Sekitar 3.000 petani di Jawa Tengah menggelar aksi kerja bakti besar-besaran untuk mengangkat sedimen lumpur dari saluran Irigasi Soropadan. Kegiatan ini berlangsung pada Minggu, 25 Januari, melibatkan masyarakat dari Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Magelang. Inisiatif swadaya ini bertujuan utama untuk memastikan kelancaran pasokan air ke lahan pertanian.
Aksi kolektif ini dipimpin oleh para petani sendiri, menunjukkan kepedulian tinggi terhadap infrastruktur pertanian vital. Bupati Temanggung, Agus Setyawan, memberikan apresiasi atas inisiatif luar biasa ini. Beliau menekankan pentingnya kerja sama masyarakat dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian daerah.
Pembersihan sedimen di Irigasi Soropadan yang membentang sepanjang sekitar 5 kilometer ini diharapkan dapat melancarkan kembali aliran air. Kelancaran irigasi sangat krusial bagi ratusan hektare sawah yang bergantung padanya, sekaligus menjadi pilar penting dalam mendukung ketahanan pangan di wilayah tersebut.
Advertisement
Advertisement
Semangat Kebersamaan Petani untuk Irigasi Soropadan
Inisiatif kerja bakti ini menjadi contoh nyata kolaborasi dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan pertanian. Bupati Temanggung, Agus Setyawan, secara langsung mengapresiasi semangat para petani di Soropadan yang telah menggerakkan ribuan orang untuk membersihkan saluran irigasi. Menurutnya, pengangkatan sedimen ini akan sangat melancarkan aliran air ke sawah-sawah.
Kegiatan mulia ini melibatkan petani dari empat desa di Kecamatan Pringsurat, Kabupaten Temanggung, serta dua desa di Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang. Keterlibatan lintas wilayah ini menunjukkan bentuk kebersamaan luar biasa. Wilayah Kecamatan Secang sangat bergantung pada aliran irigasi yang melintas di Kecamatan Pringsurat.
Lebih dari 200 hektare sawah di Kecamatan Secang terairi dari irigasi yang melewati Pringsurat. Kerja sama ini menjadi bukti saling menyangga antarwilayah dalam menjaga produktivitas pertanian. Menggerakkan masyarakat dalam jumlah besar untuk peduli pada persoalan irigasi bukanlah hal mudah, namun momentum ini berhasil terwujud.
Advertisement
Advertisement
Dampak Krusial Normalisasi Irigasi Soropadan bagi Ketahanan Pangan
Normalisasi Irigasi Soropadan memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap ketahanan pangan daerah. Ketua Gabungan Petani Pemakai Air (GP3A) Daerah Irigasi Dharma Tirta Soropadan, Pringsurat Kusnindaryanto, menjelaskan bahwa sedimen yang menumpuk telah lama menghambat aliran air. Kondisi ini membuat para petani sering mengadakan pertemuan untuk mencari solusi, hingga akhirnya berinisiatif melakukan kerja bakti.
Saluran Irigasi Soropadan mengairi sekitar 508 hektar sawah di Kecamatan Pringsurat dan Kecamatan Secang. Jika aliran irigasi ini terganggu, ratusan hektar sawah tersebut terancam puso atau gagal tanam. Ancaman ini dapat menyebabkan kerugian besar, mengingat setiap hektar sawah rata-rata bisa menghasilkan sekitar 5 ton padi.
Bupati Agus Setyawan berharap, normalisasi Irigasi Soropadan ini dapat membantu Pemkab Temanggung menutup kekurangan target produksi padi yang telah ditetapkan pemerintah pusat. Kegiatan ini menjadi bagian integral dari dukungan terhadap ketahanan pangan nasional. Dengan irigasi yang lancar, target produksi padi Kabupaten Temanggung diharapkan dapat tercapai.
Advertisement
Advertisement
Volume Sedimen dan Harapan Panen Berkelanjutan
Dalam kerja bakti ini, diperkirakan volume sedimen yang berhasil diangkat mencapai 4.500 meter kubik. Angka ini menunjukkan seberapa parah penumpukan lumpur yang terjadi dan seberapa besar upaya yang telah dilakukan para petani. Pembersihan ini merupakan langkah penting untuk mengembalikan fungsi optimal Irigasi Soropadan.
Irigasi Soropadan sendiri memiliki panjang total 13,5 kilometer, melintasi tujuh desa di dua kecamatan dan dua kabupaten. Desa-desa tersebut meliputi Rejosari, Pringsurat, Kebumen, Soropadan (Kecamatan Pringsurat, Temanggung), serta Krincing, Ngabean, dan Kelurahan Secang (Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang).
Dengan normalisasi Irigasi Soropadan ini, para petani memiliki harapan besar agar aliran air kembali lancar. Kelancaran ini memungkinkan sawah dapat ditanami padi hingga dua sampai tiga kali panen dalam setahun. Ini akan sangat meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani di kedua kabupaten.
Advertisement
Sumber: AntaraNews