung dalam Cheng Beng dapat mempersatukan masyarakat Babel. Ia juga berharap tradisi ini dapat menjadikan daerah ini lebih dikenal luas, sebagai aset berharga yang harus terus dijaga dan dirawat bersama.
Advertisement
Wali Kota Pangkalpinang, Saparudin, mengungkapkan antusiasme tinggi masyarakat dalam menyambut Tradisi Cheng Beng. Menurutnya, kemeriahan acara ini menunjukkan betapa pentingnya tradisi ini bagi komunitas. Ia berharap event ini dapat mendorong Makam Sentosa, yang memiliki luas hampir 40 hektar dan merupakan salah satu pemakaman Tionghoa terbesar di Asia Tenggara, menjadi destinasi pariwisata.
Anggota Komisi I DPR Republik Indonesia, Rudianto Tjen, melihat perayaan ini sebagai sarana hiburan dan mempererat silaturahmi. Menurutnya, acara ini dirancang oleh Wali Kota dan Wakil Wali Kota Pangkalpinang untuk seluruh lapisan masyarakat. Ini menunjukkan upaya pemerintah daerah dalam memfasilitasi kegiatan budaya yang inklusif.
Rudianto Tjen juga mengapresiasi keharmonisan masyarakat Bangka Belitung yang terlihat dalam perayaan ini. Ia menambahkan bahwa selain Festival Cheng Beng, pemerintah daerah juga akan mengadakan perayaan hari besar agama lain, seperti Maulid Nabi dan Isra’ Mi’raj. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk memberikan perhatian yang sama kepada semua umat beragama.
Advertisement
Melalui perayaan Cheng Beng, diharapkan nilai-nilai bakti, hormat, dan persaudaraan semakin tertanam kuat di hati masyarakat. Tradisi ini menjadi sarana untuk membangun masyarakat yang lebih harmonis, damai, dan sejahtera, mencerminkan bahwa festival ini adalah dari rakyat dan untuk rakyat.
Sumber: AntaraNews