Ramadhan di Huntara: Kisah Pilu Penyintas Banjir Bandang Agam Rayakan Bulan Suci

Ramadhan 1447 Hijriah membawa duka mendalam bagi penyintas banjir bandang di Agam. Mereka harus merayakan Ramadhan di Huntara, merasakan pahitnya kehilangan di tengah bulan penuh berkah.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Ramadhan di Huntara: Kisah Pilu Penyintas Banjir Bandang Agam Rayakan Bulan Suci
Ramadhan 1447 Hijriah membawa duka mendalam bagi penyintas banjir bandang di Agam. Mereka harus merayakan Ramadhan di Huntara, merasakan pahitnya kehilangan di tengah bulan penuh berkah. (AntaraNews)

Bulan suci Ramadhan selalu disambut dengan suka cita oleh umat muslim di seluruh dunia, tak terkecuali di Sumatera Barat. Tradisi membeli daging sapi dan bumbu untuk rendang sehari sebelum puasa menjadi pemandangan umum, menyiapkan hidangan pembuka sahur dan berbuka yang dinanti. Momen Ramadhan pertama kerap menjadi ajang berkumpulnya keluarga besar, menikmati kebersamaan yang hangat.

Namun, kehangatan Ramadhan 1447 Hijriah ini terasa berbeda dan penuh pilu bagi para penyintas banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera Barat. Banyak di antara mereka yang kini harus menjalani ibadah puasa di tempat hunian sementara (Huntara), jauh dari rumah dan kebiasaan lama. Kehilangan anggota keluarga dan tempat tinggal membuat Ramadhan kali ini menjadi ujian berat yang tak pernah terbayangkan.

Di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, para korban bencana yang kini menempati Huntara SD Negeri 05 Kayu Pasak merasakan betul pahitnya kenyataan ini. Mereka berjuang untuk tetap menjalani ibadah puasa dengan ketabahan, meski hati mereka dipenuhi kesedihan mendalam akibat kehilangan orang-orang terkasih dan harta benda. Ramadhan di Huntara menjadi saksi bisu perjuangan mereka untuk bangkit.

Duka Mendalam Yuni Efnita di Ramadhan Penuh Ujian

Yuni Efnita, warga Jorong Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, adalah salah satu penyintas yang merasakan betul beratnya Ramadhan 1447 Hijriah. Ia kehilangan adik perempuan dan keponakannya yang baru berusia lima tahun, keduanya menjadi korban galodo atau banjir bandang yang melanda pada 27 November 2025. "Ramadhan tahun ini, hati saya sangat sedih," ujar Yuni sambil meneteskan air mata, mengungkapkan duka yang mendalam.

Sejak menetap di Huntara, Yuni tak henti bersedih melihat kedua keponakannya yang kini tanpa ibu kandung. Kesedihannya semakin bertambah saat menyaksikan kedua bocah malang itu menangis setiap kali ayah mereka pergi bekerja. "Iba hati saya melihat anak-anaknya setiap bertemu. Apalagi ini suasana bulan Suci Ramadhan," katanya, air matanya tak terbendung.

Sebagai seorang ibu, Yuni juga harus menghadapi pertanyaan berulang dari ketiga buah hatinya mengenai perubahan drastis dalam hidup mereka. Ia berusaha menjelaskan dengan penuh kasih sayang mengapa mereka kini harus tidur, makan sahur, dan berbuka puasa di ruangan berdinding asbes yang sederhana. Meskipun berat, anak-anaknya perlahan mulai memahami kondisi tersebut.

Beruntung, didikan keagamaan sejak dini yang ditanamkan Yuni dan suaminya menjadi pondasi kuat bagi anak-anaknya untuk menerima kenyataan. Anak-anaknya, bahkan yang masih duduk di bangku sekolah dasar, sudah terbiasa melaksanakan puasa sunah Senin dan Kamis, modal penting dalam menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1447 Hijriah ini. Di Huntara, mereka tetap berupaya menjalankan ibadah dengan penuh keikhlasan.

Ketabahan Ibnu Riaga di Tengah Kehilangan Ramadhan

Kisah pilu serupa dialami oleh Ibnu Riaga, yang juga harus menjalani sahur dan berbuka puasa pertama di Huntara SD Negeri 05 Kayu Pasak. Perasaan Ibnu bercampur aduk; di satu sisi ia bersyukur masih dapat bertemu Ramadhan, namun di sisi lain ia merasakan kesedihan mendalam karena kehilangan istri tercinta dan seorang anak akibat banjir bandang pada 27 November 2025.

Momen sahur dan berbuka puasa di Huntara menjadi dilema yang tak pernah terbayangkan olehnya. Ia ditemani dua anaknya, saudara perempuan, kakak ipar, dan kemenakan yang datang dari Aceh. Meskipun ada keluarga yang menemani, kesedihan tak bisa ia sembunyikan karena untuk pertama kalinya ia tidak ditemani istri dan buah hatinya yang telah berpulang.

Ibnu mengenang bagaimana istrinya selalu membangunkannya untuk sahur, bahkan seringkali memarahinya karena ia kerap tertidur kembali. "Saya seperti anak kecil setiap makan sahur. Setiap dibangunkan makan sahur, saya selalu tertidur," kenangnya sambil tersenyum tipis, mengingat memori indah yang kini tinggal kenangan.

Meski pukulan kehilangan istri dan anak sangat telak, Ibnu percaya bahwa Tuhan tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan umat-Nya. Ia sempat merasa kosong selama 15 hari pasca-bencana, namun tatapan kedua anak lelakinya menjadi alasan kuat baginya untuk bangkit. Kini, Ibnu bekerja sebagai kepala mandor pengerjaan Huntara bersama Hutama Karya, bahkan berhasil memboyong 26 warga lokal, termasuk penyintas bencana, untuk bekerja bersamanya. Ketabahan Ibnu menjadi inspirasi bagi penyintas Ramadhan di Huntara.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi