106 SPPG Ditutup, Kepala BGN Ungkap Penyebab Keracunan MBG di KBB bikin Ribuan Siswa Tumbang

Itu karena kelalaian teknis seperti operasional yang dilakukan tidak sesuai aturan.

Robby Bouceu
Oleh Robby Bouceu - Reporter
106 SPPG Ditutup, Kepala BGN Ungkap Penyebab Keracunan MBG di KBB bikin Ribuan Siswa Tumbang
106 SPPG Ditutup, Kepala BGN Ungkap Penyebab Keracunan MBG di KBB bikin Ribuan Siswa Tumbang (Merdeka.com)

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengungkap penyebab maraknya kasus dugaan keracunan massal yang terjadi di sejumlah kecamatan di wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB). Itu karena kelalaian teknis seperti operasional yang dilakukan tidak sesuai aturan.

"Saya melihat yang di Bandung Barat, semuanya itu kesalahan teknis. Semua tidak taat aturan SOP, lebih banyak ke arah situ," kata Dadan dijumpai wartawan usai menghadiri wisuda 521 sarjana Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI) di Trans Convention Centre, Bandung, Sabtu (18/10).

Seperti diketahui, kasus dugaan keracunan MBG terjadi di beberapa wilayah di KBB. Pada 22-25 September 2025, peristiwa tersebut dialami oleh pelajar mulai jenjang PAUD hingga SMA, guru, dan ibu menyusui di Kecamatan Cipongkor dan Cihampelas. Sedikitnya ada 1315 pasien terdata mengalami gejala pusing, mual, muntah, hingga sesak napas oleh dinas kesehatan setempat pada periode tersebut.

Pada 14-15 Oktober 2025, peristiwa serupa juga terjadi di wilayah kecamatan Cisarua, KBB. Sedikitnya ada lebih dari 500 siswa jenjang SD hingga SMA, yang terdata sebagai pasien.

Terkait ini, Dadan mengatakan pihaknya tak menemukan adanya dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) fiktif. Ia kembali menegaskan sejumlah kasus disebabkan oleh kesalahan teknis di lapangan.

"Kalau fiktif enggak ada,tapi kalau kesalahan teknis, masak harusnya jam 01.00, sudah masak jam 21.00. Yang terakhir kemarin itu bahan bakunya kurang baik dan juga kesalahan teknis di dalam menyiapkan yang harusnya untuk jam 12 siang, dia sudah kemas untuk yang pagi, sehingga terlalu cepat ditutup," ungkapnya.

Dikirim Lebih Awal

Menurut Dadan, makanan yang dikirim lebih awal itu akhirnya rusak sebelum tiba di sekolah.

"Iya, murni basi," tegasnya.

Atas temuan tersebut, BGN pun telah melakukan evaluasi. Dadan menyebut, 106 dapur SPPG di seluruh Indonesia telah ditutup sementara karena kelalaian serupa. Dari jumlah itu, baru 12 dapur yang dinyatakan laik beroperasi kembali setelah dilakukan pembinaan dan pemeriksaan ulang.

"Itu jadi bahan evaluasi saya. Oleh sebab itu, SPPG yang lalai seperti itu ditutup sementara untuk perbaikan," kata Dadan.

Rekomendasi