Ratusan warga terdampak banjir bandang di Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, kini menghadapi tantangan berat pasca bencana. Mereka sangat membutuhkan bantuan peralatan seperti sekop dan cangkul untuk membersihkan timbunan lumpur yang mengendap di rumah-rumah mereka. Kondisi ini menyulitkan upaya pemulihan mandiri bagi para korban di wilayah tersebut.
Banjir bandang yang melanda pada akhir November 2025 tersebut meninggalkan lapisan lumpur tebal hingga ketinggian sepinggang bahkan sedada orang dewasa. Akibatnya, banyak rumah warga di Gampong Geunteng, Kecamatan Meurah Dua, kini tidak dapat dihuni. Situasi ini memaksa sebagian besar penduduk untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Dahlan (68), seorang pensiunan guru dari Gampong Geunteng, mengungkapkan kesulitan yang dialami warga dalam membersihkan rumah mereka. Ia menjelaskan bahwa upaya pembersihan dengan alat seadanya tidak efektif dan memakan waktu lama. Kebutuhan mendesak akan alat berat menjadi prioritas utama bagi mereka yang ingin kembali ke rumah.
Advertisement
Advertisement
Kondisi Terkini Pasca Banjir di Pidie Jaya
Kondisi pasca banjir bandang di Pidie Jaya masih sangat memprihatinkan, terutama di Gampong Geunteng. Timbunan lumpur tebal menutupi hampir seluruh bagian dalam rumah warga, mencapai ketinggian yang signifikan. Ini membuat proses pembersihan menjadi sangat sulit dan membutuhkan alat yang memadai.
Dahlan, salah satu korban banjir, menjelaskan betapa parahnya situasi ini. "Kami membutuhkan alat, seperti sekop, cangkul, dan lainnya untuk membersihkan timbunan lumpur yang menimbun hampir sebagian besar rumah warga di desa ini," ujarnya. Upaya pembersihan secara manual dengan alat seadanya tidak mampu mengatasi volume lumpur yang besar.
Selain keterbatasan alat, faktor biaya juga menjadi kendala utama bagi warga terdampak banjir Pidie Jaya. Banyak keluarga tidak memiliki dana untuk menyewa tenaga pembersih. "Kami tidak sanggup membersihkan rumah dengan tenaga sendiri. Begitu juga untuk mengupah orang lain, kami tidak ada uang. Upahnya mencapai Rp200 ribu per orang," kata Dahlan.
Advertisement
Advertisement
Dampak dan Kebutuhan Mendesak Warga Terdampak
Keuchik Geunteng Usman melaporkan bahwa dampak banjir bandang di Pidie Jaya sangat luas. Sebanyak 697 jiwa atau 220 keluarga di desanya terdampak langsung bencana ini. Dari jumlah tersebut, 553 jiwa atau 697 keluarga saat ini masih mengungsi di berbagai titik aman.
Warga yang mengungsi tersebar di empat lokasi, termasuk meunasah setempat dan kantor kepala desa. Untuk memenuhi kebutuhan dasar, dua dapur umum telah didirikan dan beroperasi setiap hari untuk melayani makanan bagi para korban banjir. Ini menunjukkan skala kebutuhan logistik yang cukup besar.
Usman juga merinci kerusakan rumah akibat banjir Pidie Jaya. Sebanyak 158 rumah mengalami kerusakan berat, sedang, dan ringan, semuanya tertimbun lumpur hingga ketinggian 2,5 meter. "Kami berharap bantuan alat-alat seperti sekop dan cangkul untuk membersihkan lumpur di rumah warga. Jika rumah bisa dibersihkan dari material banjir, maka warga bisa secepatnya pulang," harapnya.
Advertisement
Sumber: AntaraNews