Penyintas Banjir Salareh Aia, Ibnu Riaga Bangkit Jadi Relawan Demi Asa Sang Buah Hati

Kisah inspiratif Ibnu Riaga, penyintas banjir bandang Salareh Aia yang kehilangan keluarga, bangkit menjadi relawan pemasangan pipa air demi menjaga asa kedua anaknya.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Penyintas Banjir Salareh Aia, Ibnu Riaga Bangkit Jadi Relawan Demi Asa Sang Buah Hati
Tragedi banjir bandang merenggut keluarga dan harta Ibnu Riaga di Agam. Namun, penyintas ini bangkit menjadi relawan pemasangan pipa air bersih demi masa depan anak-anaknya. (AntaraNews)

Banjir bandang yang melanda Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, akhir tahun lalu, menyisakan duka mendalam bagi Ibnu Riaga. Pria berkulit sawo matang ini harus kehilangan istri dan anak bungsunya dalam musibah tersebut, serta rumah yang baru dibangunnya hancur.

Namun, di tengah keterpurukan, Ibnu memilih untuk bangkit dan mengikhlaskan diri menjadi seorang relawan. Berbekal pengetahuannya tentang instalasi pipa, ia kini aktif membantu pemasangan jaringan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) di hunian sementara.

Aktivitas sosial ini tidak hanya menjadi cara Ibnu untuk menghilangkan trauma, tetapi juga sebagai bentuk tanggung jawabnya menjaga asa demi kedua anaknya yang tersisa. Semangatnya menjadi inspirasi bagi banyak pihak yang terlibat dalam penanganan pascabencana.

Semangat Relawan di Tengah Duka Mendalam

Ibnu Riaga, seorang penyintas banjir bandang Salareh Aia, kini terlihat sibuk mengarahkan pemasangan pipa air di hunian sementara. Ia sukarela menjadi relawan dalam proyek PAMSIMAS di Lapangan Sepak Bola SDN 05 Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia.

Pemasangan jaringan pipa distribusi ini dilakukan di barak dua dan empat, memastikan pasokan air bersih tersedia bagi para pengungsi. Keahlian Ibnu dalam instalasi pipa sangat membantu upaya pemulihan infrastruktur dasar di lokasi bencana.

Motivasi Ibnu menjadi relawan bukan semata-mata karena keahliannya, melainkan juga sebagai upaya untuk mengatasi traumanya. Ia menyadari bahwa tenaganya masih dibutuhkan, terutama untuk menjaga semangat hidup bagi kedua anaknya, Aditiya Sandriaga (9) dan Akselio Sandriaga (8).

Sebelumnya, Ibnu juga merupakan bagian dari pengurus Kelompok Pengelola Sistem Penyediaan Air Minum dan Sanitasi (KP SPAMS) Kayu Pasak. Pengalaman ini menjadikannya aset berharga dalam membantu relawan lain memperbaiki jaringan air bersih yang rusak pascabencana.

Tragedi Banjir Bandang dan Kehilangan Keluarga

Banjir bandang yang melanda pada akhir November 2025 itu membawa duka tak terhingga bagi Ibnu Riaga. Rumahnya di Sawah Laweh, Jorong Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, hancur total diterjang arus deras.

Lebih memilukan lagi, Ibnu harus kehilangan istri tercinta, Dewi Alexsandria (35), dan anak bungsunya, Olivia Sandiaga (5), yang terseret arus banjir. Jasad istrinya ditemukan sekitar 500 meter dari rumah, sementara anak bungsunya ditemukan delapan kilometer jauhnya.

Ibnu menceritakan bagaimana ia menerobos lumpur tebal untuk mencari keluarganya setelah banjir. Ia baru mengetahui kedua anaknya, Aditiya dan Akselio, selamat dan berada di rumah keluarga setelah warga mengabari.

Peristiwa tragis ini terjadi saat Ibnu sedang mengantar kebutuhan pokok ke keluarga lain di Padang Koto Marapak. Saat ia kembali, banjir bandang sudah melanda jalan provinsi, dan ia harus berjuang selama 2,5 jam untuk mencapai rumahnya yang sudah hancur.

Bangkit Menata Masa Depan dan Asa Pendidikan

Setelah 15 hari terpuruk dalam kesedihan di pengungsian, Ibnu Riaga perlahan mencoba bangkit. Ia menyadari bahwa ia memiliki tanggung jawab besar untuk kedua anaknya yang masih membutuhkan perhatian dan masa depan.

Keterlibatannya sebagai relawan PAMSIMAS menjadi salah satu cara Ibnu untuk menyibukkan diri dan mengalihkan pikiran dari trauma. Pelaksana Lapangan Penyaluran Air Bersih PT Hutama Karya (Persero), Deri Limata, menyatakan bahwa KP SPAMS Kayu Pasak ditunjuk sebagai pihak ketiga, dengan Ibnu Riaga sebagai teknisi, agar memiliki aktivitas untuk menghilangkan traumatis pascabencana.

Proyek ini mencakup pemasangan pipa dari intake air bersih hingga tangki air dan jaringan ke barak hunian sementara. BNPB bertanggung jawab untuk pemasangan jaringan air bersih di dalam bangunan hunian sementara.

Ke depan, Ibnu sangat berharap ada bantuan beasiswa untuk kedua anaknya hingga jenjang perguruan tinggi. Lahan pertanian dan perkebunan yang menjadi sumber mata pencarian keluarganya kini telah tertimbun lumpur, sehingga pendidikan menjadi prioritas utama bagi masa depan anak-anaknya.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi