Surabaya, 2 Februari – Pelatih Dewa United, Jan Olde Riekerink, melayangkan pujian setinggi langit terhadap mentalitas dan kedisiplinan taktik timnya. Hal ini diungkapkannya setelah Dewa United berhasil menahan imbang Persebaya 1-1 dalam laga Super League yang berlangsung di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Minggu malam.
Pertandingan krusial tersebut menjadi ujian berat bagi Dewa United menyusul kartu merah cepat yang diterima salah satu pemain mereka. Situasi ini memaksa tim berjuluk Tangsel Warrior harus berjuang melawan sebelas pemain Persebaya yang dikenal mengandalkan fisik.
Riekerink menilai, satu poin yang diraih dari markas Persebaya ini menjadi modal sangat penting. Poin tersebut akan digunakan untuk membangun konsistensi permainan, mentalitas, dan disiplin pemain dalam jangka panjang ke depan.
Advertisement
Advertisement
Ujian Berat dan Penyesuaian Taktik
Kartu merah yang diterima oleh salah satu pemain Dewa United menjadi momen paling krusial dalam pertandingan tersebut. Insiden ini secara langsung membuat jalannya laga menjadi jauh lebih sulit bagi tim tamu, sekaligus menguji kekuatan mental para pemain.
Kondisi yang tidak menguntungkan itu memaksa Jan Olde Riekerink untuk segera melakukan penyesuaian taktik. Pelatih asal Belanda ini mengubah garis pertahanan timnya menjadi lebih dalam guna meredam tekanan masif dari tuan rumah Persebaya, terutama pada babak kedua.
Tidak hanya itu, Riekerink juga memberikan instruksi khusus kepada lini belakang Dewa United untuk bermain lebih rapat. Tujuannya adalah menutup setiap ruang gerak lawan di area pertahanan sendiri dan meminimalisir peluang Persebaya.
Advertisement
“Ini juga termasuk dengan menarik posisi bertahan sekitar 20 hingga 25 meter guna mengantisipasi kecepatan serangan Persebaya,” ucap Riekerink, menjelaskan detail strategi adaptasinya.
Advertisement
Modal Penting untuk Konsistensi Jangka Panjang
Mendapatkan satu poin dari pertandingan tandang yang sulit, apalagi dengan kekurangan jumlah pemain, dianggap sebagai pencapaian signifikan. Riekerink melihat hasil ini sebagai fondasi kuat untuk perkembangan timnya di masa mendatang.
Pelatih asal Belanda itu meyakini bahwa performa yang ditunjukkan anak asuhnya merefleksikan perkembangan positif Dewa United. Mereka mampu menghadapi situasi sulit dengan ketenangan dan strategi yang tepat.
Riekerink optimistis bahwa dengan konsistensi dan mentalitas pemain yang terus terasah, Dewa United akan mampu bersaing di papan atas kompetisi. “Saya pikir dalam jangka panjang, kami akan kembali ke tempat yang seharusnya,” tuturnya penuh keyakinan.
Advertisement
Poin ini bukan hanya tentang hasil pertandingan, melainkan juga tentang pembentukan karakter tim. Ini menunjukkan bahwa Dewa United memiliki potensi besar untuk mencapai target yang lebih tinggi di Super League.
Advertisement
Pengakuan Pemain dan Nostalgia di GBT
Salah satu pemain Dewa United, Alta Ballah, turut mengakui betapa beratnya pertandingan tersebut. Berlaga dengan kekurangan jumlah pemain membuat setiap momen di lapangan terasa sangat menantang bagi timnya.
“Pertandingan sangat sulit bagi kami, apalagi setelah kartu merah, tetapi kami bersyukur masih bisa mendapatkan satu poin,” kata Ballah, menunjukkan rasa syukurnya atas hasil imbang yang didapat.
Secara pribadi, Ballah juga mengungkapkan kerinduannya bermain di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT). Stadion ini memiliki kenangan tersendiri baginya, mengingat Persebaya adalah mantan timnya.
Advertisement
Putra pesepak bola asal Liberia, Anthony Jomah Ballah, bahkan mengaku rindu menyanyikan lagu kebanggaan Persebaya, “Song For Pride”, di GBT. “Persebaya adalah mantan tim saya. Saya diberikan banyak kesempatan dan belajar banyak saat bermain di tim ini. Dan saya pikir itulah mengapa saya ikut bernyanyi tadi. Karena saya merindukannya,” ujarnya.
Sumber: AntaraNews