Founder SANA Kenal Kota, Abimantra Pradhana, mengungkapkan fakta menarik tentang sejarah tata kota Jakarta. Kawasan Monas dan Menteng, meski berdekatan, memiliki rentang waktu pengembangan yang sangat jauh. Perbedaan ini mencapai sekitar 100 tahun antara kedua wilayah strategis tersebut.
Perbedaan signifikan ini terjadi karena Weltevreden, cikal bakal Monas, dibangun pada awal 1800-an setelah kebangkrutan VOC. Sementara itu, Menteng baru mulai dikembangkan pada tahun 1910-an. Hal ini mencerminkan evolusi perencanaan kota di era kolonial Belanda.
Abimantra menjelaskan perbedaan ini saat memandu tur jalan kaki di Jalan Sabang, Jakarta Pusat. Wilayah ini menjadi perbatasan antara Weltevreden dan Menteng. Penjelasan ini memberikan gambaran mendalam tentang bagaimana Jakarta terbentuk.
Advertisement
Advertisement
Weltevreden: Cikal Bakal Monas di Era Daendels
Pengembangan kawasan Weltevreden dimulai pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels. Daendels menjabat antara tahun 1806 hingga 1811 dan dikenal sebagai tokoh penting. Ia juga menginisiasi pembangunan Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan yang legendaris.
Weltevreden dibangun pada awal 1800-an, tepat setelah Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) mengalami kebangkrutan. Pembangunan ini menjadi langkah awal dalam penataan kota Batavia. Kawasan ini kemudian berkembang menjadi pusat pemerintahan dan aktivitas penting.
Pada masa itu, arsitektur bangunan didominasi oleh insinyur militer, menghasilkan desain yang cenderung seragam. Contohnya adalah Museum Nasional dan Istana Merdeka yang dibangun dengan ciri khas serupa. Ini menunjukkan pendekatan pragmatis dalam pembangunan infrastruktur.
Advertisement
Advertisement
Menteng: Kota Taman Modern Rancangan P.A.J. Mooijen
Seabad setelah Weltevreden, pada awal 1900-an, populasi Jakarta melonjak drastis. Peningkatan ini terjadi setelah dibukanya Pelabuhan Tanjung Priok dan liberalisasi ekonomi di era Politik Etis. Jumlah penduduk meningkat dari sekitar 75.000 menjadi 150.000 jiwa.
Lonjakan populasi ini mendorong pemerintah kolonial Belanda untuk memperluas area permukiman baru. Keputusan ini mengarah pada pengembangan kawasan Menteng, yang dimulai pada tahun 1910. Perencanaan Menteng dipercayakan kepada arsitek dan seniman Belanda, P.A.J. Mooijen.
Mooijen merancang Menteng sebagai kota taman modern dengan banyak ruang hijau dan perumahan berpekarangan luas. Tahap pertama pembangunan (1910-1918) dinilai kurang efisien oleh Belanda karena terlalu banyak "space" yang terbuang. Desain artistik Mooijen menciptakan jalan hingga simpang tujuh dengan lahan taman yang besar.
Advertisement
Tahap kedua pembangunan Menteng (1918-1930) lebih terstruktur, berpusat di area Taman Surapati atau Bappenas. Taman-taman dirancang lebih kecil dan batas kawasannya dilengkapi kanal. Perubahan ini menunjukkan adaptasi dalam perencanaan tata kota untuk efisiensi.
Advertisement
Menteng sebagai Laboratorium Arsitektur Era Modern
Sebelum tahun 1900, arsitek Belanda di Hindia Belanda umumnya belum menempuh pendidikan arsitektur formal. Bangunan-bangunan penting seperti Museum Nasional dan Istana Merdeka dibangun oleh insinyur militer. Desainnya cenderung mirip satu sama lain, mencerminkan fungsionalitas.
Perubahan signifikan terjadi pada awal abad ke-20 dengan munculnya generasi arsitek lulusan Belanda. P.A.J. Mooijen adalah salah satu tokoh penting dari generasi ini. Mereka membawa pendekatan baru dalam desain bangunan dan tata kota.
Menurut Abimantra, Menteng menjadi "laboratorium arsitektur" bagi para arsitek Belanda. Di sana, mereka bereksperimen dengan desain-desain bangunan baru yang dikenal sebagai "New Indies Style". Gaya ini menandai masuknya era modern dalam arsitektur kolonial.
Advertisement
Eksperimen di Menteng menghasilkan inovasi dalam tata ruang dan estetika bangunan. Kawasan ini menjadi bukti nyata perkembangan arsitektur di Jakarta. Desain-desain ini memberikan identitas unik pada Menteng hingga saat ini.
Sumber: AntaraNews