Pemkab Bangka Tengah Soroti Kontribusi Pengelolaan Sampah dan GRK terhadap Perubahan Iklim

Sekretaris Daerah Bangka Tengah mengungkapkan pengelolaan sampah berkontribusi signifikan terhadap emisi gas rumah kaca (GRK), mendorong Pemkab untuk memperkuat strategi mitigasi perubahan iklim melalui program 3R dan edukasi masyarakat.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Pemkab Bangka Tengah Soroti Kontribusi Pengelolaan Sampah dan GRK terhadap Perubahan Iklim
Sekretaris Daerah Bangka Tengah mengungkapkan pengelolaan sampah berkontribusi signifikan terhadap emisi gas rumah kaca (GRK), mendorong Pemkab untuk memperkuat strategi mitigasi perubahan iklim melalui program 3R dan edukasi masyarakat. (AntaraNews)

Sekretaris Daerah (Sekda) Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah, Ahmad Syarifullah Nizzam, menyatakan bahwa pengelolaan sampah memiliki kontribusi nyata terhadap emisi gas rumah kaca (GRK). Pernyataan ini disampaikan dalam puncak peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026 yang berlangsung di Koba, pada Jumat (13/2). Isu ini menjadi perhatian serius mengingat dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh praktik pengelolaan sampah yang belum optimal.

Kontribusi emisi GRK ini terutama berasal dari produksi gas metan di tempat pemrosesan akhir (TPA) serta praktik pembakaran sampah secara terbuka. Syarifullah menekankan bahwa persoalan sampah bukan hanya tentang kebersihan lingkungan, tetapi juga berkaitan erat dengan isu perubahan iklim global. Hal ini menuntut pendekatan komprehensif dalam penanganannya.

Oleh karena itu, pengelolaan sampah yang lebih baik menjadi bagian integral dari kebijakan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim daerah. Pemkab Bangka Tengah secara aktif mengintegrasikan upaya ini melalui berbagai program, termasuk Program Kampung Iklim, untuk menciptakan lingkungan yang lebih lestari dan berkelanjutan.

Sampah, Emisi Gas Rumah Kaca, dan Perubahan Iklim

Gas metan yang dihasilkan dari timbunan sampah di TPA merupakan salah satu sumber utama emisi gas rumah kaca (GRK). Emisi ini memiliki potensi pemanasan global yang signifikan, berkontribusi pada percepatan perubahan iklim. Oleh karena itu, penanganan sampah yang tidak tepat dapat memperburuk krisis iklim global dan memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak.

Syarifullah menegaskan bahwa isu sampah telah melampaui sekadar masalah kebersihan lokal. Kini, persoalan ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari agenda perubahan iklim yang lebih luas dan mendesak. Kesadaran akan dampak ini menjadi kunci untuk merumuskan kebijakan yang efektif dan tindakan nyata di lapangan.

Pengelolaan sampah yang berkelanjutan, dengan demikian, bukan hanya upaya menjaga kebersihan kota atau lingkungan sekitar. Lebih dari itu, ini adalah langkah strategis dalam mitigasi perubahan iklim. Setiap tindakan pengurangan sampah berdampak positif pada penurunan emisi GRK dan mendukung upaya pelestarian lingkungan.

Strategi Pengurangan Sampah dari Sumbernya

Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah terus berupaya mendorong pengurangan sampah sejak dari sumbernya melalui berbagai inisiatif. Pendekatan ini dilakukan melalui penerapan prinsip reduce, reuse, dan recycle (3R) secara masif di seluruh lapisan masyarakat. Prinsip 3R menjadi fondasi utama dalam pengelolaan sampah yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Untuk mendukung implementasi 3R, Pemkab Bangka Tengah meningkatkan peran bank sampah sebagai fasilitas pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Bank sampah ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengumpulan, tetapi juga sebagai pusat edukasi dan pemberdayaan ekonomi warga. Ini mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam memilah sampah dan menciptakan nilai tambah.

Edukasi berkelanjutan juga menjadi prioritas untuk menumbuhkan kesadaran warga agar memilah sampah sejak dari rumah tangga. Program edukasi ini mencakup sosialisasi tentang jenis-jenis sampah, cara pemilahan yang benar, serta manfaat ekonomi dan lingkungan dari praktik 3R. Tujuannya adalah membentuk kebiasaan baik sejak dini dan berkelanjutan.

Penguatan Pengelolaan TPA dan Peran Komunitas

Selain upaya di hulu, Pemkab Bangka Tengah juga berupaya memperkuat pengelolaan tempat pemrosesan akhir (TPA) agar lebih ramah lingkungan. Pengendalian gas metan menjadi fokus utama untuk mengurangi emisi GRK dari TPA. Inovasi teknologi pengolahan sampah juga dipertimbangkan untuk efisiensi dan dampak lingkungan yang lebih baik.

Strategi lain adalah pengurangan praktik pembakaran sampah terbuka yang seringkali menjadi sumber polusi udara dan emisi GRK. Pemanfaatan teknologi pengolahan sampah modern menjadi bagian dari upaya menekan emisi di sektor persampahan. Ini menunjukkan komitmen Pemkab terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Syarifullah menekankan bahwa keterlibatan masyarakat merupakan kunci utama dalam mengatasi persoalan sampah. Tanpa kesadaran dan partisipasi aktif warga, berbagai kebijakan dan program pemerintah tidak akan memberikan dampak maksimal terhadap lingkungan maupun penurunan emisi. Kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat sangat esensial untuk mencapai tujuan lingkungan yang berkelanjutan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi