Korem 011/Lilawangsa Kerahkan Prajurit TNI untuk Penanganan Banjir Pidie Jaya Berulang

Korem 011/Lilawangsa mengerahkan prajurit TNI ke Pidie Jaya untuk membantu penanganan banjir Pidie Jaya yang kembali merendam belasan desa akibat hujan deras, memastikan evakuasi dan kesiapsiagaan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Korem 011/Lilawangsa Kerahkan Prajurit TNI untuk Penanganan Banjir Pidie Jaya Berulang
Korem 011/Lilawangsa mengerahkan prajurit TNI ke Pidie Jaya untuk membantu penanganan banjir Pidie Jaya yang kembali merendam belasan desa akibat hujan deras, memastikan evakuasi dan kesiapsiagaan. (AntaraNews)

Korem 011/Lilawangsa Aceh telah mengerahkan prajurit TNI ke Kabupaten Pidie Jaya guna membantu penanganan banjir yang kembali melanda wilayah tersebut. Pengerahan pasukan ini dilakukan menyusul hujan deras yang menyebabkan sejumlah desa terendam banjir pada Rabu malam (8/4). Prajurit dari Kodim 0102/Pidie dan Yon TP 857/GS turut serta dalam upaya evakuasi warga yang terdampak.

Banjir berulang ini merendam setidaknya 13 desa di Kecamatan Meureudu dan Meurah Dua, dengan ketinggian air mencapai 40 hingga 70 centimeter. Kondisi ini tidak hanya mengganggu aktivitas warga tetapi juga memutus akses jalan lintas nasional Medan-Banda Aceh bagi kendaraan roda dua dan roda empat. Penanganan banjir Pidie Jaya menjadi prioritas utama bagi tim gabungan di lapangan.

Danrem Lilawangsa, Brigjen TNI Ali Imran, menyatakan bahwa personel TNI telah bersiaga penuh di lokasi kejadian. Mereka bertugas mengatur arus lalu lintas, membersihkan material banjir, dan memantau debit air secara berkala. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi potensi cuaca ekstrem susulan yang dapat memperparah situasi.

Fokus Penanganan dan Dampak Banjir di Pidie Jaya

Prajurit TNI yang dikerahkan oleh Korem 011/Lilawangsa memiliki peran krusial dalam penanganan banjir Pidie Jaya kali ini. Selain membantu evakuasi warga, mereka juga fokus pada pemulihan akses dan pengawasan kondisi air. "Personel TNI juga telah bersiaga di lokasi untuk mengatur arus lalu lintas, membersihkan material banjir, dan memantau debit air secara berkala guna mengantisipasi potensi cuaca ekstrem susulan," kata Danrem Lilawangsa, Brigjen TNI Ali Imran.

Dampak banjir terasa signifikan di 13 desa yang tersebar di dua kecamatan utama. Di Kecamatan Meurah Dua, desa-desa yang terdampak meliputi Pante Beurne (70 cm), Dayah Husen (50 cm), Meunasah Mancang (50 cm), Meunasah Raya (70 cm), Meunasah Bie (50 cm), Beuringin (60 cm), dan Geunteng (60 cm). Sementara itu, di Kecamatan Meureudu, desa yang terendam adalah Meunasah Lhok (70 cm), Beurawang (60 cm), Mayang Cut (50 cm), Meunasah Krueng (70 cm), Manyang Lancok (50 cm), dan Masjid Tuha (40 cm).

Selain merendam permukiman warga, banjir juga menggenangi jalan lintas nasional Medan-Banda Aceh. Brigjen TNI Ali Imran menjelaskan bahwa "Jalan lintas Medan-Banda Aceh di lokasi tersebut belum bisa dilewati kendaraan roda 2 dan roda 4. Namun, truk dan mobil besar masih dapat melintas." Situasi ini menimbulkan tantangan logistik dan mobilitas bagi masyarakat serta upaya penanganan banjir Pidie Jaya.

Penyebab dan Antisipasi Banjir Berulang

Banjir yang kembali melanda Pidie Jaya ini dipicu oleh intensitas hujan yang tinggi, menyebabkan debit air sungai meluap. Dandim 0102/Pidie, Letkol Inf Abdul Hadi, menjelaskan bahwa "banjir ini dipicu oleh pendangkalan sungai (sedimen lumpur) pascabanjir bandang sebelumnya, sehingga Krueng Meureudu tidak mampu menampung volume air hujan dari pegunungan." Kondisi ini menunjukkan adanya masalah struktural yang memerlukan solusi jangka panjang.

Menanggapi situasi ini, Letkol Inf Abdul Hadi mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan mencari tempat yang lebih aman jika debit air terus meningkat. Ia juga menekankan perlunya tindakan cepat dari pemerintah. "Pemerintah perlu segera melakukan normalisasi sungai, menutup aliran sungai baru, serta membersihkan saluran air dan sisa lumpur di area pemukiman," tegas Letkol Inf Abdul Hadi. Ini adalah langkah penting untuk mencegah terulangnya bencana serupa.

Meskipun tidak ada korban jiwa dilaporkan, tim gabungan TNI-Polri dan SAR tetap disiagakan di titik-titik rawan. Kesiapsiagaan ini penting mengingat potensi cuaca ekstrem yang masih mungkin terjadi. Petugas di lapangan terus bersiaga dan memantau kondisi, meskipun banjir mulai surut, untuk mengantisipasi jika sewaktu-waktu hujan kembali turun dan menyebabkan kenaikan debit air. Upaya penanganan banjir Pidie Jaya terus berlanjut dengan fokus pada mitigasi dan kesiapsiagaan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi