Hadiri Apel Srawung Agung di Yogyakarta, Kapolri: Polri Perlu Bersama-sama Menjaga Keteraturan Sosial

Sultan HB X menerangkan Jaga Warga terbentuk antara dua hingga tiga tahun yang lalu. Jaga Warga, kata Sultan HB X saat ini sudah ada di seluruh Kalurahan DIY.

Purnomo Edi
Oleh Purnomo Edi - Reporter
Hadiri Apel Srawung Agung di Yogyakarta, Kapolri: Polri Perlu Bersama-sama Menjaga Keteraturan Sosial
Hadiri Apel Srawung Agung di Yogyakarta, Kapolri: Polri Perlu Bersama-sama Menjaga Keteraturan Sosial (Merdeka.com)

Apel Srawung Agung Kelompok Jaga Warga untuk Jogja Damai digelar di halaman Mapolda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jumat (21/11). Apel Srawung Agung ini dihadiri oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Gubernur DIY Sri Sultan HB X.

Sultan HB X menerangkan Jaga Warga terbentuk antara dua hingga tiga tahun yang lalu. Jaga Warga, kata Sultan HB X saat ini sudah ada di seluruh Kalurahan di DIY.

Sultan HB X menuturkan, tahun depan Jaga Warga akan diluaskan cakupannya hingga ke tingkat padukuhan. Nantinya disetiap padukuhan di DIY akan ada Jaga Warga.

"Jaga Warga kalau saya menerjemahkan seperti civil police. Seperti dalam undang-undang. Bagaimana mereka (Jaga Warga) membantu, bersama dengan kepolisian untuk bisa menjaga dimasing-masing wilayah itu agar tetap aman, nyaman. Kira-kira itu tujuannya," kata Sultan HB X.

Sultan HB X menilai untuk menjaga keamanan dan ketentraman di masyarakat maupun lingkungan, tidak mungkin hanya mengandalkan pihak kepolisian. Diperlukan peran masyarakat untuk membantu mewujudkan keamanan dan ketentraman lingkungan.

"Tidak mungkin semua harus dari kepolisian sehingga ini merupakan partisipasi masyarakat. Tidak sekadar hanya aturan tapi masyarakat juga ambil peran sebagai subyek dalam menjaga rasa aman dan nyaman di masyarakat," ucap Raja Keraton Yogyakarta ini.

Simbolisasi Keterlibatan Masyarakat

Sementara itu Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyebut kegiatan Apel Srawung Agung Jaga Warga ini menjadi simbolisasi keterlibatan masyarakat dalam tatanan sosial dan keteraturan sosial.

"Saya kira ini adalah warisan kebudayaan dari kearifan lokal masyarakat yang sudah ada sejak dulu. Alhamdulilah oleh Ngarsa Dalem (Sultan HB X) terus dikembangkan dan ditumbuhkan," tutur Listyo.

Jenderal bintang empat ini mengakui untuk menjaga keteraturan sosial, tidak bisa hanya dilakukan Polri sendirian. Diperlukan juga peran dan partisipasi masyarakat untuk menjaga keteraturan sosial.

"Polri tidak mungkin bekerja sendiri. Polri perlu bersama-sama masyarakat dalam menjaga keteraturan-keteraturan sosial dengan menghormati kearifan lokal. Ini kadangkala jauh lebih bisa menyelesaikan masalah," tutup Listyo. 

Rekomendasi