Dinkes Kaltim Perkuat Kapasitas Petugas untuk Peningkatan Deteksi Pneumonia Balita

Dinas Kesehatan Kalimantan Timur (Kaltim) gencar melakukan peningkatan deteksi pneumonia balita dengan memperkuat kompetensi petugas puskesmas dan sistem pelaporan. Langkah ini krusial.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Dinkes Kaltim Perkuat Kapasitas Petugas untuk Peningkatan Deteksi Pneumonia Balita
Dinas Kesehatan Kalimantan Timur genjot kapasitas petugas puskesmas dalam Deteksi Pneumonia Balita melalui MTBS. Langkah ini krusial untuk menekan angka kematian balita di Indonesia. (AntaraNews)

Dinas Kesehatan Kalimantan Timur (Kaltim) secara aktif meningkatkan kapasitas petugas kesehatan di puskesmas. Upaya ini difokuskan pada deteksi dini pneumonia pada balita. Pendekatan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) menjadi tulang punggung program ini.

Langkah strategis ini diambil mengingat pneumonia masih menjadi salah satu penyebab utama kematian balita di Indonesia. Peningkatan kompetensi petugas dianggap sangat krusial untuk menekan angka kesakitan dan kematian. Program ini dilaksanakan di Samarinda, melibatkan berbagai kabupaten dan kota.

Selain peningkatan keterampilan, standardisasi layanan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) juga menjadi perhatian utama. Hal ini tidak hanya sekadar program, melainkan kewajiban pelayanan standar yang harus dipenuhi.

Peningkatan Kompetensi dan Ketersediaan Alat Deteksi

Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin, menekankan pentingnya ketersediaan alat kesehatan dasar di puskesmas. Alat seperti termometer dan oksimeter harus berfungsi optimal untuk menentukan derajat keparahan ISPA secara akurat.

"Alat kesehatan dasar seperti termometer dan oksimeter harus tersedia dan berfungsi di Puskesmas untuk menentukan derajat keparahan ISPA secara akurat," ujar Jaya Mualimin di Samarinda, Sabtu.

Ivan Haryadi, Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kaltim, menambahkan bahwa penghitungan frekuensi napas secara tepat adalah kunci diagnosis. Akurasi ini penting agar kasus pneumonia tidak terlewat saat pemeriksaan awal balita.

Dinkes Kaltim juga memaparkan detail teknis mengenai penilaian tanda bahaya umum pada anak. Aspek-aspek seperti kemampuan minum, potensi kejang, hingga identifikasi suara napas stridor menjadi fokus pelatihan.

Perbaikan Sistem Pelaporan dan Target Nasional

Aspek perbaikan sistem pencatatan dan pelaporan kasus pneumonia menjadi sorotan utama dalam pertemuan tersebut. Sebelumnya, data kasus dari Kalimantan Timur di tingkat pusat sempat tercatat nol persen, menunjukkan adanya kesenjangan data.

Menanggapi hal ini, Tim Kerja ISPA Kementerian Kesehatan, Deni, memperkenalkan format pelaporan baru berbasis perangkat lunak. Sistem baru ini dijadwalkan akan mulai diterapkan secara efektif pada Januari 2025.

Deni juga menjelaskan pergeseran indikator program yang kini tidak hanya fokus pada pengobatan. "Perubahan indikator program kini bergeser dari sekadar pengobatan menjadi fokus pada cakupan penemuan kasus dengan target nasional mencapai 50 persen pada tahun 2026," kata Deni.

Simulasi pengisian data sasaran balita dan estimasi kasus telah dipraktikkan oleh peserta dari berbagai kabupaten dan kota. Simulasi ini menggunakan angka pengali khusus wilayah untuk perhitungan yang lebih akurat.

Kolaborasi Lintas Program untuk Pencegahan

Dinas Kesehatan Kaltim berharap adanya kolaborasi lintas program yang lebih solid. Program-program seperti gizi dan imunisasi diharapkan dapat bersinergi lebih baik.

Sinergi ini bertujuan untuk menekan angka kesakitan akibat infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Pendekatan holistik ini diharapkan mampu memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan balita di Kaltim.

Peningkatan deteksi pneumonia balita tidak hanya mengandalkan penanganan medis. Namun juga melibatkan upaya preventif melalui program-program kesehatan masyarakat lainnya.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi