Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Datu Beru Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, telah kembali memberikan pelayanan cuci darah bagi pasiennya setelah sempat terhenti akibat keterbatasan stok obat pascabencana alam. Pelayanan vital ini sempat terganggu selama satu hari, memicu kekhawatiran di kalangan pasien yang sangat bergantung pada tindakan medis rutin tersebut. Kondisi darurat ini berhasil diatasi berkat respons cepat dari Kementerian Kesehatan RI yang segera menyalurkan bantuan.
Perawat Ahli Cuci Darah RSUD Datu Beru, Diana Fitri, menjelaskan bahwa penanganan pasien cuci darah sangat krusial dan tidak bisa ditunda. Pasien yang tidak mendapatkan tindakan hemodialisa (HD) secara rutin berisiko mengalami kondisi serius seperti sesak napas, pembengkakan, kegelisahan, bahkan kejang. Situasi ini menyoroti pentingnya keberlanjutan layanan kesehatan khusus di tengah kondisi darurat.
Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, mengungkapkan bahwa intervensi cepat dari Kemenkes RI terjadi setelah pasien cuci darah melaporkan kondisi kritis mereka. Bantuan obat-obatan dan peralatan cuci darah langsung dikirim dan tiba di Aceh Tengah, memungkinkan RSUD untuk melanjutkan kembali layanan esensial ini. Respons kolaboratif antara pemerintah daerah dan pusat menjadi kunci dalam mengatasi krisis medis ini.
Advertisement
Advertisement
Tantangan Pelayanan Medis Pasca Bencana di RSUD Takengon
Pelayanan di RSUD Datu Beru Takengon menghadapi tantangan signifikan pascabencana alam, terutama terkait ketersediaan obat-obatan esensial. Keterbatasan stok obat sempat membuat layanan cuci darah terhenti pada Rabu, 3 Desember 2025, yang berdampak langsung pada puluhan pasien. Kondisi ini menunjukkan kerentanan sistem kesehatan saat dihadapkan pada situasi darurat.
Diana Fitri, perawat ahli di RSUD Takengon, menegaskan bahwa penanganan pasien cuci darah memerlukan tindakan hemodialisa rutin yang tidak bisa ditunda. "Pasien bisa sesak nafas, bisa bengkak badannya, gelisah, bahkan bisa kejang," ujarnya, menggambarkan risiko serius jika tindakan medis ini terhambat. Setiap hari, rumah sakit ini harus melakukan 30 tindakan cuci darah untuk total 90 pasien yang terdaftar.
Selain keterbatasan obat, Direktur RSUD Datu Beru Takengon, Gusnarwin, juga menyoroti masalah kinerja staf di masa darurat bencana. Banyak staf rumah sakit yang domisilinya jauh mengalami kesulitan akses akibat kendala transportasi dan bahan bakar. "Kalau tidak ada BBM kan kendaraan mereka tidak bisa jalan," kata Gusnarwin, menjelaskan bahwa rumah sakit terpaksa memaksimalkan staf yang tinggal dekat dan bisa berjalan kaki atau bersepeda.
Advertisement
Advertisement
Respon Cepat Pemerintah dan Harapan Keberlanjutan Layanan
Krisis layanan cuci darah di RSUD Takengon mendapat respons cepat dari pemerintah pusat setelah laporan dari pemerintah daerah. Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, menyampaikan apresiasinya atas tanggapan sigap Kementerian Kesehatan RI. "Setelah kami hubungi Pak Menteri langsung merespon. Obat-obatan dan peralatan cuci darah langsung dikirim dan tiba di Aceh Tengah. Ini kami sangat berterimakasih," kata Haili Yoga.
Bantuan obat-obatan dan peralatan yang tiba segera memungkinkan RSUD Datu Beru Takengon untuk kembali mengaktifkan layanan cuci darah. Perawat ahli Diana Fitri mengkonfirmasi bahwa layanan telah kembali normal. Ini menunjukkan pentingnya koordinasi yang baik antara pemerintah daerah dan pusat dalam penanganan bencana dan dampaknya terhadap layanan publik esensial.
Meskipun stok obat saat ini mencukupi untuk sementara waktu, Gusnarwin mengakui bahwa kinerja rumah sakit di masa darurat bencana belum bisa maksimal. Tantangan logistik dan sumber daya manusia tetap menjadi perhatian. Diharapkan, solusi jangka panjang dapat ditemukan untuk memastikan keberlanjutan layanan kesehatan vital seperti cuci darah, terlepas dari kondisi darurat yang mungkin terjadi di masa mendatang.
Advertisement
Sumber: AntaraNews