Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh pada akhir November 2025 telah menyebabkan kerusakan signifikan pada infrastruktur, termasuk fasilitas kesehatan. Namun, upaya pemulihan terus dilakukan untuk memastikan masyarakat tetap mendapatkan akses layanan medis. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Aceh, Ferdiyus, melaporkan bahwa sebagian besar pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) telah kembali beroperasi.
Sebanyak 366 puskesmas di 18 dari 23 kabupaten/kota yang terdampak bencana kini telah berfungsi penuh dan siap melayani kebutuhan kesehatan masyarakat. Meskipun demikian, masih ada 30 puskesmas lain yang belum dapat beroperasi karena tertimbun lumpur atau mengalami kerusakan parah akibat dampak bencana.
Puskesmas yang belum berfungsi tersebut tersebar di enam kabupaten/kota yang paling parah terdampak banjir bandang dan tanah longsor. Kondisi ini mendorong pengerahan tenaga kesehatan dan fokus pada pemulihan Layanan Kesehatan Aceh secara menyeluruh, terutama bagi kelompok rentan di lokasi pengungsian.
Advertisement
Advertisement
Pemulihan Puskesmas dan Tantangan yang Tersisa
Upaya cepat dilakukan untuk memulihkan fasilitas kesehatan primer setelah bencana melanda. Dari total puskesmas yang terdampak, mayoritas telah berhasil diaktifkan kembali. Ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dan pusat dalam memastikan kelangsungan Layanan Kesehatan Aceh.
Ferdiyus menjelaskan bahwa 366 puskesmas yang beroperasi kembali tersebar di berbagai wilayah terdampak. Keberadaan puskesmas ini sangat vital sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan di tingkat komunitas. Mereka berperan penting dalam memberikan pertolongan pertama dan perawatan dasar.
Meskipun demikian, tantangan masih ada dengan 30 puskesmas yang belum bisa berfungsi. Kerusakan parah seperti tertimbun lumpur menjadi penyebab utama penutupan sementara fasilitas ini. Pemerintah terus berupaya mencari solusi agar semua puskesmas dapat kembali melayani.
Advertisement
Lokasi puskesmas yang belum beroperasi ini berada di enam kabupaten/kota yang mengalami dampak terberat. Fokus saat ini adalah pada perbaikan infrastruktur dan penyediaan layanan kesehatan alternatif bagi warga di area tersebut.
Advertisement
Kondisi Rumah Sakit dan Pengerahan Tenaga Medis
Selain puskesmas, kondisi rumah sakit di wilayah bencana juga menjadi perhatian utama dalam pemulihan Layanan Kesehatan Aceh. Ferdiyus memastikan bahwa semua rumah sakit pemerintah di daerah terdampak telah beroperasi melayani masyarakat.
Namun, ada catatan khusus untuk rumah sakit di Kabupaten Aceh Tamiang yang beroperasi dalam kondisi terbatas. Beberapa peralatan medis di sana tidak dapat digunakan akibat banjir bandang. Meskipun demikian, layanan dasar di rumah sakit tersebut tetap berjalan.
Untuk rumah sakit swasta, lima di antaranya telah kembali beroperasi, sementara tiga lainnya masih tutup akibat dampak bencana. Secara keseluruhan, layanan kesehatan publik terus berjalan, didukung oleh pengerahan tenaga medis yang signifikan.
Advertisement
Sebanyak 794 tenaga kesehatan telah dikerahkan ke daerah bencana untuk merawat korban banjir. Mereka terdiri dari dokter umum, spesialis, ahli gizi, hingga ahli kesehatan lingkungan. Kehadiran mereka sangat krusial dalam menjaga kesehatan pengungsi.
Advertisement
Dukungan Tenaga Kesehatan dan Fase Transisi Bencana
Pengerahan tenaga kesehatan ini merupakan bagian integral dari upaya pemulihan Layanan Kesehatan Aceh pascabencana. Fokus utama mereka adalah kelompok rentan di tempat-tempat pengungsian. Ini termasuk anak-anak, lansia, dan ibu hamil yang seringkali lebih mudah terserang penyakit di kondisi darurat.
Keberadaan para tenaga kesehatan ini memastikan bahwa korban bencana terus menerima perawatan medis yang diperlukan. Hal ini sangat penting mengingat banyak warga yang berada di pengungsian cenderung rentan terhadap berbagai penyakit.
Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, sebelumnya mengumumkan bahwa beberapa kabupaten dan kota terdampak bencana di Sumatera telah memasuki fase transisi. Fase ini beralih dari tanggap darurat menuju pemulihan, menandakan kemajuan dalam penanganan bencana.
Advertisement
Kabupaten dan kota yang memulai fase transisi tersebut antara lain Aceh Tenggara, Subulussalam, Aceh Besar, Padangsidimpuan, Padang Panjang, dan Mandailing Natal. Ini menunjukkan adanya koordinasi yang baik antara pemerintah pusat dan daerah dalam penanganan dampak bencana.
Sumber: AntaraNews