Viral di Media Sosial, Hidran di Pedurungan Semarang Dicor Tanpa Koordinasi

Sekretaris Dinas Pemadam Kebakaran Pemkot Semarang Ade Bhakti mengaku prihatin adanya hidran yang tertimbun, dan tidak ada koordinasi sebelumnya.

Danny Adriadhi Utama
Oleh Danny Adriadhi Utama - Reporter
Viral di Media Sosial, Hidran di Pedurungan Semarang Dicor Tanpa Koordinasi
Viral di Media Sosial, Hidran di Pedurungan Semarang Dicor Tanpa Koordinasi (Merdeka.com)

Viral sebuah unggahan memperlihatkan hidran tertimbun material cor di Jalan Majapahit, Semarang, Jawa Tengah. Kabar yang diunggah oleh akun Instagram @adebhakti memperlihatkan keberadaan hidran itu tertimbun material cor akibat proyek perbaikan jalan di ruas tersebut, tepatnya di depan Polsek Pedurungan.

Melihat kondisi itu, Sekretaris Dinas Pemadam Kebakaran Pemkot Semarang Ade Bhakti mengaku prihatin adanya hidran yang tertimbun, dan tidak ada koordinasi sebelumnya.

"Mau ke Pedurungan ngecek hidran, sama Mas Kelvin dari bidang pencegahan, ngecek pilar hidran katanya kena cor dari yang bikin jalan. Dipendam separo, ra ana komunikasi, koordinasi,” kata Ade dikonfirmasi.

Dalam unggahan tersebut, Ade juga menandai sejumlah pihak berwenang agar bersama-sama mencari solusi atas laporan yang diterima pihaknya.

"Pripun niki @dpukotasemarang @dpubmckjateng @pu_jalan_jatengdiy @padamkotasemarang,” tulis Ade disertai emotikon tertawa.

Ade juga langsung menghubungi Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Semarang terkait hidran yang tertimbun cor tersebut. Namun, pihak Dinas PU menyampaikan bahwa kewenangan atas ruas jalan tersebut berada di wilayah Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN).

"Ternyata ini Jalan Nasional, berarti BPJN. Tidak bisa dipakai itu bagaiman? Sudah kontak PU, ternyata ini wilayahnya Balai Besar Jalan Nasional,” jelasnya.

Pihak Terkait Harusnya Koordinasi Lebih Dulu

Dalam kesempatan tersebut, Ade menegaskan seharusnya pihak terkait melakukan koordinasi terlebih dahulu sebelum melakukan pengecoran di sekitar hidran, mengingat fasilitas tersebut sangat vital dalam penanganan kebakaran.

"Kalau posisi seperti ini, ada apa-apa sangat membantu Damkar. Meskipun pengelola hidran ada di PDAM, tapi yang menggunakan kan Damkar. Mohon difasilitasi segera, ditinggikan atau dipindahkan,” ujarnya.

Di akhir video, Ade juga menyampaikan bahwa penanganan hidran yang tertimbun cor di Jalan Majapahit tersebut merupakan kewenangan Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Cipta Karya (DPU BMCK) Provinsi Jawa Tengah. Pihak DPU BMCK pun disebut langsung merespons dan menindaklanjuti laporan tersebut.

"Ternyata DPU Bina Marga Cipta Karya yang menangani. Ini habis di-DM dan ingin datang. Nanti saya tag supaya jadi perhatian,” ujarnya.

Damkar Kota Semarang mencatat dari total 79 titik hidran yang terdata, hanya 10 titik yang masih berfungsi dengan baik. Padahal, hidran merupakan sarana yang sangat vital untuk mendukung kecepatan dan efektivitas proses pemadaman kebakaran.

"Dari 79 titik hidran yang terdata, sekitar 61 masih terlihat fisiknya, tetapi yang benar-benar berfungsi hanya 10 titik. Sementara sisanya, ada yang rusak dan ada pula yang sudah tidak terlihat keberadaannya," ujarnya.

Petugas Damkar bahkan telah menyisir area hingga radius sekitar 20 meter dari titik hidran. Namun, sebagian hidran seolah “lenyap” karena tertutup bangunan permanen maupun struktur jalan.

"Beberapa warga menyebut hanya terlihat bagian atas hidran, bahkan ada yang sudah tertutup cor atau bangunan,” ungkapnya.

Jumlah Hidran Semarang Jauh dari Ideal

Dengan luas wilayah Kota Semarang mencapai 373,70 kilometer persegi, jumlah hidran yang tersedia dinilai jauh dari ideal. Kondisi ini membuat petugas Damkar kerap menghadapi kesulitan saat menangani kebakaran, terutama di wilayah yang minim pasokan air.

Ade menyoroti sejumlah kecamatan seperti Gunungpati dan Mijen yang hingga kini belum memiliki hidran sama sekali. Ia pun mendorong pemanfaatan aset pemerintah sebagai alternatif sumber air pemadaman.

"Kalau hidran tidak tersedia, setidaknya ada tandon air di aset-aset pemerintah yang bisa dimanfaatkan saat darurat,” ujarnya.

Sebagai perbandingan, Ade mencontohkan Kota Surabaya yang telah beralih dari sistem hidran ke tandon air. Saat ini, Surabaya memiliki lebih dari 400 titik tandon air aktif yang dapat digunakan Damkar tanpa biaya.

Di Surabaya, penggunaan air untuk pemadaman gratis. Itu hasil studi banding kami dan sudah kami sampaikan ke Wali Kota Semarang,” ungkapnya.

Alarm Keras Bagi Kota Semarang

Sementara itu, temuan hidran yang tertutup cor di Jalan Majapahit, Kecamatan Pedurungan, menjadi alarm keras bagi Damkar Kota Semarang. Ade menilai kejadian tersebut mencerminkan masih rendahnya kesadaran terhadap pentingnya hidran sebagai infrastruktur keselamatan publik.

Meski angka kebakaran di Kota Semarang sepanjang 2025 menurun menjadi 275 kasus, dibandingkan 341 kejadian pada 2024, keterbatasan sumber air dinilai tetap menjadi hambatan serius di lapangan.

Ke depan, Damkar Kota Semarang berencana menggandeng PDAM untuk menyinkronkan data keberadaan dan fungsi hidran di seluruh wilayah kota. "Kami akan duduk bersama PDAM. Mau tidak mau, Damkar tidak bisa bekerja optimal tanpa ketersediaan sumber air," tandas Ade.

Viral di Media Ssosial, Hidran di Pedurungan Semarang Dicor Tanpa Koordinasi
Viral di Media Ssosial, Hidran di Pedurungan Semarang Dicor Tanpa Koordinasi istimewa
Rekomendasi