Indonesia dan Bangladesh secara resmi memperkuat kemitraan strategis mereka dalam upaya menjamin pasokan energi dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Komitmen ini diumumkan dalam Pertemuan Komite Bersama Energi Indonesia-Bangladesh yang pertama di Yogyakarta pada Jumat, 23 Agustus 2024, menindaklanjuti nota kesepahaman yang telah ditandatangani pada September 2023. Pertemuan ini bertujuan untuk mengatasi tantangan ganda yang dihadapi kedua negara, yaitu memastikan keamanan energi sekaligus bertransisi menuju sistem yang lebih ramah lingkungan. Kedua negara sepakat untuk meningkatkan kolaborasi di berbagai sektor energi, mulai dari pasokan batu bara hingga pengembangan energi terbarukan dan sumber daya manusia.
Advertisement
Komitmen Bersama Menuju Keamanan Energi dan Transisi Berkelanjutan
Dadan Kusdiana, Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia, menjelaskan bahwa kedua negara menghadapi tantangan besar. Tantangan tersebut adalah memastikan keamanan energi dan pertumbuhan ekonomi domestik, sembari beralih ke sistem yang lebih berkelanjutan. Indonesia menegaskan kesiapannya untuk mendukung kebutuhan energi Bangladesh, khususnya dalam hal pasokan batu bara yang stabil dan terjangkau. Selain itu, Indonesia juga berkomitmen untuk mengembangkan teknologi batu bara bersih dan energi berkelanjutan.
Dengan kapasitas pembangkit listrik nasional mencapai 105 GW pada pertengahan 2025, di mana 15 persen di antaranya berbasis energi terbarukan, Indonesia optimis menjadi mitra strategis bagi Bangladesh. Indonesia juga membuka peluang kolaborasi dalam pengembangan sumber daya manusia di bidang energi. Dua politeknik di bawah Kementerian ESDM, yaitu Politeknik Energi dan Mineral Akamigas Cepu serta Politeknik Energi dan Pertambangan Bandung, siap mendukung peningkatan kapasitas tenaga kerja sektor energi di kedua negara.
Pertemuan ini tidak hanya mempererat persahabatan, tetapi juga meletakkan fondasi bagi kerja sama jangka panjang di sektor energi. Indonesia menyambut baik kesempatan untuk berkolaborasi dengan Bangladesh dalam pembangunan infrastruktur energi, pembangkit listrik baru, proyek minyak dan gas, serta inisiatif energi terbarukan. Melalui sinergi ini, kedua negara diyakini dapat memastikan keamanan energi, mendorong keberlanjutan, dan membawa manfaat bagi rakyat Indonesia dan Bangladesh.
Advertisement
Advertisement
Peluang Ekonomi dan Kolaborasi Infrastruktur
Pertumbuhan ekonomi pesat dan permintaan energi yang meningkat di Bangladesh menciptakan peluang kerja sama yang saling menguntungkan. Dadan Kusdiana menyatakan bahwa Indonesia dapat mendukung pembangunan Bangladesh, sekaligus membuka cakrawala baru bagi perusahaan Indonesia untuk berinvestasi dan berekspansi. Perdagangan bilateral antara kedua negara mencapai USD 2,94 miliar pada tahun 2024, menunjukkan potensi ekonomi yang signifikan. Ekspor batu bara Indonesia mendominasi dengan nilai USD 1,05 miliar, atau sekitar 13,2 juta ton.
Selain batu bara, Indonesia juga mengekspor minyak kelapa sawit, klinker, dan bahan kimia ke Bangladesh. Sebagai imbalannya, Indonesia mengimpor tekstil, produk tenun, dan alas kaki dari Bangladesh. Kemitraan ini mencerminkan hubungan ekonomi yang kuat dan saling melengkapi. Kolaborasi di sektor energi diharapkan dapat lebih mempererat ikatan ekonomi ini.
Fokus pada pembangunan infrastruktur energi menjadi salah satu pilar utama kemitraan ini. Indonesia menawarkan keahlian dan pengalamannya dalam membangun pembangkit listrik, mengembangkan proyek minyak dan gas, serta memajukan inisiatif energi terbarukan. Hal ini sejalan dengan kebutuhan Bangladesh yang terus meningkat seiring dengan ambisi pembangunan negaranya. Kerja sama ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem energi yang lebih kuat dan stabil bagi kedua belah pihak.
Advertisement
Advertisement
Ambisi Energi Bangladesh dan Peran Strategis Indonesia
Farzana Mamtaz, Sekretaris Divisi Ketenagalistrikan Bangladesh, mengungkapkan bahwa melalui pertemuan ini, Bangladesh berupaya memperdalam kerja sama di subsektor kelistrikan dan energi. Kedua subsektor tersebut sangat fundamental bagi pembangunan kedua negara. Saat ini, hampir seluruh populasi Bangladesh telah memiliki akses listrik, namun permintaan energi terus meningkat seiring dengan aspirasi menjadi negara maju. Hal ini membutuhkan inovasi domestik dan kemitraan internasional yang lebih kuat.
Dalam konteks ini, Indonesia dipandang sebagai mitra penting, negara yang kaya akan sumber daya energi dan keahlian teknologi, serta teman terpercaya di Asia. Bangladesh telah mengadopsi Kebijakan Energi Terbarukan 2025, yang menargetkan 20 persen energi terbarukan pada tahun 2030 dan 30 persen pada tahun 2040. Proyek-proyek seperti panel surya atap dan proyek angin pesisir berkembang pesat di Bangladesh.
Mamtaz berharap pengalaman dan teknologi Indonesia dapat mempercepat pencapaian target-target tersebut. Kemitraan ini akan memungkinkan Bangladesh untuk memanfaatkan sumber daya dan pengetahuan Indonesia dalam transisi energinya. Dengan demikian, kerja sama ini tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga mendukung tujuan keberlanjutan global.
Advertisement
Sumber: AntaraNews