Bencana banjir bandang yang melanda Dusun Ranto Panyang Rubek, Aceh Timur, meninggalkan dampak signifikan pada kondisi geografis setempat. Salah satunya adalah perubahan drastis pada Sungai Arakundo yang kini melebar dan berarus lebih deras. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan warga penyintas yang setiap hari berinteraksi dengan sungai tersebut.
Warga di Desa Sijudo, Pante Bidari, Aceh Timur, mengungkapkan bahwa lebar sungai bertambah sekitar 30 meter dari kondisi semula. Perubahan ini membuat mereka merasa tidak aman, terutama saat harus menyeberangi sungai untuk berbagai keperluan. Kondisi arus yang semakin deras juga mengikis tepian sungai, menambah risiko bagi aktivitas warga.
Ridwan (40), seorang operator perahu rakit, menjadi saksi langsung perubahan ini dan merasakan dampaknya setiap hari. Ia mengoperasikan jasa penyeberangan yang vital bagi mobilitas warga antara Kabupaten Aceh Timur dan Aceh Utara. Ketiadaan jembatan permanen membuat jasa penyeberangan rakit menjadi satu-satunya pilihan bagi banyak orang.
Advertisement
Advertisement
Dampak Banjir Bandang: Sungai Arakundo Melebar dan Berarus Deras
Pascabencana banjir bandang, Sungai Arakundo di Dusun Ranto Panyang Rubek mengalami perubahan fisik yang mencolok. Ridwan, warga setempat, menyatakan bahwa pinggiran sungai kini jauh lebih lebar, dengan perkiraan penambahan sekitar 30 meter dari lebar semula yang sekitar 100 meter. Perubahan ini menciptakan kondisi yang lebih berbahaya dengan munculnya gelombang yang sebelumnya tidak ada.
Arus sungai juga menjadi lebih deras, seperti yang diamati langsung oleh ANTARA di lokasi. Derasnya arus ini tidak hanya mengancam keselamatan penyeberang, tetapi juga secara bertahap mengikis tepian sungai yang menjadi tempat kapal rakit Ridwan bersandar. Fenomena ini berpotensi mengubah lanskap sungai lebih lanjut dan menimbulkan kerugian material bagi warga sekitar.
Kekhawatiran warga sangat beralasan mengingat ketergantungan mereka pada sungai untuk aktivitas sehari-hari. Kondisi sungai yang tidak stabil pascabanjir ini menjadi tantangan besar. Mereka harus ekstra hati-hati dalam beraktivitas di sekitar Sungai Melebar Aceh Timur ini.
Advertisement
Advertisement
Jasa Penyeberangan Rakit: Penopang Mobilitas di Tengah Keterbatasan
Di tengah kondisi sungai yang menantang, jasa penyeberangan perahu rakit yang dioperasikan Ridwan menjadi krusial. Jasa ini menghubungkan dua kabupaten, Aceh Timur dan Aceh Utara, memungkinkan warga untuk bekerja, mengangkut hasil kebun, berjualan, atau guru mengajar. Perahu rakit Ridwan mampu mengangkut lima hingga delapan sepeda motor dalam sekali jalan.
Ridwan tidak mematok tarif khusus untuk jasanya, memberikan kelonggaran bagi warga yang membutuhkan. Pembayaran bersifat sukarela, mulai dari Rp3 ribu hingga Rp10 ribu, tergantung kemampuan warga. Bahkan, Ridwan tidak meminta bayaran sama sekali untuk warga yang mengantar orang sakit, menunjukkan kepedulian sosial yang tinggi.
Pengguna jasa seperti Tokli mengonfirmasi pentingnya layanan ini. Ia menyatakan bahwa meskipun arus deras, perahu rakit Ridwan cukup stabil. Namun, keterbatasan akses tetap menjadi masalah utama karena tidak adanya jembatan permanen.
Advertisement
Advertisement
Harapan Warga Akan Infrastruktur Jembatan Permanen
Sebelumnya, terdapat jembatan apung di Sungai Arakundo yang memudahkan mobilitas warga. Namun, jembatan tersebut terputus akibat bencana dan hingga kini belum ada tanda-tanda akan dibangun kembali. Kondisi ini memaksa warga untuk bergantung sepenuhnya pada jasa penyeberangan rakit.
Tokli, salah satu pengguna setia jasa Ridwan, mengungkapkan kerinduannya akan jembatan permanen. "Tetapi kalau ada jembatan kan enak, bisa mondar-mandir. Saat ini terbatas,” ujarnya. Kehadiran jembatan akan sangat membantu kelancaran aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat di kedua sisi sungai.
Pembangunan kembali jembatan menjadi harapan besar bagi warga Aceh Timur untuk memulihkan konektivitas dan mendukung perekonomian lokal. Infrastruktur yang memadai sangat dibutuhkan untuk mengurangi risiko dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat pascabencana.
Advertisement
Sumber: AntaraNews