Warga Agam Tetap Jaga Silaturahmi Idul Fitri di Tengah Pemulihan Bencana Banjir Bandang

Meski dilanda bencana banjir bandang dan longsor, warga Kabupaten Agam tetap menjaga tradisi Silaturahmi Idul Fitri dengan kesederhanaan, menunjukkan semangat kebersamaan di masa pemulihan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Warga Agam Tetap Jaga Silaturahmi Idul Fitri di Tengah Pemulihan Bencana Banjir Bandang
Meski dilanda bencana banjir bandang dan longsor, warga Kabupaten Agam tetap menjaga tradisi Silaturahmi Idul Fitri dengan kesederhanaan, menunjukkan semangat kebersamaan di masa pemulihan. (AntaraNews)

Warga Kabupaten Agam, Sumatera Barat, tetap melestarikan tradisi silaturahmi Idul Fitri meskipun berada dalam bayang-bayang dampak bencana. Tradisi ini dilakukan secara sederhana di sejumlah nagari yang terdampak banjir bandang dan longsor. Semangat kebersamaan terpancar kuat di tengah upaya pemulihan pascabencana yang melanda wilayah tersebut.

Perayaan Idul Fitri tahun ini terasa berbeda bagi masyarakat, terutama di Nagari Sungai Batang dan Nagari Maninjau. Mereka tetap melaksanakan shalat Idul Fitri pada Jumat, kemudian saling bermaaf-maafan. Kondisi ini menunjukkan keteguhan warga dalam menjaga nilai-nilai keagamaan dan sosial.

Meskipun kemeriahan seperti tahun-tahun sebelumnya tidak lagi terasa, silaturahmi tetap menjadi prioritas utama. Kunjungan ke rumah sanak saudara terdekat menjadi pilihan. Hal ini mencerminkan adaptasi dan ketahanan masyarakat Agam dalam menghadapi cobaan.

Semangat Kebersamaan di Nagari Terdampak Bencana

Di Jorong Labuah, Nagari Sungai Batang, perayaan Idul Fitri berlangsung dengan nuansa kesederhanaan. Warga yang rumahnya berada di tepi sungai yang kering dan dipenuhi bebatuan merayakan hari raya tanpa kemeriahan seperti biasa. Mereka beradaptasi dengan kondisi pascabencana yang masih terasa.

Salah satu warga, Alimin, mengungkapkan bahwa suasana sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Banyak tetangga yang pindah, sehingga kemeriahan tidak lagi sama. Ia tetap membuka pintu rumahnya untuk silaturahmi, meskipun hanya dengan sanak saudara yang masih terjangkau di sekitar wilayah tersebut.

Hidangan Lebaran di rumah Alimin pun menunjukkan dampak bencana. Hanya tersaji kue-kue bantuan yang ditata seadanya, serta daging rendang yang juga berasal dari sumbangan. Bekas bencana masih jelas terlihat, dengan bebatuan besar menutupi bagian samping dan depan rumah, menciptakan suasana kampung yang lengang.

Tradisi Silaturahmi Tetap Hidup di Nagari Maninjau

Suasana sedikit berbeda terlihat di Jorong Bancah, Nagari Maninjau, yang merupakan tetangga Nagari Sungai Batang. Aktivitas saling mengunjungi antarwarga masih berlangsung di jalan-jalan utama. Hal ini menciptakan nuansa Idul Fitri yang lebih semarak dibandingkan wilayah lain.

Rina, salah satu warga, sibuk bermaaf-maafan dengan tetangga dan sanak saudaranya. Ia juga menyiapkan biskuit dan kue seadanya untuk menyambut tamu yang datang berkunjung. Ini menunjukkan upaya warga untuk tetap menjaga tradisi silaturahmi Idul Fitri meski dalam keterbatasan.

Rumah orang tua Rina sempat terendam air cukup tinggi saat banjir bandang melanda wilayah tersebut. Bekas lumpur yang telah dibersihkan kini ditumpuk di sisi rumah, bahkan sampai menutupi kolam empang. Meskipun demikian, Rina menegaskan bahwa silaturahmi ke keluarga terdekat tetap dilakukan.

Tradisi "Manambang" dan Dampak Bencana

Di tengah pemulihan pascabencana, tradisi khas anak-anak Ranah Minang, yaitu "manambang", tetap hidup. Anak-anak usia sekolah dasar terlihat berkeliling dari rumah ke rumah. Mereka menerima uang tunai atau Tunjangan Hari Raya (THR) dari saudara dan tetangga, menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idul Fitri.

Bencana banjir bandang dan longsor pada November lalu meninggalkan dampak signifikan. Data dari Dashboard Satu Data Bencana Sumatera Barat menunjukkan kerusakan parah. Di Nagari Sungai Batang, 272 unit bangunan mengalami kerusakan ringan hingga berat, dengan total kerugian mencapai Rp98,7 miliar.

Sementara itu, Nagari Maninjau juga tidak luput dari dampak bencana. Sebanyak 2 unit rumah hanyut dan hilang, serta 115 unit lainnya terdampak kerusakan. Kerugian di Nagari Maninjau diperkirakan mencapai Rp44,8 miliar, menunjukkan skala kerusakan yang cukup besar di kedua nagari tersebut.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi