Tim DVI Polda Jabar Ambil Sampel DNA Keluarga Korban Pesawat ATR untuk Identifikasi

Tim DVI Polda Jabar bergerak cepat mengambil sampel DNA keluarga pramugari korban pesawat ATR 42-500 yang jatuh, guna mempercepat proses identifikasi ilmiah.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tim DVI Polda Jabar Ambil Sampel DNA Keluarga Korban Pesawat ATR untuk Identifikasi
Tim DVI Polda Jabar bergerak cepat mengambil sampel DNA keluarga pramugari korban pesawat ATR 42-500 yang jatuh, guna mempercepat proses identifikasi ilmiah. (AntaraNews)

Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat telah mengambil sampel DNA dari keluarga pramugari Esther Aprilita S. Pengambilan sampel ini dilakukan sebagai bagian dari upaya identifikasi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT). Pesawat nahas tersebut mengalami insiden di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (17/1).

Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat Kombes Pol Hendra Rochmawan mengonfirmasi bahwa Esther Aprilita S merupakan salah satu awak kabin yang bertugas dalam penerbangan tersebut. Proses pengambilan data ante mortem dan sampel DNA pembanding ini berlangsung di kediaman keluarga korban. Lokasinya berada di Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Minggu (18/1).

Langkah ini sangat krusial dalam proses identifikasi ilmiah para korban. Identifikasi melalui DNA pembanding akan membantu memastikan identitas korban secara akurat. Tim DVI bekerja sigap untuk memberikan kepastian kepada pihak keluarga yang terdampak musibah ini.

Proses Identifikasi Korban Kecelakaan Pesawat

Pengambilan sampel DNA pembanding merupakan prosedur standar dalam identifikasi korban bencana massal. Tim DVI Polda Jawa Barat memastikan seluruh proses dilakukan secara cermat dan sesuai prosedur forensik. Data ante mortem, seperti rekam medis atau ciri fisik khusus, juga dikumpulkan untuk melengkapi data post mortem yang ditemukan di lokasi kejadian.

Kombes Pol Hendra Rochmawan menegaskan pentingnya data yang akurat dari pihak keluarga. Sampel DNA yang diambil dari keluarga akan dicocokkan dengan sampel DNA dari jenazah atau bagian tubuh korban. Hal ini bertujuan untuk memvalidasi identitas korban dengan tingkat akurasi yang tinggi.

Kerja sama antara tim DVI dan keluarga korban menjadi kunci keberhasilan proses identifikasi ini. Pihak kepolisian terus berkoordinasi dengan keluarga untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Upaya ini diharapkan dapat mempercepat pengungkapan identitas seluruh korban pesawat ATR 42-500.

Kronologi Hilangnya Pesawat ATR 42-500

Pesawat ATR 42-500 dengan nomor registrasi PK-THT dilaporkan hilang kontak pada Sabtu (17/1). Pesawat ini terbang dengan rute Yogyakarta menuju Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Hilang kontak terjadi sekitar pukul 13.17 WITA, memicu operasi pencarian besar-besaran.

Penerbangan dimulai dari Yogyakarta pukul 09.08 WITA, dengan estimasi tiba di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar pukul 12.22 WITA. Namun, pada pukul 12.23 WITA, petugas Air Traffic Control (ATC) Makassar Radar menginstruksikan pesawat untuk melakukan intercept ILS runway 21 melalui Openg pada ketinggian 5.300 kaki. Pesawat dilaporkan melewati titik yang telah ditentukan.

Setelah itu, pesawat PK-THT hilang kontak dengan perkiraan titik koordinat 04°57’08” lintang selatan dan 119°42’54” bujur timur. Lokasi perkiraan hilangnya pesawat berada di atas wilayah udara perbatasan Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Insiden ini segera ditindaklanjuti dengan pengerahan tim SAR gabungan.

Penemuan Serpihan dan Upaya Pencarian

Perkembangan terbaru menunjukkan tim SAR gabungan telah menemukan serpihan pesawat latih ATR 42-500. Serpihan tersebut ditemukan di sekitar lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Maros. Penemuan ini mengonfirmasi lokasi jatuhnya pesawat dan menjadi titik fokus operasi pencarian dan evakuasi.

Pesawat nahas ini diketahui ditumpangi oleh 11 orang, termasuk awak kabin dan penumpang. Tim SAR terus bekerja keras di lokasi kejadian yang sulit dijangkau. Prioritas utama adalah menemukan seluruh korban dan mengumpulkan bukti-bukti yang relevan untuk investigasi lebih lanjut.

Pihak berwenang, termasuk Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), akan melakukan investigasi mendalam terkait penyebab kecelakaan ini. Data dari kotak hitam pesawat, jika ditemukan, akan menjadi informasi krusial. Proses identifikasi korban oleh Tim DVI juga menjadi bagian tak terpisahkan dari investigasi menyeluruh.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi