Penulis Indonesia, Denny JA menyoroti pentingnya suara Asia, Afrika, dan Amerika Latin dalam peta sastra dunia. Hal itu dikatakan Denny JA saat menerima BRICS Award for Literary Innovation 2025.
Denny JA menerima penghargaan BRICS Award for Literary Innovation 2025 setelah dinilai kreator membawa perspektif baru dan terobosan konseptual dalam dunia sastra global.
Menurut Denny JA, penghargaan tersebut bukan hanya bentuk apresiasi terhadap karya peribadinya, tetapi juga pengakuan atas kekuatan narasi Global South, wilayah yang selama ini jarang terdengar dalam kanon sastra arus utama. Padahal dikatakan Denny JA, manusia tidak bernapas dari satu paru-paru saja.
"Kanon sastra global selama ini terlalu condong pada satu belahan dunia," kata Denny JA dalam pidatonya sebagaimana dikutip dari keterangan tertulis dikutip, Senin (1/12).
Advertisement
Layak Sejajar dengan Karya Dunia
Denny JA menekankan bahwa imajinasi manusia juga tumbuh dari sawah-sawah di Jawa, township di Johannesburg, favela di Rio de Janeiro, dan desa-desa kuno di sepanjang Sungai Yangtze dan Gangga.
Sementara di wilayah Global South, miliaran manusia hidup dengan sejarah yang penuh luka, keajaiban, dan paradoks.
"Suara-suara inilah yang layak berdiri sejajar dengan karya-karya terbesar dunia," kata dia.
Menurut Denny JA, penghargaan BRICS merupakan upaya menyalakan 'mercusuar baru' yang menyinari karya-karya yang selama ini menunggu untuk diakui. Dia juga menekankan bahwa inovasi dalam sastra bukan sekadar gaya artistik, tetapi kebutuhan moral zaman.
"Setiap generasi memerlukan bahasa baru untuk memahami dukanya, harapannya, dan kontradiksinya," tutur dia.
Dia menekankan, inovasi sastra adalah jembatan antara kebenaran yang kita rasakan dan kebenaran yang akhirnya kita berani ucapkan.
Denny JA menjelaskan penciptaan genre Puisi Esai lebih dari satu dekade lalu. Genre ini menggabungkan investigasi faktual dengan imajinasi liris, sehingga tragedi nyata dapat naik menjadi karya sastra.
"Bagaimana memberi suara pada luka sosial yang tak dapat ditampung angka statistik, tetapi tidak cukup pula jika hanya dengan puisi?" tanya dia.
Melalui genre ini, Denny JA menuturkan, isu seperti perundungan, utang digital, korupsi, ketidakadilan gender, dan pergulatan hidup masyarakat biasa menjadi kisah yang bukan hanya didengar, tetapi juga dirasakan.
"Di sini, fakta tidak lagi dingin; emosi tidak lagi terisolasi. Penderitaan yang dialami menjadi makna bersama, dan karenanya, menjadi kemanusiaan bersama,” kata Denny JA.
Denny JA memberi pesan bagi penulis muda di Asia, Afrika, dan Amerika Latin bahwa jika sastra mampu melakukan satu hal, biarkan mengingatkan kita bahwa setiap luka adalah pintu, dan setiap cerita adalah jembatan.
Denny JA juga mengajak generasi baru penulis untuk tidak meremehkan suara mereka. “Realitasmu penting. Imajinasi kalian bukan catatan kaki dalam sastra dunia, tetapi masa depannya," tutup Denny JA.
BRICS Literature Award merupakan penghargaan internasional yang menyeleksi karya dari negara-negara BRICS dan wilayah Global South, dengan fokus pada inovasi bentuk, nilai budaya, dan kontribusi terhadap lanskap sastra global. Tahun ini, Indonesia meraih penghargaan khusus untuk inovasi sastra melalui karya-karya dan gagasan Denny JA.