Mati Tan Tumut Pejah: Peringatan Puputan Badung ke-119 Momentum Kebangkitan Pasca Bencana di Denpasar

Peringatan Puputan Badung ke-119 di Denpasar menjadi simbol kebangkitan setelah bencana, menginspirasi semangat 'Mati Tan Tumut Pejah' untuk pulih dan membangun.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Mati Tan Tumut Pejah: Peringatan Puputan Badung ke-119 Momentum Kebangkitan Pasca Bencana di Denpasar
Peringatan Puputan Badung ke-119 di Denpasar menjadi simbol kebangkitan setelah bencana, menginspirasi semangat 'Mati Tan Tumut Pejah' untuk pulih dan membangun. (Merdeka.com)

Denpasar, Bali – Peringatan Ke-119 Puputan Badung di Kota Denpasar, Bali, pada Sabtu lalu, menjadi penanda penting bagi masyarakat. Momen bersejarah ini dimaknai sebagai momentum kebangkitan kolektif setelah serangkaian bencana yang melanda wilayah tersebut. Semangat perjuangan para pahlawan terdahulu diharapkan mampu membangkitkan optimisme warga.

Wakil Wali Kota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa menegaskan bahwa Puputan Badung didasari oleh peristiwa heroik. Rakyat Bali, khususnya dari Kerajaan Badung, berjuang hingga titik darah penghabisan melawan penjajah Belanda. Peristiwa ini menunjukkan dedikasi tinggi dalam menjaga setiap jengkal tanah kelahiran.

Oleh karena itu, peringatan ini bukan sekadar seremoni mengenang masa lalu, melainkan ajakan untuk mengimplementasikan nilai-nilai kepahlawanan. Generasi muda diharapkan dapat menjadikannya inspirasi dalam mengisi pembangunan daerah. Spirit ini sangat relevan di tengah upaya pemulihan pasca-bencana.

Semangat Heroik dan Nilai-Nilai Puputan Badung

Peristiwa 20 September 1906 menjadi bukti nyata keberanian dan idealisme tinggi Raja Badung, I Gusti Ngurah Made Agung, beserta seluruh rakyatnya. Mereka tidak gentar menghadapi kekuatan kolonial Belanda, menunjukkan semangat perlawanan yang luar biasa. Ini adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah bangsa yang besar.

I Kadek Agus Arya Wibawa mengingatkan, "Puputan Badung yang diperingati saat ini didasari oleh peristiwa heroik Rakyat Bali, terutama dari Kerajaan Badung yang bertempur sampai titik darah penghabisan atau puputan melawan penjajah Belanda." Pernyataan ini menegaskan kembali betapa pentingnya mengenang jasa para pendahulu.

Dalam Perang Puputan Badung, terdapat sebuah bisama atau filosofi luhur, yakni Mati Tan Tumut Pejah. Frasa ini bermakna mati di medan perang, namun perjuangan tidak pernah mati atau padam. Filosofi inilah yang kemudian menjadi landasan motto Pemerintah Kota Denpasar, Pura Dhipa Bara Bhavana, yang menekankan kemakmuran masyarakat.

Penglingsir Puri se-Kota Denpasar, A.A Ngurah Ketut Parwa, turut mengajak seluruh masyarakat untuk tidak sekali-kali melupakan sejarah. Ia menekankan bahwa para raja, pahlawan, dan pejuang terdahulu telah mempertahankan wilayah hingga titik darah penghabisan. Semangat ini harus terus diwarisi dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Inspirasi Kebangkitan Pasca-Bencana

Peringatan Puputan Badung ke-119 pada tahun 2025 ini memiliki relevansi kuat dengan kondisi terkini Kota Denpasar. Kota ini sedang menghadapi tantangan berat pasca-bencana banjir yang menerjang beberapa waktu lalu. Kondisi ini membutuhkan semangat juang yang sama seperti yang ditunjukkan para pahlawan.

Arya Wibawa menyatakan bahwa spirit Puputan Badung dengan bisama Mati Tan Tumut Pejah menjadi momentum krusial. "Spirit Puputan Badung dengan bisama Mati Tan Tumut Pejah ini menjadi momentum terus bergerak untuk bangkit dan pulih pasca-bencana," ujarnya. Ini adalah seruan untuk tidak menyerah dan terus berupaya.

Nilai-nilai kepahlawanan para pejuang patut diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh seluruh lapisan masyarakat. Semangat pantang menyerah dan dedikasi tinggi menjadi kunci untuk mengatasi berbagai permasalahan. Terutama dalam proses pemulihan dan pembangunan kembali Denpasar yang lebih tangguh.

A.A Ngurah Ketut Parwa menambahkan, "Hendaknya spirit perjuangan para pendahulu kita dalam peristiwa Puputan Badung ini menjadi inspirasi, semangat serta tauladan dalam mengisi kemerdekaan saat ini." Pesan ini menggarisbawahi pentingnya menjadikan sejarah sebagai panduan masa depan.

Rangkaian Acara Peringatan yang Khidmat

Peringatan Ke-119 Puputan Badung berlangsung khidmat di Kawasan Lapangan Puputan Badung I Gusti Ngurah Made Agung Denpasar. Acara ini dikemas dalam perpaduan apel dengan Karya Mahabandana Puputan Badung bertajuk Mageh Ing Keraton. Suasana sakral terasa sepanjang upacara berlangsung.

Rangkaian peringatan diawali dengan pembacaan sejarah singkat Puputan Badung yang terjadi pada tahun 1906. Peperangan tersebut merupakan perlawanan sengit Rakyat Badung terhadap kolonialisme Belanda. Konflik ini dipicu oleh Hak Tawan Karang yang bertentangan dengan kepentingan Belanda kala itu.

Puncak acara ditandai dengan penancapan Keris Pusaka oleh Wakil Wali Kota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa. Ia didampingi oleh Panglingsir Puri se-Kota Denpasar, menambah kekhidmatan prosesi. Momen ini menjadi simbol pengukuhan kembali semangat perjuangan.

Seluruh rangkaian peristiwa heroik ini dikemas dalam sebuah garapan kolosal yang memukau. Garapan kolosal bertajuk Mageh Ing Keraton tersebut berhasil menghidupkan kembali narasi perjuangan. Pertunjukan ini diakhiri dengan penancapan pusaka Keris Puputan Badung, menutup peringatan dengan pesan mendalam.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi