Tiga Prajurit Perdamaian UNIFIL Gugur di Lebanon, Jenazah Tiba di Tanah Air

Jenazah tiga prajurit perdamaian UNIFIL yang gugur saat bertugas di Lebanon telah tiba di Indonesia, memicu desakan investigasi PBB dan komitmen berkelanjutan Indonesia dalam misi perdamaian.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tiga Prajurit Perdamaian UNIFIL Gugur di Lebanon, Jenazah Tiba di Tanah Air
Tiga prajurit TNI yang gugur saat bertugas sebagai Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon telah tiba di Indonesia. Upacara penyambutan jenazah prajurit TNI gugur di Lebanon akan dipimpin langsung oleh Presiden. (AntaraNews)

Jenazah tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang gugur saat bertugas dalam misi perdamaian PBB di Lebanon telah tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Banten, pada Sabtu pukul 17.30 WIB. Kepulangan para prajurit ini disambut dengan upacara penghormatan militer yang khidmat. Upacara tersebut direncanakan akan dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo Subianto di gedung VVIP Terminal 3.

Ketiga prajurit yang gugur tersebut diidentifikasi sebagai Kapten Zulmi Aditya Iskandar, Sersan Satu Muhammad Nur Ikhwan, dan Prajurit Satu Farizal Rhomadhon. Mereka adalah bagian dari Kontingen Garuda yang bertugas di bawah bendera United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Kepergian mereka meninggalkan duka mendalam bagi bangsa Indonesia dan keluarga yang ditinggalkan.

Insiden tragis yang merenggut nyawa para prajurit ini terjadi dalam dua peristiwa terpisah di Lebanon selatan. Peristiwa ini sekaligus menyoroti risiko tinggi yang dihadapi para prajurit perdamaian dalam menjalankan tugas mulia menjaga stabilitas global. Indonesia pun kembali mendesak PBB untuk segera menginvestigasi serangan yang melibatkan pasukan penjaga perdamaiannya.

Insiden Tragis di Lebanon Selatan

Prajurit Satu Farizal Rhomadhon dilaporkan gugur akibat tembakan artileri di dekat posisi kontingen UNIFIL Indonesia di Adchit Al Qusayr, Lebanon selatan, pada 29 Maret. Insiden ini menunjukkan betapa rentannya situasi di wilayah konflik tersebut. Serangan mendadak tersebut menewaskan Prajurit Satu Rhomadhon saat menjalankan tugasnya.

Sehari setelah insiden pertama, Kapten Zulmi dan Sersan Satu Ikhwan juga gugur dalam operasi konvoi pengawalan. Peristiwa ini terjadi pada 30 Maret, menambah daftar panjang korban dalam misi perdamaian. Kedua insiden ini terjadi dalam waktu yang berdekatan, menimbulkan kekhawatiran serius terhadap keselamatan pasukan perdamaian.

Selain tiga prajurit yang gugur, lima prajurit Indonesia lainnya juga mengalami luka-luka dalam insiden tersebut. Mereka adalah Letnan Satu Sulthan Wirdean Maulana, Prajurit Deni Rianto, Prajurit Rico Pramudia, Prajurit Bayu Prakoso, dan Prajurit Arif Kurniawan. Para prajurit yang terluka ini kini membutuhkan perawatan medis dan pemulihan.

Pada 3 April, insiden lain kembali terjadi di El Addaiseh, Lebanon selatan, yang mengakibatkan tiga personel Indonesia tambahan terluka. Ledakan ini semakin mempertegas perlunya langkah-langkah perlindungan yang lebih kuat bagi pasukan perdamaian. Rentetan insiden ini menggarisbawahi kondisi keamanan yang tidak stabil di wilayah tersebut.

Desakan Indonesia untuk Investigasi PBB

Menyikapi serangkaian insiden yang menimpa prajuritnya, Indonesia kembali mendesak Dewan Keamanan PBB untuk menginvestigasi serangan tersebut. Desakan ini disampaikan setelah insiden ledakan pada 3 April yang melukai tiga personel tambahan. Indonesia menekankan pentingnya akuntabilitas dan perlindungan bagi pasukan perdamaian.

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Republik Indonesia, dalam pernyataannya pada Sabtu, menyatakan keprihatinan mendalam atas insiden terbaru. Kemlu menyerukan tindakan segera dari komunitas internasional. Pernyataan ini mencerminkan keseriusan Indonesia dalam menanggapi keselamatan prajuritnya.

“Indonesia menyerukan kepada Dewan Keamanan PBB untuk segera menangani masalah ini dan kepada negara-negara penyumbang pasukan dan polisi UNIFIL untuk mengadakan pertemuan guna memperkuat langkah-langkah perlindungan pasukan,” demikian pernyataan Kemlu. Permintaan ini bertujuan untuk memastikan bahwa insiden serupa tidak terulang di masa mendatang.

Penghormatan Militer dan Komitmen Berkelanjutan

Sebelumnya, UNIFIL telah mengadakan upacara penghormatan bagi ketiga prajurit yang gugur di hanggar Angkatan Udara Lebanon di Beirut pada 2 April. Upacara tersebut dipimpin oleh Komandan Pasukan UNIFIL dan Kepala Misi Mayor Jenderal Diodato Abagnara. Ini merupakan bentuk penghormatan terakhir dari misi perdamaian.

Upacara tersebut juga dihadiri oleh para diplomat Indonesia, termasuk Duta Besar untuk Lebanon, serta perwakilan dari Markas Besar PBB di New York. Pejabat militer Lebanon dan anggota kontingen penjaga perdamaian internasional turut hadir. Kehadiran berbagai pihak menunjukkan solidaritas internasional.

Pihak berwenang menyatakan bahwa proses repatriasi jenazah dilakukan dengan penghormatan militer penuh. Dua pesawat Angkatan Udara Indonesia, CN-295 dan C-130J, telah disiapkan di Bandara Soekarno-Hatta untuk mengangkut jenazah ke kampung halaman mereka di Bandung dan Yogyakarta untuk dimakamkan.

Repatriasi ini menegaskan kembali komitmen berkelanjutan Indonesia terhadap misi perdamaian PBB di luar negeri. Meskipun menghadapi tantangan dan risiko, Indonesia tetap teguh dalam perannya menjaga perdamaian dunia. Komitmen ini merupakan bagian dari kontribusi Indonesia untuk stabilitas global.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi