Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) secara serius mengintensifkan operasi pencarian dan pertolongan (SAR) bagi para korban yang terdampak bencana banjir dan tanah longsor di wilayah Sumatera Utara. Fokus utama operasi ini mencakup Kota Sibolga dan Tapanuli Raya, seiring dengan laporan meluasnya titik-titik bencana dan bertambahnya jumlah warga yang dilaporkan hilang. Peningkatan intensitas ini menjadi respons cepat atas kondisi darurat yang terjadi di lapangan.
Kepala Kantor SAR Nias, Putu Arga Sudjarwadi, mengonfirmasi bahwa tim SAR gabungan telah dikerahkan secara penuh selama 24 jam terakhir. Mereka menyebar ke seluruh titik prioritas untuk melakukan evakuasi warga yang terjebak banjir atau tertimbun material longsor. Operasi ini merupakan upaya berkelanjutan untuk memastikan semua korban dapat ditemukan dan diberikan pertolongan secepat mungkin.
Pengerahan tim gabungan ini melibatkan berbagai unsur, termasuk Pos SAR Sibolga, TNI/Polri, BPBD, Polairud, serta relawan dari Sumatera Utara. Setiap tim dilengkapi dengan peralatan lengkap dan profesional, seperti armada kendaraan SAR darat dan air, peralatan medis, alat komunikasi, hingga drone thermal, guna mendukung efektivitas operasi pencarian korban bencana di area yang sulit dijangkau.
Advertisement
Advertisement
Fokus Operasi dan Tantangan Tim SAR
Tim SAR gabungan telah disebar di berbagai lokasi terdampak sejak hari kedua operasi SAR digelar, menunjukkan komitmen penuh dalam penanganan bencana. "Sudah disebar di beberapa titik pada hari kedua operasi SAR digelar,” ujar Putu Arga Sudjarwadi, menegaskan luasnya cakupan area pencarian. Pengerahan ini bertujuan untuk mempercepat proses evakuasi dan pencarian korban di seluruh wilayah terdampak banjir dan longsor.
Namun, operasi pencarian korban bencana ini tidak lepas dari berbagai tantangan serius yang dihadapi oleh petugas di lapangan. Putusnya akses jalan penghubung utama menjadi hambatan besar, mempersulit mobilitas tim dan penyaluran bantuan. Selain itu, tingginya gelombang air laut, padamnya jaringan listrik, serta gangguan pada jaringan telekomunikasi semakin memperparah kondisi, menghambat koordinasi dan komunikasi antar tim.
Meskipun demikian, Basarnas menegaskan bahwa upaya pencarian tetap dilakukan dengan memprioritaskan keselamatan petugas. “Upaya pencarian tetap dilakukan dengan menyesuaikan kondisi keselamatan petugas,” cetus Putu, menggarisbawahi pentingnya mitigasi risiko bagi tim di tengah kondisi ekstrem. Kondisi ini menuntut strategi dan adaptasi yang cepat agar operasi pencarian korban bencana dapat berjalan efektif dan aman.
Advertisement
Advertisement
Data Korban dan Wilayah Terdampak Bencana
Basarnas mengonfirmasi bahwa data dari pusat pengendalian operasi menunjukkan dampak signifikan banjir bandang dan tanah longsor pada sejumlah wilayah di Kabupaten Tapanuli Tengah. Area yang terdampak meliputi Kecamatan Badiri, Pinangsori, Lumut, Sarudik, Tukka, Pandan, Sibabangun, Tapian Nauli, dan Kolang. Data ini menjadi dasar utama dalam menentukan prioritas area pencarian korban bencana.
Data sementara mencatat lebih dari 1.902 keluarga menjadi korban bencana di Tapanuli Tengah, dengan jumlah korban terbanyak berada di Kecamatan Kolang, mencapai 1.261 keluarga. Tragedi juga menimpa satu keluarga yang berjumlah empat orang, dinyatakan meninggal dunia akibat tertimbun longsor. "Satu keluarga berjumlah empat orang dinyatakan meninggal dunia akibat tertimbun longsor," kata Putu, menggambarkan keparahan dampak bencana.
Di Tapanuli Selatan, banjir bandang dan longsor melanda wilayah Aek Ngadol, Hutagodang, Garoga, Batuhoring, dan Hapesong Baru, yang berada dalam administrasi Kecamatan Batang Toru. Basarnas mencatat enam warga meninggal akibat banjir bandang dan tujuh warga terdampak longsor di Parsariran, Hapesong Baru. Sementara itu, di Kota Sibolga, mayoritas korban berada di Kecamatan Sibolga Selatan, dengan delapan orang meninggal dunia dan 21 orang dilaporkan hilang, menambah daftar panjang pencarian korban bencana.
Advertisement
Advertisement
Lokasi Pengungsian dan Penanganan Korban
Untuk menampung para korban yang terdampak, Basarnas bersama instansi terkait telah menyiapkan sedikitnya tiga lokasi pengungsian utama. Lokasi-lokasi ini dirancang untuk memberikan tempat berlindung sementara serta fasilitas dasar bagi warga yang kehilangan tempat tinggal atau harus dievakuasi dari zona bahaya. Penyiapan lokasi pengungsian ini merupakan bagian integral dari upaya penanganan korban bencana.
Lokasi pengungsian tersebut antara lain GOR Pandan di Tapanuli Tengah, yang menjadi pusat penampungan bagi warga dari berbagai kecamatan terdampak. Di Kota Sibolga, gedung SMPN 5 Parombunan difungsikan sebagai tempat evakuasi. Sementara itu, untuk wilayah Tapanuli Selatan, RS Bhayangkara Batang Toru dan lokasi pengungsian desa setempat disiapkan untuk menampung korban, khususnya yang membutuhkan penanganan medis. Upaya ini memastikan bahwa korban pencarian korban bencana yang berhasil dievakuasi mendapatkan tempat yang layak.
Sumber: AntaraNews
Advertisement