Tragis! Relokasi Pedagang Pasar Barito Diwarnai Kericuhan dan Kematian Hewan, Legislator DKI Menyayangkan

Relokasi Pedagang Pasar Barito oleh Pemprov DKI Jakarta menuai kritik tajam dari DPRD DKI, diwarnai kekerasan dan kematian hewan. Apa yang sebenarnya terjadi?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tragis! Relokasi Pedagang Pasar Barito Diwarnai Kericuhan dan Kematian Hewan, Legislator DKI Menyayangkan
Relokasi Pedagang Pasar Barito oleh Pemprov DKI Jakarta menuai kritik tajam dari DPRD DKI, diwarnai kekerasan dan kematian hewan. Apa yang sebenarnya terjadi? (AntaraNews)

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta, August Hamonangan, mengungkapkan kekecewaannya. Ia menyayangkan tindakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta merelokasi pedagang Pasar Burung Barito. Relokasi ini dilakukan secara paksa dan dilaporkan disertai kekerasan.

Peristiwa ini terjadi pada Senin, 27 Oktober, ketika Pemprov DKI Jakarta melakukan penertiban. Kericuhan tak terhindarkan antara pedagang dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Gesekan tersebut bahkan mengakibatkan matinya sejumlah hewan peliharaan milik pedagang.

August Hamonangan menyoroti bahwa Pemprov DKI telah menghilangkan salah satu ikon penting Jakarta Selatan. Hal ini terjadi demi pembangunan Taman Bendera Pusaka di lokasi Taman Langsat. Kebijakan ini berujung pada relokasi paksa pedagang dari Pasar Burung Barito.

Kritik Tajam dari DPRD DKI Jakarta

August Hamonangan menegaskan bahwa relokasi pedagang Pasar Barito seharusnya tidak perlu terjadi. Ia berpendapat bahwa pasar beserta pedagangnya bisa diintegrasikan sebagai bagian dari taman yang akan dibangun. Solusi kompromi seharusnya menjadi prioritas utama.

Legislator tersebut menyesalkan sikap Pemprov DKI Jakarta yang dianggap memaksakan ambisinya. Pembangunan Taman Bendera Pusaka dinilai mengabaikan aspirasi para pedagang. Komunikasi dan kompromi dengan pedagang terkait situasi di lapangan juga minim.

"Dalam prosesnya selama ini, Pemprov DKI juga terbukti telah berkali-kali menolak untuk berbicara dengan akal sehat menemukan titik tengah dari permasalahannya dengan para pedagang," kata August. Pernyataan ini menunjukkan adanya kebuntuan dialog antara kedua belah pihak. Pedagang merasa tidak didengarkan dalam proses relokasi ini.

Klaim Humanis dari Gubernur DKI Jakarta

Berbeda dengan pandangan DPRD, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo memberikan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa penertiban Pasar Barito dilakukan secara humanis. Proses ini telah mengikuti prosedur dengan pemberian SP1, SP2, dan SP3.

"Pelaksanaan pembersihan (dilakukan) karena sudah diberikan SP1, SP2, SP3 dan kami sangat humanis, manusiawi sekali," ujar Pramono. Ia menambahkan bahwa pelaksanaan di lapangan berjalan baik. Hal ini disampaikan pada Senin (27/10) pagi.

Pramono juga menjelaskan bahwa barang-barang pedagang yang belum sempat diambil telah disimpan. Barang-barang tersebut dapat diambil kapan saja oleh pemiliknya. Ini menunjukkan upaya Pemprov untuk meminimalkan kerugian pedagang.

Saat ini, para pedagang Pasar Barito telah disediakan lokasi baru. Mereka dapat menempati Sentra Fauna Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Relokasi ini diharapkan memberikan tempat usaha yang lebih layak bagi pedagang.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi