Pentingnya Peran Orang Tua Batasi Gawai Anak: Jadi Contoh Utama di Rumah

Psikolog anak menekankan pentingnya Peran Orang Tua Batasi Gawai Anak dengan menjadi teladan di rumah, sebab anak meniru perilaku orang dewasa.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Pentingnya Peran Orang Tua Batasi Gawai Anak: Jadi Contoh Utama di Rumah
Psikolog anak menekankan pentingnya Peran Orang Tua Batasi Gawai Anak dengan menjadi teladan di rumah, sebab anak meniru perilaku orang dewasa. (AntaraNews)

Psikolog anak terkemuka, Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., Psikolog, menegaskan urgensi Peran Orang Tua Batasi Gawai Anak dengan menjadi teladan utama di lingkungan rumah. Ia menyoroti bahwa efektivitas pembatasan akses digital bagi anak sangat bergantung pada konsistensi perilaku orang tua. Tanpa contoh nyata dari orang tua, aturan yang diterapkan cenderung tidak memberikan dampak signifikan pada anak.

Prof. Rose Mini menjelaskan bahwa anak-anak memiliki kecenderungan kuat untuk meniru apa yang mereka saksikan setiap hari dari orang dewasa di sekitarnya. Jika orang tua meminta anak mengurangi penggunaan ponsel namun tetap asyik dengan gawai, pesan yang diterima anak menjadi kontradiktif. Situasi ini dapat menciptakan kebingungan dan bahkan perlawanan dari anak terhadap aturan yang ditetapkan.

Interaksi yang terhambat akibat orang tua yang terus berinteraksi dengan gawai juga dapat membuat anak merasa tidak memiliki ruang untuk berkomunikasi. Kondisi ini berpotensi mendorong anak kembali mencari kenyamanan di dunia digital mereka sendiri. Oleh karena itu, konsistensi dan contoh langsung dari orang tua menjadi kunci utama dalam membentuk kebiasaan penggunaan gawai yang sehat pada anak.

Teladan Orang Tua: Kunci Pembatasan Gawai Efektif

Prof. Rose Mini Agoes Salim dengan tegas menyatakan bahwa orang tua berperan sebagai cerminan bagi anak-anak mereka. "Jangan minta anak tidak banyak menggunakan gadget kalau orang tuanya sendiri tidak bisa lepas dari handphone," ujarnya. Pernyataan ini menyoroti pentingnya konsistensi antara perkataan dan perbuatan orang tua dalam mendidik anak.

Ketika orang tua terus-menerus terpaku pada ponsel saat berada di rumah, terutama ketika bersama keluarga, anak-anak dapat merasakan dampak negatifnya. Mereka mungkin merasa diabaikan atau tidak memiliki kesempatan untuk berinteraksi dan berbicara dengan orang tua. Kualitas waktu bersama keluarga menjadi tereduksi akibat dominasi gawai.

Situasi ini, menurut Prof. Rose Mini, dapat memicu anak-anak untuk mencari pelarian kembali ke dunia digital mereka sendiri. Apabila anak merasa kesulitan berkomunikasi atau berinteraksi secara langsung dengan orang tua, gawai menjadi alternatif yang menarik. Ini menciptakan lingkaran setan di mana kedua belah pihak justru semakin terjerat dalam penggunaan perangkat digital.

Regulasi dan Alternatif Kegiatan untuk Anak

Penerapan aturan pembatasan akses anak ke platform digital, seperti media sosial dan gim, memerlukan dukungan penuh dari orang tua. Prof. Rose Mini mengemukakan bahwa orang tua perlu memiliki kontrol diri yang kuat agar dapat menjadi contoh nyata bagi anak dalam membatasi penggunaan gawai. Ini adalah langkah fundamental sebelum menerapkan regulasi pada anak.

Selain menjadi teladan, orang tua juga harus berupaya menghadirkan alternatif kegiatan yang menarik untuk anak-anak. Pembatasan akses ke perangkat elektronik dan platform digital bisa menimbulkan kebingungan atau bahkan perlawanan jika anak tidak diberikan pilihan aktivitas lain. Kreativitas orang tua sangat dibutuhkan dalam menciptakan lingkungan yang mendukung.

Prof. Rose Mini menyarankan agar orang tua aktif mengajak anak melakukan kegiatan bersama, seperti berolahraga atau mengerjakan proyek sederhana di rumah. Aktivitas semacam ini tidak hanya membangun komunikasi yang lebih baik antara orang tua dan anak, tetapi juga membantu anak menyesuaikan diri dengan pembatasan gawai. "Regulasi itu membantu orang tua. Tapi yang membimbing tetap orang tua. Mereka harus kreatif dan konsisten," katanya.

Peran aktif dan konsisten dari orang tua dalam menerapkan aturan pembatasan ini krusial. Hal ini akan mencegah anak menggunakan gawai dan platform digital secara berlebihan, yang pada akhirnya dapat berdampak buruk terhadap kesehatan fisik dan mental mereka. Keseimbangan antara pembatasan dan penyediaan alternatif menjadi kunci keberhasilan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi