Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI), Tulus Abadi, menegaskan pentingnya pengembalian fungsi area publik jika tiang-tiang monorel yang mangkrak di Jalan Rasuna Said dibongkar. Usulan ini disampaikan sebagai respons terhadap rencana pembongkaran infrastruktur yang telah lama terbengkalai tersebut. Tulus Abadi menekankan bahwa area tersebut harus dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan masyarakat luas.
Menurut Tulus, area bekas tiang monorel mangkrak tersebut idealnya digunakan untuk perluasan pedestrian atau ruang terbuka hijau (RTH) seperti taman kota. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan pejalan kaki dan menyediakan fasilitas publik yang bermanfaat. Saran ini juga mempertimbangkan keberadaan transportasi massal yang sudah beroperasi di ruas jalan tersebut.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, sebelumnya telah menargetkan pembersihan tiang monorel yang mangkrak di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, hingga Jalan Asia Afrika, rampung pada tahun 2026. Rencana pembongkaran ini diharapkan dapat dimulai pada Januari 2026, setelah diskusi dengan pihak terkait. Upaya ini merupakan bagian dari penataan kota untuk menciptakan lingkungan yang lebih rapi dan estetis.
Advertisement
Advertisement
Prioritas Pengembalian Fungsi Area Publik
FKBI secara tegas menyarankan agar tiang-tiang monorel mangkrak tidak dibongkar untuk dijadikan perluasan jalan raya bagi kendaraan pribadi. Tulus Abadi beralasan bahwa Jalan Rasuna Said sudah dilayani oleh angkutan massal, yakni Transjakarta dan LRT Jabodebek. Penguatan akses pedestrian justru akan lebih mendukung fungsi kedua moda transportasi tersebut.
"Fungsi LRT Jabodebek dan Transjakarta harus diperkuat dengan akses pedestrian," kata Tulus. Dia menambahkan bahwa jika area tersebut digunakan untuk perluasan jalan, maka dampaknya Jalan Rasuna Said akan makin macet, dan fungsi Transjakarta serta LRT Jabodebek menjadi kurang optimal. Oleh karena itu, pengembalian ke fungsi area publik menjadi prioritas.
Usulan ini mencerminkan pandangan bahwa pembangunan infrastruktur harus berorientasi pada peningkatan kualitas hidup perkotaan dan keberlanjutan lingkungan. Dengan memperluas pedestrian atau menciptakan ruang hijau, Jakarta dapat menjadi kota yang lebih ramah bagi pejalan kaki dan lingkungan. Hal ini juga sejalan dengan upaya mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi.
Advertisement
Advertisement
Target Pembongkaran dan Upaya Gubernur DKI
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, telah menyatakan komitmennya untuk membersihkan tiang monorel mangkrak yang dinilainya mengganggu keindahan ibu kota. Target penyelesaian pembongkaran ini ditetapkan pada tahun 2026, dengan harapan dapat dimulai pada awal tahun tersebut. Pramono telah berdiskusi dengan pihak PT Adhi Karya mengenai rencana ini.
“Untuk monorel, tentunya kami sudah berbicara dengan Adhi Karya, tetapi nanti apa hasil pembicaraannya, silakan tanyakan kepada Adhi Karya. Tetapi, kami sudah merencanakan. Mudah-mudahan Januari segera bisa kita mulai dan tahun 2026 bisa selesai,” tutur Pramono. Pernyataan ini menunjukkan keseriusan pemerintah provinsi dalam menuntaskan masalah infrastruktur terbengkalai.
Untuk mewujudkan tekadnya, Pramono Anung Wibowo juga telah menempuh berbagai cara, termasuk berkonsultasi dengan Kejaksaan Tinggi Jakarta serta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Langkah ini menunjukkan pendekatan komprehensif untuk memastikan proses pembongkaran berjalan lancar dan sesuai aturan. Setelah tiang-tiang dibersihkan, ia berharap Jakarta, khususnya daerah Rasuna Said, menjadi lebih baik dan rapi.
Advertisement
Advertisement
Optimalisasi Transportasi Massal dan Perbaikan Kota
Pembersihan tiang monorel mangkrak dan pengembalian fungsinya sebagai area publik akan berdampak positif pada optimalisasi transportasi massal. Dengan pedestrian yang lebih luas dan nyaman, aksesibilitas menuju halte Transjakarta dan stasiun LRT Jabodebek akan meningkat. Ini akan mendorong lebih banyak warga untuk menggunakan angkutan umum, mengurangi volume kendaraan pribadi.
Pramono Anung Wibowo juga menegaskan bahwa upaya perbaikan dan penataan kota tidak hanya terfokus pada kawasan Jakarta Pusat. Daerah-daerah lain di Jakarta juga menjadi perhatian, termasuk kolong-kolong jalan tol dan area di bawahnya. "Sekarang di daerah-daerah, kalau dilihat, termasuk ketika tadi datang ke tempat ini (Jakarta Timur), kolong-kolong jalan tol, kemudian di bawahnya, saya sudah minta untuk dilakukan perbaikan, termasuk dibuatkan grafiti, mural, taman-taman yang ada,” jelas Pramono.
Inisiatif ini menunjukkan visi pemerintah daerah untuk menciptakan lingkungan kota yang lebih bersih, hijau, dan fungsional di seluruh wilayah Jakarta. Dengan mengintegrasikan ruang publik dengan sistem transportasi, diharapkan kualitas hidup warga dapat meningkat secara signifikan. Hal ini juga menjadi sinyal kuat komitmen terhadap pengembangan kota yang berkelanjutan.
Advertisement
Sumber: AntaraNews