Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenbud) menegaskan komitmennya untuk terus melanjutkan penyelenggaraan “Panggung Maestro”. Gelaran ini dinilai mampu menjadi penyemangat bagi para maestro seni dan budaya di Indonesia untuk secara konsisten menunjukkan karya-karya mereka.
Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan dan Pembinaan Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan, Ahmad Mahendra, mengungkapkan hal ini. Pernyataan tersebut disampaikan dalam diskusi terkait rencana gelaran Panggung Maestro kesembilan yang akan datang.
Pihaknya berkomitmen untuk menghadirkan acara ini secara berkelanjutan sebagai bentuk apresiasi mendalam atas kontribusi signifikan para maestro seni dan budaya di tanah air. Komitmen ini diharapkan dapat menjaga semangat dan kreativitas para seniman.
Advertisement
Advertisement
Komitmen Keberlanjutan Panggung Maestro Berkelanjutan
Ahmad Mahendra secara tegas menyatakan bahwa Panggung Maestro akan terus diupayakan untuk berlanjut. Menurutnya, inisiatif ini sangat penting untuk menjaga keberlangsungan dan semangat para seniman tradisi di Indonesia.
“Insya Allah saya tetap berkomitmen untuk diteruskan. Jadi kami ingin sekali ini tetap terus,” jelas Mahendra, menekankan tekad Kemenbud.
Meskipun mengakui adanya pertimbangan anggaran dan efisiensi, Mahendra optimis bahwa Panggung Maestro dapat terus berjalan. Pihaknya akan terus mencari cara agar acara apresiasi budaya ini dapat terlaksana secara konsisten.
Advertisement
Komitmen ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mendukung dan melestarikan seni tradisi. Panggung Maestro diharapkan menjadi wadah inspiratif bagi generasi muda untuk mengenal dan mencintai warisan budaya bangsa.
Advertisement
Usulan Ekspansi Lokasi dan Efisiensi Gelaran
Selain komitmen keberlanjutan, muncul usulan menarik mengenai lokasi penyelenggaraan Panggung Maestro. Beberapa pihak mengusulkan agar gelaran ini dapat dihadirkan di wilayah asal atau kelahiran para maestro.
Menanggapi usulan tersebut, Mahendra menyatakan akan membicarakan hal ini lebih lanjut dengan timnya. Ia melihat usulan tersebut sebagai ide yang baik dan berpotensi meningkatkan efisiensi penyelenggaraan acara.
“Kalau bisa dijalankan, mungkin setiap pertunjukan jadi lebih efisien. Saya tidak tahu. Itu nanti kita diskusi selanjutnya,” ujar Mahendra, menunjukkan keterbukaan terhadap inovasi.
Advertisement
Potensi efisiensi ini bisa didapat dari pengurangan biaya transportasi dan akomodasi. Selain itu, penyelenggaraan di daerah asal maestro juga dapat memperkuat ikatan budaya lokal dan menjangkau audiens yang lebih luas.
Advertisement
Sorotan Panggung Maestro IX dan Para Maestro Nusantara
Panggung Maestro pertama kali diselenggarakan pada bulan Juli 2023, menandai dimulainya inisiatif penting ini. Edisi kesembilan dari Panggung Maestro dijadwalkan akan berlangsung pada 28-29 Oktober 2025 di Museum Nasional Indonesia.
Gelaran ini merupakan hasil kolaborasi antara Yayasan Bali Purnati, Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kemenbud, Museum Cagar Budaya, dan Museum Nasional Indonesia. Kolaborasi ini menunjukkan sinergi berbagai pihak dalam melestarikan budaya.
Panggung Maestro kesembilan akan menghadirkan maestro seni tradisi dari Bali dan Sumatera Barat. Dari Bali, akan tampil tari Gambuh Batuan yang dipersembahkan oleh maestro I Made Djimat (83 tahun), I Wayan Bawa (60 tahun), serta Ni Wayan Sekarini (61 tahun).
Advertisement
Sementara itu, dari Sumatera Barat, akan hadir kesenian sakral Gondang Baroguang dengan maestro Asmar (82 tahun). Ada pula maestro tari piring dan suluah dari Solok, Asnimar (82 tahun), maestro Dendang Ernawati atau Tek E (66 tahun), maestro saluang M. Halim atau Mak Lenggang (63 tahun), dan maestro tari buai-buai Masri (71 tahun).
Sumber: AntaraNews