Riset panjang tentang kawasan Taman Sari, Bandung, Jawa Barat, membawa Yudi Hamzah pada potongan sejarah tentang Bandung Zoo. Momen itu terjadi pada Agustus 2025 lalu, saat konflik internal dalam tubuh pengelola destinasi wisata sekaligus ruang konservasi satwa itu memanas.
Rasa penasaran membawanya menelusuri arsip lama, di antaranya koran-koran berbahasa Belanda yang terbit sejak 1928. Hasil itu kemudian dia susun dalam buku 'Kado untuk Bandung: Taman Menjadi Kebun Binatang' yang belum lama ini dirilis untuk dibaca publik.
"Nah, saya coba deh perdalam lagi. Ternyata menemukan banyak sumber, terutama koran berbahasa Belanda, yang terbit sezaman. Ternyata banyak fakta-fakta baru," kata Yudi saat dijumpai di sela kegiatan bedah bukunya di Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut, Bandung, Minggu (28/12).
Advertisement
Dalam bukunya, Yudi menuliskan bahwa sebelum Bandung Zoo yang kini berada di kawasan Taman Sari, telah ada kebun binatang di kawasan Dago hingga Cimindi, lengkap dengan nama pengelola serta yayasan.
"Jadi mungkin buku ini bisa menjadi 'ini lho fakta-faktanya'. Jadi cerita-cerita yang beredar sekarang itu bukannya enggak benar, cuma ini nih yang sebetulnya yang saya temukan datanya," ujar Yudi.
Yudi juga meyakini bahwa Hoogland bukan tokoh pertama yang memimpin kebun binatang di Bandung Zoo. Menurutnya, pria Belanda itu baru menjabat sebagai ketua Yayasan Margasatwa Tamansari pada 1957 hingga 1963, ketika struktur pengurus masih didominasi orang Belanda. Kemudian usai periode tersebut, kepengurusan diestafetkan kepada Ema Bratakoesoema.
Advertisement
Dalam karyanya, Yudi mengurai bahwa Kebun Binatang Bandung bukanlah milik individu. Tempat itu bermula dari sebuah taman kota yang dibangun sebagai persembahan 25 tahun Gemeente Bandung.
Singkatnya, pada masa itu, kebun binatang di Cimindi dan Dago gulung tikar. Hoogland yang menjabat ketua Bandoeng Vooruit lalu membentuk yayasan bernama Bandoengsche Zoologisch Park (BZP). Satwa dari kebun binatang Cimindi dibeli, sementara lokasi BZP berada di sebagian area taman kota.
"Awalnya taman, bukan kebun binatang. Makanya judul buku saya, ‘Kado untuk Bandung: Dari Taman Menjadi Kebun Binatang’," ujar Yudi.
Yudi tidak menemukan data pasti mengenai luas kebun binatang saat itu. Dia hanya memperkirakan sekitar 5 hektare, sedangkan kini luasnya hampir 14 hektare. Meski demikian, batas-batas awal kawasan tersebut masih menyisakan tanda tanya sejarah.
Baginya, kebun binatang bukan sekadar ruang fisik. Secara budaya, tempat itu adalah milik warga Bandung. Lahan memang berstatus aset pemerintah kota, namun memori di dalamnya menyatu dengan kehidupan publik.
"Karena jujur, 9 dari 10 orang Bandung pasti pernah ke kebun binatang dan mereka punya memori kolektif tentang kebun binatang," kata dia.
Kenangan itu bertahan lintas generasi. Dari cerita tentang Mak Itoh, suara perahu kecil, hingga gajah dan suasana rindang menyerupai hutan kecil di tengah kota. Dari era 1970-an sampai 2000-an, ceritanya tak banyak berubah.
Karena itu, Yudi akan sangat menyayangkan bila kebun binatang harus tutup hanya karena persoalan internal yang seharusnya bisa diselesaikan.
Baginya, tempat itu bukan hanya wahana rekreasi, tetapi juga ruang belajar. Ia bahkan mengenang seniornya yang menulis skripsi di kebun binatang pada 1980-an karena suasananya yang tenang.
"Karena tempatnya enak, sepi, segala macam. Kayak hutan juga, mungkin. Mungkin enak untuk bikin tugas akhir dan segala macam," kata dia.
Advertisement
Yudi menyebut proses penulisan bukunya memakan waktu sekitar dua bulan. Tantangan terbesar adalah menerjemahkan sekaligus menafsirkan bahasa Belanda dalam arsip surat kabar lama.
Selama penyusunan buku, ia hanya melakukan satu wawancara dengan warga lanjut usia yang besar di kawasan Dago. Menurut Yudi, orang tersebut masih mengingat suara satwa yang terdengar hingga satu kilometer dari kebun binatang.
"Dia mungkin sekarang umurnya 60-70 an tahun. Dia ketika itu tinggal di Dago. Jadi dia menceritakan bagaimana di rumahnya pagi-pagi sampai malam itu terdengar dari kebun binatang," tandasnya.