Haedar Nashir Imbau Elite Bangsa Jadi Teladan Jaga Persatuan di Tengah Perbedaan Idul Fitri

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengimbau elite bangsa menjadi teladan dalam menjaga **persatuan bangsa** di tengah perbedaan Idul Fitri. Ia mengajak semua pihak menahan diri dan menghindari ujaran provokatif.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Haedar Nashir Imbau Elite Bangsa Jadi Teladan Jaga Persatuan di Tengah Perbedaan Idul Fitri
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengimbau elite bangsa menjadi teladan dalam menjaga **persatuan bangsa** di tengah perbedaan Idul Fitri. Ia mengajak semua pihak menahan diri dan menghindari ujaran provokatif. (AntaraNews)

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan imbauan penting kepada seluruh elite bangsa. Ia mengajak mereka untuk menjadi teladan utama dalam menjaga persatuan di tengah masyarakat. Imbauan ini disampaikan pada Jumat, 20 Maret, saat pelaksanaan Shalat Idul Fitri di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Seruan ini muncul menyikapi adanya perbedaan penetapan Idul Fitri 1447 Hijriah yang berpotensi memicu perpecahan. Haedar Nashir menekankan agar tidak mempertajam perbedaan yang ada. Ia juga mengingatkan pentingnya menghindari pembenaran diri dengan menyalahkan pihak lain.

Guru besar bidang Ilmu Sosiologi ini menegaskan, baik dalam konteks kewargaan maupun pemerintahan, semua pihak harus mampu menahan diri. Tujuannya adalah agar suasana tetap kondusif dan persatuan bangsa tetap terjaga, terutama di momen hari raya yang sakral ini.

Menghindari Perpecahan dan Menjaga Kekhusyukan Idul Fitri

Dalam khutbahnya, Haedar Nashir secara tegas mengajak tokoh agama dan elite bangsa untuk menghindari pernyataan atau ujaran yang dapat memperkeruh suasana di tengah masyarakat. Ia menekankan bahwa momen Idul Fitri seharusnya dijalani dengan kekhusyukan ibadah serta kejernihan jiwa dan pikiran.

Menurutnya, tidak ada gunanya mempertajam perbedaan, apalagi mencari pembenaran diri yang justru menyalahkan pihak lain. Sikap menahan diri sangat krusial, baik bagi warga negara maupun pihak pemerintahan, demi menjaga kondusifitas dan **persatuan bangsa**.

Haedar berharap Idul Fitri dapat dijalani dengan khusyuk, terlepas dari kapan perayaan itu dilakukan, baik pada 20 maupun 21 Maret, bahkan yang lebih dahulu. Hal ini penting agar masyarakat tidak terjebak dalam hasrat perbedaan yang justru dapat meretakkan persatuan.

Harapan Kalender Global dan Kedewasaan Bangsa

Haedar Nashir menyatakan optimismenya terhadap kedewasaan bangsa Indonesia dalam menyikapi perbedaan penetapan hari besar keagamaan. Ia percaya bahwa perbedaan tersebut dapat disikapi secara wajar dan tidak akan menjadi sumber konflik di masyarakat.

Lebih lanjut, ia menyampaikan harapan agar ke depan dunia Islam dapat memiliki kalender global tunggal. Adanya kalender tunggal ini diharapkan mampu meminimalisasi perbedaan penetapan hari besar keagamaan di masa mendatang.

Menurut Haedar, perbedaan tersebut dapat diminimalisasi jika ada keterbukaan hati dan pikiran, serta didasarkan pada ilmu pengetahuan yang tinggi. Ini menunjukkan pentingnya pendekatan ilmiah dan dialog terbuka untuk mencapai kesepahaman demi **persatuan bangsa**.

Keteladanan Elite untuk Kemajuan Bangsa

Pentingnya keteladanan dari elite bangsa menjadi poin utama yang ditekankan Haedar Nashir. Ia menegaskan bahwa elite memiliki peran vital dalam menjaga persatuan, perdamaian, dan toleransi.

Selain itu, elite juga diharapkan dapat mendorong kemajuan umat dan bangsa secara keseluruhan. Mereka harus mampu menjadi uswah hasanah atau teladan yang baik bagi rakyatnya dalam menciptakan persatuan, perdamaian, toleransi, dan kemajuan.

Haedar mengingatkan bahwa Indonesia masih memiliki berbagai ketertinggalan yang memerlukan kerja keras bersama dari seluruh komponen bangsa. Oleh karena itu, peran elite sebagai penggerak dan teladan sangat dibutuhkan untuk mencapai cita-cita kemajuan **persatuan bangsa** tersebut.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi