Hujan berintensitas sedang menyertai operasi pencarian hari keempat terhadap korban tertimbun longsor di Desa Pasirlangu Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Proses pencarian korban dihentikan sementara pada Selasa (27/1) siang.
Para petugas SAR gabungan beranjak dari titik-titik pencarian dan berteduh. Tampak dari mereka mengisi waktu tersebut dengan bersantap siang, beristirahat. Di area pencarian sektor A1 hanya tampak sejumlah unit ekskavator, lumpur, dan sejumlah bendera kecil penanda titik fokus pencarian.
Pada momen itulah wartawan berkesempatan berbincang dengan Anggota Basarnas pada Kantor SAR Bandung, Agung Suprianto. Perannya sebagai Safety Officer sektor A1, area pencarian tak semata membagi tugas personel ke sejumlah subsektor dalam operasi pencarian, melainkan juga turut memantau setiap langkah pencarian tidak membahayakan nyawa petugas, sebuah peran yang sarat tanggung jawab.
Kendati begitu, tak terdengar nada jengah dalam suaranya, kecuali ungkapan teguh yang menyatakan setiap keterlibatannya dalam misi pencarian berangkat dari panggilan kemanusiaan.
“Yang pertama mungkin panggilan jiwa, kemudian pengabdian kepada negara. Tak kalah penting kita melakukan misi kemanusiaan,” ujar Agung.
Advertisement
15 Tahun Gabung Tim SAR
Agung sendiri telah tergabung di kantor SAR Bandung sejak 15 tahun terakhir. Tak ada sosok yang menginspirasinya, kecuali keterlibatan dalam komunitas pegiat pecinta gunung dan hutan sejak berstudi di Universitas Krisnadwipayana Jakarta, membuka hatinya pada keterlibatan misi-misi kemanusiaan.
“Dari situ merasa terpanggil untuk bergabung sebagai relawan dan kemudian Basarnas,” tutur Agung.
Agung sadar betul bahwa menjadi petugas SAR bukan profesi yang enteng. Namun, hal itu justru menjadi kebanggaan tersendiri baginya, sebab dapat turut membantu sesama dan menjadi ladang bagi amal baiknya.
“Karena saya terpanggil untuk melakukan kegiatan pencarian dan pertolongan, di mana pun terjadi musibah atau bencana, kalau dibutuhkan di mana pun, kami selalu siap,” ucap Agung.
Advertisement
Pesan Keluarga Obat Penguat Kerja
Untuk selalu optimal dalam menjalani tugas, dia mengatakan selalu membiasakan sikap hidup disiplin, baik dalam menjaga fisik maupun soal menjaga kesadaran akan risiko di lapangan.
“Kalau saya memang pada dasarnya hobi berenang. Kemudian dari kurikulum pembinaan, kami di kantor SAR Bandung, ada olahraga bersama seperti aerobik. Kemudian pembelajaran secara teori maupun praktik," kata Agung.
Di tengah segala aktivitas yang menguras energi baik secara fisik maupun mental, ingatan akan keluarga yang ditinggal bertugas di rumah.
Momen jeda pada operasi pencarian pun ia gunakan untuk berkomunikasi dengan istri dan anak-anaknya, sebagai pelipur lelah sekaligus salah satu langkah memastikan kehadiran dirinya di tengah keluarga sebagai ayah dan suami.
“Biasanya mereka tanya seperti ‘ayah, gimana sudah makan belum, gimana kabarnya, kondisi gimana, cuacanya, pekerjaannya lancar’,” kata dia.
Lebih jauh ia bercerita bahwa sebagai orang orang tua, sejumlah nilai seperti kejujuran dan kedisiplinan. Namun di atas semua itu adalah pelajaran agama.
“Kemudian saya selalu mengingatkan keluarga saya tentang potensi-potensi bahaya, bagaimana pekerjaan ayahnya. Kemudian apa-apa saja yang harus dilakukan jika terjadi kedaruratan,” tutur Agung.