Pusat Industri Garam Nasional Rote Ndao Ditargetkan Rampung Juni 2026, Siap Kurangi Impor

Pembangunan Pusat Industri Garam Nasional Rote Ndao di NTT ditargetkan selesai Juni 2026. Proyek strategis ini diharapkan mengurangi impor garam dan serap ribuan tenaga kerja.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Pusat Industri Garam Nasional Rote Ndao Ditargetkan Rampung Juni 2026, Siap Kurangi Impor
Proyek Strategis Nasional Kawasan Industri Garam Nasional Rote di Rote Ndao, NTT, ditargetkan rampung Juni 2026. Proyek ini diharapkan memperkuat kemandirian industri dan serap puluhan ribu tenaga kerja lokal. (AntaraNews)

Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Johni Asadoma, menargetkan penyelesaian pembangunan Pusat Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Kabupaten Rote Ndao pada Juni 2026. Proyek strategis ini merupakan upaya pemerintah untuk memperkuat kemandirian industri garam domestik. Hingga saat ini, progres pembangunan sudah mencapai 92 persen dan terus dikebut.

K-SIGN Rote Ndao diharapkan menjadi solusi konkret untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor garam. Selain itu, proyek ini juga diproyeksikan akan menciptakan puluhan ribu lapangan kerja baru bagi masyarakat setempat. Kehadiran K-SIGN sangat vital bagi peningkatan kesejahteraan ekonomi di NTT.

Peninjauan lokasi proyek oleh Wakil Gubernur Asadoma pada Sabtu (28/3) menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung percepatan pembangunan. Pemerintah provinsi dan kabupaten siap mengintervensi jika terdapat hambatan di lapangan. Sinergi antara berbagai pihak menjadi kunci utama kesuksesan proyek ini.

Percepatan Pembangunan dan Dukungan Pemerintah Daerah

Pembangunan Pusat Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Rote Ndao telah menunjukkan kemajuan signifikan, dengan progres mencapai 92 persen. Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, secara langsung memantau perkembangan Proyek Strategis Nasional (PSN) ini. Ia menekankan pentingnya penyelesaian tepat waktu sesuai target Juni 2026.

Pemerintah Provinsi dan Kabupaten Rote Ndao menyatakan kesiapan penuh untuk memberikan dukungan. Mereka berkomitmen untuk mengatasi berbagai kendala yang mungkin muncul di lapangan. Intervensi cepat diharapkan dapat menjaga jadwal konstruksi agar tetap sesuai rencana.

Erwan Fatrianstah, Project Manager PT Nindya Karya, menjelaskan bahwa infrastruktur utama proyek, yaitu pembangunan tanggul, hampir rampung. Pekerjaan saat ini telah memasuki tahap penyelesaian akhir. Fase pertama K-SIGN ditargetkan selesai pada pertengahan tahun ini.

Dampak Ekonomi dan Penyerapan Tenaga Kerja Lokal

Pembentukan zona industri garam nasional di Rote Ndao adalah langkah strategis pemerintah untuk mengurangi impor garam dan memperkuat swasembada industri. Proyek ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan garam nasional. Ini juga akan memberikan kontribusi besar terhadap ketahanan pangan dan industri.

K-SIGN Rote Ndao diproyeksikan akan menciptakan potensi 26.000 lapangan kerja baru. Dari jumlah tersebut, 80 hingga 90 persen akan dialokasikan untuk pekerja lokal. Hal ini menjadi angin segar bagi masyarakat NTT yang masih menghadapi tingkat pengangguran cukup tinggi.

Wakil Gubernur Asadoma menyebutkan bahwa saat ini terdapat sekitar 125.000 pengangguran di provinsi tersebut. Kehadiran proyek strategis nasional seperti K-SIGN ini sangat signifikan. Ini akan menjadi pendorong ekonomi baru dan solusi nyata untuk menekan angka pengangguran.

Sinergi Lintas Sektor untuk Keberhasilan Proyek

Wakil Gubernur Johni Asadoma menyampaikan apresiasi tinggi kepada pemerintah pusat, khususnya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Apresiasi juga diberikan kepada semua pihak yang terlibat dalam percepatan pembangunan proyek ini. Dukungan dari berbagai elemen sangat krusial.

Keberhasilan Proyek Strategis Nasional sangat bergantung pada sinergi lintas sektor yang kuat. Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan sektor swasta sebagai pelaksana proyek menjadi kunci utama. Kerja sama yang solid akan memastikan proyek berjalan lancar dan mencapai tujuannya.

PT Nindya Karya, sebagai pelaksana, terus berupaya menyelesaikan pembangunan sesuai target. Ketersediaan infrastruktur pendukung dan kesiapan sumber daya manusia lokal juga menjadi fokus. Dengan demikian, K-SIGN dapat beroperasi optimal setelah rampung.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi