Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) tengah berkoordinasi intensif dengan Balai Wilayah Sungai (BWSS) Provinsi Gorontalo. Koordinasi ini dilakukan untuk penanganan pascabanjir yang melanda sejumlah desa di Kecamatan Moutong, Sulawesi Tengah. Langkah ini diambil guna mempercepat proses **Normalisasi Sungai Pasca Banjir Parimo** yang menyebabkan kerugian signifikan bagi warga setempat.
Banjir bandang tersebut terjadi pada Sabtu (7/3) di Desa Moutong Tengah dan Moutong Utara, dipicu oleh hujan lebat yang mengguyur wilayah tersebut. Akibatnya, air sungai meluap hingga menggenangi permukiman warga serta lahan pertanian. Sebanyak 341 Kepala Keluarga (KK) atau 1.089 jiwa terdampak langsung oleh bencana hidrometeorologi ini.
Kepala BPBD Parigi Moutong, Moh Rivai, menjelaskan bahwa penanganan sungai di wilayah perbatasan Sulawesi Tengah dan Gorontalo ini menjadi kewenangan BWSS Gorontalo. Oleh karena itu, koordinasi menjadi krusial untuk menentukan langkah penanganan lebih lanjut. Tim reaksi cepat (TRC) BPBD setempat telah melakukan kaji cepat untuk mengidentifikasi dampak dan kebutuhan mendesak.
Advertisement
Advertisement
Dampak Banjir dan Penanganan Darurat
Banjir yang melanda Desa Moutong Tengah dan Moutong Utara pada Sabtu (7/3) telah berdampak pada ratusan keluarga. Data awal menunjukkan 341 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 1.089 jiwa terdampak bencana hidrometeorologi ini. Beruntungnya, laporan kaji cepat tim reaksi cepat (TRC) BPBD setempat tidak mencatat adanya korban jiwa maupun kerusakan infrastruktur yang parah.
Situasi banjir saat ini menunjukkan perbedaan di dua desa terdampak. "Saat ini banjir mulai surut di Desa Moutong Utara, sedangkan Desa Moutong Tengah banjir masih terjadi karena bertepatan dengan air laut pasang," ujar Moh Rivai. Kondisi ini menyebabkan warga di Desa Moutong Tengah masih harus berhadapan dengan genangan air. Meskipun demikian, warga di kedua desa tersebut dilaporkan tetap bertahan di rumah masing-masing, menunjukkan ketahanan mereka menghadapi bencana.
Selain permukiman, lahan pertanian milik warga juga terkena imbas serius dari luapan air sungai. Kerusakan pada sektor pertanian ini tentu akan berdampak pada mata pencarian sebagian besar penduduk. BPBD Parimo terus melakukan penanganan darurat, termasuk pemutakhiran data dan asesmen lapangan. Langkah ini bertujuan untuk memperkaya informasi kebencanaan dan memastikan respons yang tepat sasaran di wilayah terdampak.
Advertisement
Advertisement
Urgensi Normalisasi dan Perbaikan Drainase
Kepala BPBD Parigi Moutong, Moh Rivai, menegaskan bahwa koordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWSS) Provinsi Gorontalo menjadi kunci utama dalam upaya **Normalisasi Sungai Pasca Banjir Parimo**. Mengingat Moutong merupakan wilayah perbatasan antara Sulawesi Tengah dan Gorontalo, kewenangan penanganan sungai berada di bawah BWSS Gorontalo. Kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat tindakan preventif dan rehabilitatif yang diperlukan.
Selain normalisasi sungai, warga setempat juga sangat membutuhkan perbaikan sistem drainase. Sistem drainase yang ada saat ini dinilai tidak lagi ideal untuk menampung debit air yang tinggi, terutama saat hujan lebat berlangsung berjam-jam. Perbaikan drainase menjadi krusial untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang dan memastikan aliran air dapat terkendali dengan baik.
Meskipun air masih menggenangi beberapa rumah, BPBD melaporkan bahwa warga setempat tetap melaksanakan aktivitas sehari-hari. Kebutuhan logistik makanan belum menjadi prioritas utama karena warga masih dapat mengatasi kebutuhan pangan mereka secara mandiri. "Kebutuhan mendesak bagi mereka yakni pembangunan/perbaikan sistem saluran air," kata dia, menyoroti pentingnya infrastruktur penunjang untuk keberlanjutan hidup warga.
Advertisement
Sumber: AntaraNews